Muar Wanyek, Tradisi Lisan Melayu Sambas dan Dayak Desa
(Sebuah Perbandingan)
By A. Alexander
Ketika kebudayaan bergerak ke suatu arah tertentu, maka jejak yang ditinggalkannya juga akan semakin banyak. Sayangnya tidak semua jejak yang tertinggal itu abadi dalam suatu bentuk fisik atau produk kebudayaan yang dapat diendus indra manusia maupun seorang peneliti. Nah, ketika gerakan tersebut terus merengsek maju-paling tidak dalam satu hukum waktu-perbedaan karena bentukan membuat sebuah ‘perahu’ kebudayaan yang diidentifikasi dengan istilah Melayu menjadi rupa atau wujud (sistem nilai, a way of life, idiologi, ikon dan lain sebagainya) yang berbeda ketika pertama kali ia bertolak dari sebuah pangkal budaya. Namun dari jejak, peninggalan, yang dapat telusuri dengan berbagai disiplin ilmu, niscaya masih tersisa situs yang dapat menjelaskan suatu titik persamaan maupun perbedaan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya dalam satu kawasan tertentu. Dalam hal ini, penulis tertarik untuk melakukan studi perbandingan antara sastra lisan Muar Wanyek yang dimiliki baik oleh masyarakat Sambas yang nota bene-nya sangat kental dengan kebudayaan Melayunya maupun masyarakat Dayak Desa di Kabupaten Sintang. Dimana sastra lisan juga merupakan symbol yang diproduksi oleh system nilai maupun budaya kedua kelompok masyarakat itu. Karena bentuk-bentuk simbolik disini dianggap sebagai media penyimpanan makna yang melalui symbol itu pula bisa dipahami suatu kelompok masyarakat atau blue pint bagi tingkah lakunya. 1)Dimana Muar Wanyek atau Muar Muanyik merupakan suatu pengetahuan asal (indigenous knowledge) yang diwariskan secara turun temurun secara lisan di kedua kultur masyarakat itu. Meskipun bahasa maupun system nilai yang berlaku dalam kedua masyarakat ini berbeda satu sama lain. Penelusuran seperti ini menurut hemat penulis penting untuk menelusuri hubungan bahasa Melayik yang sangat dekat hubungannya dengan bahasa Melayu di Kalimantan Barat bukanlah hanya sebuah keniscayaan. 2) Serta untuk membuktikan hipotesa bahwa sebenarnya bahasa Dayak dan melayu di Kalimantan berasal dari satu akar yang sama. Satu rahim budaya yang sama, satu asal usul, sebelum pada akhirnya menjadi bahasa seperti yang dipertuturkan sekarang ini. Tentunya setelah melalui berbagai peristiwa atau adaptasi-adaptasi juga evolusi serta revolusi bunyi, dialek, irama dan lain sebagainya yang kemudian disebut sebagai proses pembentukan bahasa. Dalam sastra lisan Muar Wanyek yang pewarisan dan penyebarannya dilakukan secara lisan pada masa itu dan kini nyaris punah dalam masyarakat Sambas bila dilihat dari tata cara dan fungsi memiliki kesamaan yang cukup besar dengan Muar Muanyik pada masyarakat Dayak Desa. Meskipun bahasa mantra yang dipergunakan berbeda. Istilah yang digunakan untuk menyebut setiap tahapan yang dilakukan seorang pengamboi atau penimang (pembaca mantra) saat Muar Wanyek tersebut juga tak sama. Namun demikian sebenarnya maknanya hampir sama. Berikut ini adalah beberapa contoh istilah dalam bahasa Dayak Desa dan Melayu Sambas yang istilahnya atau pengucapannya berbeda tetapi sebenarnya bermakna sama. Tabel 1Daftar Beberapa Istilah NO MELAYUSAMBAS DAYAK DESA KETERANGAN 1 Muar Muar Kegiatan mengambil madu2 Wanyek Muanyik Lebah2 Ngmboi Nimang Mantra menyanjungatau membuai lebah3 Pengamboi Penimang Pembaca Mantra4 Simpoani Lalau Tempat Lebah Bersarang, dll Jenis bahasa yang digunakan masyarakat Melayu sambas maupun Dayak Desa untuk Muar Wanyek ini juga sama-sama digolongkan dalam bahasa mantra. Di mana menurut Koentjaraningrat: 1981, mantra adalah bagian dari teknik ilmu gaib yang berupa kata-kata dan suara yang sering tidak berarti, tetapi dianggap berisi kesaktian atau kekuatan2) Bila dilihat dari Aspek linguistik maupun fonetik, Muar Wanyek baik dalam masyarakat Sambas maupun Dayak Desa memiliki pola seperti sebuah pantun. Yaitu memiliki pola akhir suku kata kata a-b-a-b seperti pada ciri-ciri sebuah pantun. Yaitu terdiri atas bait-bait, setiap bait berisi empat baris dari setiap bait terdiri atas dua baris sampiran dan dua baris isi, pada setiap bait mempunyai rima dan irama. Walau pun pada ritus Muar Wanyek ditemukan ada satu bait hanya dua baris isi. Misalnya seperti pada mantra naik ke pohon dalam masyarakat Sambas: “Bukan kacang sembarang kacangKacang melilit di tappi mentareBukan datang sembarang datangDatang nambusek sanak saudare” Atau pada mantra naik ke pohon pada Masyarakat Dayak Desa: “minta bawang barang sikit ngau mumbu jelu seribu bulu kunci lawang barang semenit ngelalu pintu inak mantu Dalam bahasa Sambas ada penamaan khusus untuk mantra kegiatan Muar Wanyek yaitu mantra ngamboi yang di dalam bahasa Dayak Desa disebut nimang. Artinya kedua istilah dari dua masyarakat ini sama yaitu menyanjung agar terlena atau terbuai; membujuk. Jika dalam masyarakat Sambas pembaca mantra disebut pengamboi maka oleh masyarakat Dayak Desa pemantra itu disebut tukang timang atau penimang. Muar Wanyek atau Muar Muayik terbentuk dari dua kata, yakni kata Muar yang menurut Harianto berarti mengambil; membongkar; mengeluarkan, dan kata Wanyek atau Muayik berarti lebah (untuk diambil madunya). Jadi Muar Muanyik adalah kegiatan membongkar atau mengeluarkan lebah untuk diambil madunya dengan menggunakan mantra timang tadi. Baik masyarakat Dayak Desa atau Sambas sama-sma percaya bahwa kekuatan mantra yang ‘dinyanyikan’ oleh pengamboi memiliki kekuatan magis. Dalam praktek pelaksanaannya, hampir-hampir tak ada perbedaan antara Melayu Sambas maupun Dayak Desa. Juga perlengkapan yang dibawa ketika akan Muar Wanyek tersebut. Hal tersebut dalam tabel berikut ini. Tabe2 Daftar Perlengkapan Muar Wanyek No MELAYU SAMBAS DAYAK DESA1 Parang Isau2 Rotan Bloran Wie Segak3 Kayu Panjang Kayu panjai4 Suluh Pemantor 5 Ballek Belet6 Tali Tali 7 Pisau Sitaje bali Lungai8 Api Api9 Air Tawar Air Tawar Demikian juga ketika sedang betimang karena harus dilakukan dengan hikmat, serta mengandung unsur magis di dalamnya. Karena sebuah mantra yang diucapkan menuju kepada Mantra Caitanya (pemahaman arti mantra) sehingga dihasilkan Mantra Gatha (kekuatan dari mantra) 3). Baik pada masyarakat Sambas maupun Dayak Desa, Muar Wanyek selalu dilakukan pada malam hari karena tidak sembarang waktu boleh dilakukan. Seperti halnya dalam masyarakat Dayak Desa, pada masyarakat Sambas juga tak semua sarang lebah atau wanyek yang dapat diambil madunya dengan mantra ngamboi atau timang tadi. Karena ‘ritus’ tersebut hanya dilakukan terhadap lebah yang bersarang pada pohon yang tinggi yang dalam bahasa Sambas disebut simpoani atau dalam bahasa Dayak Desa disebut Lalau. Hal ini dilakukan agar madu yang akan diambil diharapkan bermutu baik, pohon tidak berlendir atau basah, dan untuk berjaga-jaga dari kemungkinan yang tidak diinginkan. Ada kalanya juga pengamboi tidak menggunakan air tawar dan madu yang diperoleh tetap bermutu baik. Baik pada masyarakat Melayu Sambas maupun Dayak Desa dalam melakukan ritus tersebut terdapat sejumlah pantangan yang harus dipatuhi. Misalnya tak boleh membakar daun-daun kayu atau membakar sarang lebah yang telah di dapat. Hal ini dapat mengakibatkan lebah-lebah tersebut menjadi ganas. Di dalam masyarakat Dayak Desa bahkan sejak turun dari rumah, seseorang telah mulai melakukan pantang. Misalnya tak boleh ngomong sembarangan atau takabur, membakar ikan seluang, ikan bantak atau udang, terasi dan lain sebagainya. Acara Muar Wanyek dimulai dengan kegiatan membuat tangga dan dalam masyarakat Dayak Desa disebut nyatak. Fungsinya sama dengan masyarakat Sambas yaitu dimana seseorang akan memperkirakan diameter pohon yang dalam masyarakat Sambas disebut mengantang pohon. Cara itu juga agar para pelaku ritus dapat memperkirakan besar, tinggi, keadaan dahan dan ranting, maupun hal-hal lain dapat diketahui. Itu penting untuk membuat perkiraan panjang tangga yang dibutuhkan untuk memanjat lalau atau simpoani. Dari kajian di atas maka jelas ritus Muar Wanyek baik yang ada dan pernah ada dalam situs kebudayaan melayu sambas maupun Dayak Desa terdapat kemiripan-kemiripan teknikal. Terutama dalam tata cara, fungsi maupun artikulasi. Tentang tata cara dan fungsi Muar Wanyek tersebut Evi Novianti 4) mengatakan bahwa dalam acara pengambilan madu mantra dalam ritual Muar Wanyek ini merupakan sarana komunikasi langsung antara manusia dengan lebah dan manusia dengan manusia ketika kegiatan ritual tersebut dilaksanakan. Tak Cuma itu, bahkan menunjukkan adanya komunikasi antara manusia dengan Tuhan sebagai pemilik maha jagat ini. Pada masyarakat yang masih cukup kuat mempertahankan tradisinya, kepercayaan yang dianut menjadi sentral dari kegiatannya. Agar terintegrasi dalam hidup mereka, agama dengan berbagai upacara dilaksanakan bagai manifestasi kebudayaan. Demikian pula yang terjadi dengan kedua masyarakat yaitu Melayu Sambas dan Dayak Desa. Walau dalam kajian teks mantra itu sendiri kita temukan banyak perbedaan. Tetapi yang pasti bahwa dari dari satu aspek sastra lisan kita dapat melihat banyak kemiripan antara Muar Wanyek-nya masyarakat Sambas maupun Dayak Desa. Walau tentu saja dalam proses berikutnya terjadi perubahan struktur, sistem nilai, tingkah laku, cara pandang dan banyak aspek lain yang terintegrasi dalam kehidupan sebuah masyarakat yang membuatnya tidak lagi persis sama ketika pertama kali ia dimuntahkan dari sebuah lumbung budaya. Dengan tidak mengabaikan watak dasar manusia juga dikendalikan oleh Parameter-parameter dunia fisik dimana ia berada.5) Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat sebuah kesimpulan tentang dua produk kebudayaan. Tetapi lebih kepada upaya dalam mengesan atau mengendus jejak simbolik yang pada akhirnya menuntun kita menemukan sebuah ‘lorong’ budaya Melayu yang tengah diperbincangkan dalam upaya menemukan sebuah identitas. Misalnya apa yang pernah dikemukakan oleh Dr. Yusriyadi di Harian EQUATOR tentang terori Hendrik Kern, ilmuan Belanda yang menerapkan teknik “paleontologi linguistic” dalam penelitiannya. Dimana ilmuan yang cukup populer pada abad 19 itu melihat kosa kata tumbuhan dan binatang yang direkonstruksikan dalam sesuatu bahasa purba diteliti untuk memperoleh petunjuk tentang tanah asal masyarakat purba yang menggunakan kosa kata tersebut. Kern meninjau persebaran kata-kata yang pada masa itu sudah direkonstruksikan dalam bahasa Melayu-Polinesia Purba bagi konsep TEBU, KELAPA, AUR, BULUH, BETUNG, ROTAN, BERAS, PADI. Dimana konsep botani ini merujuk kepada daerah tropikal sebagai tanah asal usul Melayu-Polinesia. Selanjutnya Kern lalu mengaitkan tumbuhan tropikal ini dengan rekonstruksi kosa kata yang merujuk kepada binatang 6) Apakah masyarakat yang berbahasa Melayik atau pun Melayu dulunya hanyalah merupakan sepotong kue yang teriris oleh sejarah dan waktu? Di tengah gerakan yang mencoba menelusuri kembali asal usul bangsa maupun bahasa Melayu dan peseberannya di rantau jagat ini? Sebab penelusuran itu akan dapat disibak dari adat tradisional Melayu yang timbul dari sistem nilai yang hidup di masyarakatnya. Walau menurut Mahadir Bin Mohamad cengkraman adat ke atas orang Melayu telah mulai longgar. Dimana telah jarang sekali orang Melayu berkata, ‘biar mati anak jangan mati adat’. 7) Sekali lagi karena bukanlah untuk membuat sebuah kesimpulan maka penulis ingin katakan bahwa tulisan ini hanyalah upaya memetakan situs budaya masa lampau melalui sebuah perbandingan sebuah produk tradisi lisan. Karena dengan dibeberkan seperti ini orang akan melihat simpul-simpul yang mempertautkan nilai-nilai budaya yang masih tampak dan masih dapat dikenali hingga sekarang.
About this entry
You’re currently reading “Muar Wanyek, Tradisi Lisan Melayu Sambas dan Dayak Desa,” an entry on WISNU PAMUNGKAS
- Published:
- Juli 30, 2007 / 3:58 pm
- Category:
- LUPUNG MANANG
- Tags:
2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]