TENUN IKAT DAYAK: EKSPRESI KOSMOLOGI MANUSIA DAYAK

By A. Alexsander Mering

ABESTRAKSI
Sebagai salah satu unsur kekayaan budaya, Tenun ikat Dayak khususnya yang ada di kabupaten Sintang, yaitu Dayak ketungau dan Dayak desa, selama ini hanya tersimpan begitu saja dalam lumbung-lumbung kebudayaan mereka. Bahkan berbagai kisah yang berupa tradisi lisan dan beberapa bentuk ritual yang menyertai kehidupan serta eksistensi tenun ikat ini telah banyak yang hilang, punah terkubur bersama rumah betang, sejarah dan waktu. Terutama setelah generasi pasca rumah betang. Di kabupaten Sintang (Dayak ketugau dan Dayak desa) sendiri, tenun ikat Dayak semakin tak populer di kalangan gadis-gadis Dayak, bahkan sedikit sekali wanita-wanita Dayak pasca rumah betang yang mau menekuni tenun ikat ini. Beberapa karya tenun ikat masih dipelihara dan disimpan oleh para keturunan-keturunan mereka yang kebanyakan tak lagi mengerti makna maupun cerita yang tersirat dalam berbagai motif di dalam tenun ikat tersebut. Pada mulanya, pembuatan sebuah kain tenun ikat merupakan suatu rangkayan upacara tersendiri. Disini tenun ikat dipandang bukan lagi hanya sekedar sebagai sebuah karya semata-mata tetapi juga sebagai pengkosmos, sebagai sesuatu yang memiliki roh dan enerji hidup, sesuatu yang sakral, yang mampu memberi tempat bagi pertemuan antara yang realitas fisik dan metafisik magis. Kehidupan manusia Dayak yang telah ditempa oleh alam, oleh waktu, oleh berbagai fenomena jagat telah membuatnya memiliki suatu pemahaman-pemahaman tertentu yang terkonsentrasi menjadi suatu kristalisasi format tertentu pula. Kita bisa melihatnya dalam tradisi lisan Dayak atau cerita-cerita Dayak ketungau dan Dayak desa, dalam berbagai bentuk ritus-ritus kehidupan (upacara-upacara ritual dan sebagainya), penggunaan lambang-lambang, termasuk juga tenun ikat Dayak yang merupakan salah satu komponen dalam satu kesatuan proses bagaimana manusia Dayak telah menjaga keseimbangan tatanan kehidupan jagat agar tetap selaras. Lebih jauh lagi tenun ikat Dayak disini telah mengejewantahkan suatu ide hierofani, percampuran antara keindahan dan kesakralan, sebagai suatu ekspresi kosmologi manusia Dayak di mana tenun ikat itu telah dilahirkan, hadir dan melembaga menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan dari seluruh fenomena kehidupan manusia Dayak dan semesta raya yang maha luas ini.

A. Pendahuluan
Dalam studi-studi kemasyarakatan pada umumnya, sering kita temui betapa pun sederhananya suatu masyarakat pasti memiliki tradisi, nilai-nilai atau konsep-konsep budaya tertentu. Kaum ekopopulisme seperti Robert Chambers, Marcel Rutten, Venema dan lain sebagainya bahkan telah memusatkan perhatian mereka ke wilayah kajian ini sudah lebih awal. Dimana golongan (yang oleh kaum positivisme eropa) dulunya pernah dianggap barbaric, savage dan uncivitalized, ternyata banyak sekali menyimpan kekayaan-kekayaan dalam lumbung-lumbung kebudayaan mereka berupa pengetahuan asal (indigenuos knowledge) dan kearifan-kearifan tertentu.
Misalnya saja pengetahuan rakyat tentang tanah, tetumbuhan, prilaku iklim, hama, penyakit-penyakit atau pengetahuan yang tersirat dalam syair-syair lagu, pribahasa dan cerita-cerira yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. Atau pengetahuan yang dimiliki oleh para pakar lokal seperti para peracik obat-obatan, pawang hujan, pemimpin upacara-upacara suci (Ton Dietz,1998).
Dari judul yang cukup luas di atas maka dalam hal tulisan ini, (berdasarkan pengalaman penulis selama mengadakan penelitian tentang tenun ikat Dayak di beberapa daerah di kab. Sintang bersama dengan Albert Rufinus), maka penulis akan mencoba lebih memusatkan perhatian, serta menyoroti keberadaan tenun ikat Dayak khususnya yang ada di kabupaten Sintang, Kalimantan Barat sebagai suatu wujud maupun konsep budaya yang merupakan blue print kehidupan manusia Dayak yang tampak, sebagai satu kesatuan kosmologi bersama sekian ribu milyar gugus partikel alam yang ada di jagad ini.

Kain Tenun ikat
Menurut Irene Emery salah satu pakar penggolongan serat terkemuka di dunia kata asal dari semua bentuk serat adalah; textile yang berasal dari bahasa latin texere, menenun, yang merujuk secara khusus pada tenunan yaitu tindih-menindihnya benang yang dilontarkan oleh torak (Abdullah Alamudi, 1990). Tenun ikat yang dimaksud disini adalah suatu proses menenun yang dimulai dari proses awal pembuatan kapas menjadi benang. Kemudian sistem pewarnaannya dengan jalan mengikat bagian-bagian tertentu dan kemudian mencelupnya.
Selain itu masyarakat Dayak setempat juga mengenal kain songket (kain sungkit) yang corak dan motifnya, maupun proses pembuatannya agak berbeda dengan kain tenun ikat yang menjadi fokus pembicaraan dalam tulisan ini.
Ada pun kain tenun ikat yang dimaksud disini adalah kain tenun yang merupakan hasil gagasan asli, muncul dari proses kegiatan kebudayaan manusia Dayak yang ada di kabupaten Sintang dan sekitarnya. Atau kain tenun yang lahir, diciptakan dan diproses secara alami, lewat tata aturan tertentu, tradisional, dengan menggunakan bahan-bahan alami (baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan) yang banyak terdapat disekitar lingkungan masyarakat setempat saat itu. Misalnya kapas yang terlebih dahulu harus dicincang, dijemur, dicincang sekali lagi dan kemudian barulah dipintal menjadi benang. Lantas bahan-bahan pewarna yang langsung diambil dari alam dan lain sebagainya, menurut pengetahuan para penenun asli masyarakat setempat. Pembatasan ini dipandang perlu mengingat adanya perbedaan antara tenun ikat Dayak yang asli dengan jenis tenun ikat yang sekarang banyak diproduksi dengan menggunakan benang (bahan jadi) dan zat pewarna naftol, sehingga tentu saja beberapa proses yang mengandung nilai ritual bagi sebuah tenun ikat tidak lagi dilaksanakan. Seperti misalnya mencampur beberapa zat pewarna tertentu dengan hati binatang dan lemak-lemak hewan tertentu yang prosesnya tidak boleh disaksikan oleh orang lain. Sehinga ada perbedaan antara kain yang disebut besuoh (artinya kain masak, yaitu yang prosesnya dilakukan secara lengkap dan telah memenuhi prasyarat adat atau tata ketetentuan tertentu) dengan kain mata’ (Kain yang tanpa melewati persyaratan-persyaratan adat, misalnya tidak menggunakan hati-hati atau lemak hewan tertentu, tanpa menggunakan kapur sirih dan sebagainya).

Ekspresi
Dalam hubungannya dengan tulisan ini maka ekspresi yang kami maksud adalah menyangkut berbagai aspek pengungkapan maupun pengakuan masyarakat Dayak desa dan Dayak ketungau terhadap berbagai fenomenologi jagat yang difahaminya menurut batas kemampuannya sebagai manusia saat itu. Jadi yang dimaksud dengan sebuah ekspresi tidak pernah hanya merupakan teks yang terisolasi dan statis, sebaliknya ekspresi mencakup aktifitas yang meniti waktu (processual), sebuah bentuk kata kerja, sebuah tindakan yang berakar pada situasi sosial yang melibatkan orang-orang nyata dalam kebudayaan dan era sejarah tertentu, seperti yang dikatakan oleh Edward M. Burner, “Exsperience and its Expression” dalam The Anthropology of Experience yang di edit bersama Victor Turner dan Edward Bruner 1982, sebagaimana dikutip Sal Murgianto dalam tulisannya Mengkaji kajian Pertunjukan (Pudentia MPSS, 1998).

Kosmologi
Mungkin perlu juga untuk dikemukakan disini apakah yang dimaksudkan dengan kosmologi. Kosmologi, bahasa inggrisnya adalah cosmology yang berasal dari bahasa yunani kosmos (dunia, semesta alam) dan logos (ilmu tentang, alasan pokok bagi, suatu pertimbangan). Beberapa pengertian kosmologi, yang pertama adalah ilmu tentang alam semesta sebagai suatu sistem rasional yang teratur. Yang kedua adalah sering digunakan untuk menunjuk cabang ilmu pengetahuan, khususnya astronomi, yang berupaya membuat hipotesis mengenai asal struktur, ciri khas dan perkembangan alam fikiran berdasarkan pengamatan dan metodologi ilmiah. Yang ketiga adalah ilmu yang memandang alam semesta sebagai suatu keseluruhan yang integralis dan bagian dari alam semesta berdasarkan pengamatan astronomi, merupakan suatu bagian dari keseluruhan tersebut. Sedangkan yang keempat adalah, secara tradisional, dianggap sebagai cabang metafisika yang bergumul dengan pertanyaan-pertannyaan mengenai asal dan susunan alam raya, penciptaan dan kekekalan, fitalisme, kodrat hukum, waktu ruang dan kausalitas. Analisis kosmologi mencoba mencari apa yang berlaku bagi dunia ini…..(Lorens Bagus, 1996).
Nah, dari sini tampaklah ide-ide kosmologi pertama kali yang naif tampak di jaman bahula dulu sebagai suatu hasil kegiatan mahluk yang disebut homo sapiens untuk menemukan tempatnya dalam jagad (semesta) ini.
Manusia Dayak yang pada saat itu secara tradisional telah mencoba merumuskan ide-idenya tentang fenomena dan gejala-gejala alam, tentang suatu enerji kehidupan ke dalam suatu bentuk pemahaman (tertentu) yang terakumulasi kedalam berbagai aktifitas kebudayaan manusia Dayak.

Manusia Dayak, Alam Semesta, mitologi dan symbol
Dalam mengalami berbagai gesekan (pengalaman) dengan alam manusia akan dituntun kepada suatu penemuan-penemuan serta pemahaman-pemaham baik secara indivudu maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat, yang melalui proses tertentu telah terkonsentrasi menjadi suatu yang kelak akan melahirkan suatu format pemahaman-pemahaman bagai mana harus menjalani hidup dan kehidupan di alam lingkungannya. Di sanalah mitos dan simbol dihadirkan, bukan lagi dipahami sebagai sesuatu fenomena yang masih mentah, tetapi telah menjadi sesuatu jawaban dari keinginan-keinginan untuk menemukan jawaban dari berbagai gejala-gejala alam ini. Jadi seperti diungkapkan J Van Baal (1987) sebagaimana dikutip Dr. Hans J. Daeng, mitos adalah sebagai cerita di dalam kerangka sistem suatu religi masa lalu dan kini telah atau sedang berlalu sebagai kebenaran keagamaan. Sedangkan mitologi adalah suatu cara mengungkapkan, menghadirkan Yang Kudus, Yang Ilahi melalui konsep serta bahasa simbolik. Mitologi jugalah yang memungkinkan manusia memberi tempat bermacam-macam, pengalaman yang diperolehnya selama hidup (Dr. Hans J. Daeng, 2000).
Sebagaimana layaknya makhluk yang disebut maupun yang menyebut dirinya manusia sementara ini, manusia Dayak juga memiliki integritas kemanusiaan yaitu semacam lingkaran fungsional (fungtionskreis), atau mungkin juga semacam kemampuan naluriah untuk bersatu dan selaras dengan lingkungannya. Dimana manusia Dayak yang kebetulan secara historis-geografis pernah, bahkan masih hidup di pedalaman (sekarang sisa) hutan Kalimantan yang telah melewati entah berapa ribu kali fase evo-(atau bahkan) revolusi, tentunya telah melakukan adaptasi-adaptasi ekologis tertentu yang membentuk suatu kristalisasi format nilai kosmologi tertentu pula. Inilah yang kemudian sangat mempengaruhi kerangka sistem berfikir mau pun bertingkah laku manusia Dayak pada akhirnya.
Biasanya kita dapat melihat visualisasinya dalam tradisi lisan baik yang berupa cerita mitos, dalam upacara-upacara ritual, pantangan atau “kearifan-kearifan” hidup lainnya yang terkadang secara logika sangat sulit diterangkan. Oleh sebab itu manusia Dayak dalam menghadapi berbagai fenomena alam memiliki kecendrungan untuk mengembangkan cara berfikir yang sangat kompleks citra semesta (bandingkan dengan YB. Mangun Wijaya, 1999) atau semacam percampuran yang merupakan senyawa padat pekat antara logika, mitologi dan naluri, Extranes Wissen (pengetahuan luar kesadaran). Jadi akan sangat sulit untuk menarik suatu batas yang jelas, mana yang logika, mitologi atau naluri. Biasanya dengan mudah saja sementara orang akan menyebutnya tahyul.
Lihat saja keseharian mereka yang melompat dari upacara ke upacara, hidup, legenda, mitos yang telah menjadi suatu sistem budaya, termasukah tenun ikat yang dalam proses penciptaan maupun kegunaannya bertumpu kepada hukum keseimbangan jagat (alam) dan usaha-usaha kearah pemeliharaannya, tentu. Misalnya melalui metanonia (pertobatan dan bersih diri) yang bisa berwujud sesajian, upacara-upacara (adat) tertentu atau melalui sikap hidup.

Tenun Ikat Dayak dan Kebudayaan
Sebelum kita melihat bagaimanakah hubungan tenun ikat Dayak dan kebudayaan lebih lanjut, ada baiknya kita mengetahui apa itu kebudayaan. Menurut Rut Benedict, kebudayaan merupakan pola-pola pemikiran serta tindakan tertentu yang terungkap dalam aktivitas, sehingga pada hakikatnya kebudayaan itu sesuai dengan apa yang dikatakan Ashley Montagu, yaitu a way of life. Cara hidup tertentu, yang memancarkan identitas tertentu pula pada suatu bangsa. Dapat juga di kemukakan, kebudayaan adalah keseluruhan proses dan hasil perkembangan manusia yang di salurkan dari generasi-kegenerasi untuk kehidupan manusiawi yang lebih baik (Soerjanto Poespowordoyo, 1989:218 – 219). Dilihat dari dimensi wujud menurut para ahli kebudayaan terbentuk atas tiga wujud yakni (1) sujud sebagai suatu Kompleks gagasan, atau ide, (2) wujud sebagai suatu kompleks aktivitas, dan yang ke-(3) wujud benda. Yang pertama disebut sistem budaya, yang kedua disebut sistem sosial, sedangkan yang ketiga adalah kebudayaan fisik. Dari sanalah kita dapat melihat kebudayaan dapat juga difahami sebagai dialektika masa lampau dan masa depan yang bersentetis dengan masa sekarang. Kalau ia dilihat sebagai kompleks ide maka kebudayaan itu merupakan sistem pengetahuan, atau sistem makna, system of meaning (Parsudi Suparlan, 1980, seperti dikutip oleh DR. Hans J. Daeng, 2000). Secara semiotik, kebudayaan merupakan reaksi competence yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat untuk mengenal lambang-lambang untuk menginterpretasi dan untuk menghasilkan sesuatu. Kebudayaan dalam batasan itu akan mengejawantah terutama sebagai performance, sebagai suatu keseluruhan dari kebiasaan-kebiasaan tingkah laku dan hasil-hasil darinya (Aart Van Zoest, 1992). Lalu dimana posisi tenun ikat Dayak?
Dari pendapat diatas maka tenun ikat Dayak dapatlah kita lihat sebagai salah satu wujud kebudayaan sebagai artifacts (sekumpulan benda) yang juga merupakan salah satu cara dan sekaligus media pengungkapan dari suatu himpunan gagasan atau ide yang merupakan dialektika masa lampau dan masa depan yang bersentetis dalam masa sekarang, seperti yang disebut diatas. Bukan hanya itu saja, sebagai homo sapiens (manusia bijak, berkebudayaan) dan homo religiosus (manusia religius) maka manusia Dayak juga dalam banyak hal mencoba menghubungkan fenomena di alam raya dengan Hakekat Tertinggi. Dengan lain perkataan hakikat tertinggi memanifestasikan diri ke alam manusia dan itulah hierofani, teofani atau apa yang oleh Eliade disebut sebagai “mental alam”. Untuk berkomunikasi dengan hakekat Tertinggi yang diyakini sungguh ada dan penuh kekuatan serta menjadi sumber kehidupan dan energi, manusia (Dayak) memakai ritus sebagai sarana. Dengan menggunakan ritus, manusia beralih dari keadaan profan ke situasi sakral. (Saliba, 1978, hlm 53, seperti dikutip Dr. Hanz J. Daeng, 2000). Disinilah Tenun ikat Dayak ini lahir sebagai suatu bagian dari dari the idea of the holy (gagasan tentang yang kudus). Dimana secara fenomenologi–religi, pada masyarakat tradisional, seluruh kosmos terbuka untuk yang kudus.

Tenun Ikat Dayak dan Tradisi Lisan
Apabila seorang pemburu ingin berburu babi hutan, maka tentu ia tidak langsung menemui babi tersebut untuk menanyakan berapa banyak kawanan yang berkumpul di sekitar hutan? Berapa besar kira-kira masing-masing babi yang ada? Lalu dari mana kira-kira mereka besok pada jam sekian akan lewat? Lalu Apa yang dilakukan oleh pemburu tersebut? Dengan melihat bekas jejak saja ia sudah dapat memperkirakan jumlah babi, besar dan dari mana babi besok akan lewat. Demikianlah halnya dengan kita! Untuk mengetahui dan menyelidiki Tenun ikat Dayak tersebut, kita harus juga meneliti tradisi-tradisi lisan Dayak. Sebab dalam suatu kebudayaan teks terutama diproduksi secara oral (mondeling), lalu kemudian diteruskan secara turun temurun dari mulut ketelinga. Dan menurut Ben Engelhart dan Jan Willem Klein Tuturan kata merupakan lambang pengalaman rohaniah, yang tertulis merupakan lambang tuturan (M. Susuf, Kompas, jumat, 2 Juni 2000). Tradisi lisan maupun cerita-cerita rakyat disini telah berjalan berdampingan berabat-abat lamanya, saling bersisian seperti dua buah cermin atau rantai penghubung yang saling menjelaskan satu sama lain. Bahkan beberapa teks tradisi lisan (Dayak Ketugau dan Desa) yang sama-sama masuk dalam rumpun ibanik merupakan “rekaman biografi” atau bentuk lain dari kehidupan sang/kain tenun ikat itu sendiri. Apabila disini kain tenun merupakan salah satu bentuk lain dari lambang tuturan, maka di dalam tradisi lisan inilah kita akan mengetahui cerita-cerita tertentu mengenai tenun ikat yang telah menjadi satu dengan segala aspek kehidupan manusia Dayak, khususnya masyarakat Dayak Desa, dan Ketungau (lebih luas lagi Dayak Iban, Dayak Kantu’ dan beberapa sub suku Dayak lainnya. Seperti di sekitar kabupaten Sanggau, misalnya Dayak Jangkang, dan Mualang).
Ada pun yang dimaksud tradisi lisan disini ialah bebagai pengetahuan dan adat kebiasaan yang secara turun temurun disampaikan secara lisan dan mencakup hal-hal seperti yang dikemukankan oleh Roger Tol dan Pudentia. Yakni…”Oral traditions do not only contain folktales, myths and legends (…), but store complete indigeneous cognate systems. To name a few: Histories, legal practices, adat low, medication, seperti yang dikutip oleh B.H. Hoed dalam Tulisannya yang berjudul Komunikasi Lisan Sebagai Dasar Tradisi Lisan (Metodologi Kajian Tradisi Lisan, Editor Pudentia MPSS, 1998).
Berdasarkan penelitian penulis, maka ada beberapa tradisi lisan yang erat kaitannya dengan tenun ikat adalah:

1. Kana
Kana adalah suatu bagian dari tradisi lisan Dayak Desa maupun Dayak Ketungau yang berbentuk cerita lirik, semacam syair panjang yang dituturkan oleh orang-orang tertentu , yang telah memiliki syarat-syarat tertentu (misalnya; usia, Keturunan, dan tentu juga keahlian). Menurut pak Bangu seorang ahli kana, yang berusia sekitar 58 tahun, di Desa Terumbu’, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang. Untuk Kana Bilang Temawai (Menghitung Tembawang), walaupun seseorang cukup pandai menuturkannya tetapi apa bila ia belum pernah duda/janda karena salah satu pasangannya meninggal, maka ia belum boleh menuturkan kana tersebut. Jika sedang menuturkan kana, penutur tidak boleh menghentikan ceritanya seenak perutnya karena cerita ini dianggap sakral. Tokoh-tokoh dalam cerita kana dipercayai bakal tersinggung dan marah jika dihentikan di sembarang cerita. Penutur harus memilih bagian yang tepat apabila terpaksa harus menghentikan ceritanya. Misalnya jika kana tersebut tengah menceritakan babak perperangan maka cerita itu tak boleh dihentikan sebelum para tokoh cerita mencapai kemenangan, dan seterusnya.
Lalu apa hubungan kana ini dengan Tenun ikat Dayak? Menurut pengalaman penulis selama penelitian, ber-kana ini sangat erat kaitannya dengan proses penciptaan Tenun Ikat Dayak. Apa bila kita meneliti liri-lirik syair sebuah cerita kana, disana kita akan menemukan suatu peristiwa-peristiwa khusus, mengapa dan bagaimana sebuah kain Tenun ikat itu tercipta, apa kegunaannya baik dalam hal bentuk (kain bidang, kumbu’, atau selampai) maupun motifnya (misalnya naga, sisik langit, dll.). Mana-mana motif yang terlarang dan mana motif yang boleh dicontoh manusia. Terkadang sebuah cerita kana bahkan sering memberikan insipirasi bagi para penenun dalam menyelesaikan tenunannya. Kana bisa membangkitkan daya imajinasi para penenun dan orang lain yang ikut mendengarkan cerita tersebut secara transformatif. Ada kebiasaan bagi para penenun, setelah makan malam mereka berkumpul di suatu tempat terbuka atau balai-balai (kalau dirumah betang disebut ruai) untuk menenun bersama-sama, sambil mendengarkan sebuah cerita kana yang dialunkan oleh sang ahli kana yang memang sengaja diundang untuk itu. Biasanya kegiatan ini berlangsung sampai larut malam. Dalam bahasa Dayak Desa dan Ketungau kegiatan ini disebut besedau. Jadi Antara yang berkana, yang mendengarkan maupun yang dikanakan (tokoh-tokoh sebuah kana, yaitu Kelieng, Kumang, Dabuong, Landai, dan lain sebagainya) memiliki suatu hubungan kekerabatan yang mistis-kosmis sebab menurut legenda yang dipercayai masyarakat Dayak Desa dan Ketungau secara turun temurun, nenek moyang manusia Dayak pernah hidup bersama-sama satu tuturan atap dengan tokoh-tokoh ini. Yaitu di Tembawang yang di sebut Temawai Tampun Juah (bahkan beberapa sub suku yang ada di daerah Sanggau seperti Dayak mualang dan jangkang pun mengakuinya juga). Letaknya di sekitar perbatasaan antara kabupaten Sangau dan kabupaten Sintang.

2. Kanduok/Ensera
Kanduok (Desa) atau Ensera (Ketungau), adalah suatu cerita berstruktur yang setengah dilagukan, biasanya mengenai riwayat-riwayat para tokoh-tokoh mitologi, seperti Kelieng, Kumang, dll., Kanduok/ensera ini secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

2.1. Yang bersifat serius
Sepeti halnya kana di atas, Kanduok/ensera ini apa bila yang bersifat-sifat khusus, misalnya tentang kehidupan tokoh-tokoh seperti Kelieng, kumang dll., kana yang di tuturkan menjadi kanduok, juga tetap harus memenuhi prasyarat tertentu seperti pada kana, tetapi kanduok atau ensera ini umumnya lebih pendek.

2.2. Yang ringan
Kanduok/ensera ini mungkin lebih dekat dengan istilah dongeng dan tidak memiliki persyaraatan-persyaratan khusus seperti pada kana. Kanduok/ensera yang ringan-ringan dan pendek-pendek, biasanya cerita-ceritanya bersifat bebas, sering dijadikan pengantar tidur bagi anak-anak, seperti fabel, dan sebagainya. Misalnya kisah Inaei Kera’ ngau Inaei ukuoi (induk kera dan induk anjing). Apai Aloi (pak Ali-Ali).
Untuk sebuah kanduok atau ensera biasanya cukup dituturkan satu orang saja. Kanduok dituturkan terutama pada saat-saat para wanita-wanita Dayak sedang mencabut/membersihkan rumput atau saat-saat bergotong-royong memanen padi di ladang. Oleh sebab itu penutur kanduok atau ensera ini lebih cendrung seorang ibu/wanita. Tetapi boleh juga dilakukan oleh seorang pria. Namun yang memiliki kaitan erat dengan tenun ikat ialah kanduok/ensera bentuknya agak serius, tokoh-tokohnya pun adalah orang-orang pandai, orang-orang sakti yang dianggap pernah benar-benar hidup jaman dahulu. Antara lain yang dituturkan oleh bu Riri, umur 72 tahun, desa baning pandak, desa baning panjang, kecamatan Kelam Permai, Sintang. Riri lewat kanduoknya menceritakan tentang rumah Inaei Kelieng diserang musuh dan akhirnya mereka berhasil meloloskan diri atas bantuan selampai, kepua’ kumbu’ (jenis-jenis Kain tenun ikat) yang membawa mereka sekeluarga terbang jauh. Atau ensera tentang Bungkal yang dituturkan oleh bu Sinjang dari dusun Enceruan, desa Tanjung Sari Kec. Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Dimana diceritakan, Inaei Abang dan Undi menyambut kepala hasil pengayauan rombongan Laja dengan menggunakan kepua’ kumbu’ (Kain tenun ikat seukuran selimut).

3. Enselan
Enselan adalah bagian dari sebuah kegiatan upacara adat yang biasa dilakukan dalam masyarakat Dayak. Semacam mantra yang telah baku untuk memohon berkat kepada Sang Pemilik Kekuasaan mutlak. Misalnya saja pada upacara Enselan Rindu’ (enselan anak perempuan), yang antara lain memohon kepada beberapa orang-orang sakti maupun nenek moyang yang pernah hidup sebagai seorang yang bijaksana, Sakti, pandai menenun dan lain sebagainya (seperti Kemenai, Bidu Petara) untuk memberkati kehidupan sang anak supaya kelak ia mengikuti jejak kebijaksanaan dan kepandaian mereka, termasuk dalam hal menenun, seperti yang dituturkan oleh Luntan, seorang ibu yang sudah berusia 68 tahun, berasal dari tembawang Suran yang sekarang telah menjadi bagian dari desa tanjung sari kec. Ketungau Tengah Kab. Sintang. Ada juga upacara enselan anak lelaki yang prosesnya hampir sama. Saat enselan, sang anak didudukan di atas gong dengan dipangku seseorang yang pantas menurut adat dengan beralaskan kepua’ kumbu’ tersebut. Anak tersebut kemudian diolesi dengan darah ayam yang dicampur dengan darah babi, sebagai tanda ia telah diberkati.
Demikian juga halnya dengan enselan uma (enselan Ladang), Kepua’ kumbu’ selalu disertakan dalam upacara ini supaya kegiatan berladang itu berkenan kepada Sang Penguasa Alam dan terhindar dari gangguan hama maupun bencana lainnya.

4. Ngerenung
Ngerenung adalah bagian dari upacara-upacara adat dalam masyarakat Dayak ketungau (Dayak desa juga mengenal ini tetapi sudah tak pernah dilakukan lagi karena sudah sangat sulit untuk menemukan ahlinya). Ada bebera buah renung yang dikenal dalam masyarakat Dayak ketungau, ada yang disebut renung enselan uma (dilakukan diladang, dan merupakan kelanjutan dari enselan uma/ladang) ada yang disebut Renung turun ngema’ (renung ini hanya dilakukan saat upacara memandikan anak kecil disungai), Renung ngapeh pentiek (dilakukan saat menanam pentiek/semacam patung dari kayu). Dan yang akan kita jadikan contoh disini adalah renung tusut (silsilah asal mula terciptanya manusia sampai ke keturunan atau sang anak yang sedang dipestakan), Renung ini biasanya dilakukan saat upacara pemasahan gigi sang anak, atau upacara saat menggunting rambut, atau menitik (melobangi) daun telinga anak baik laki-laki atau prempuan. Renung ini sebenarnya kelanjutan dari enselan. Setelah seorang anak dienselan maka kemudian dilanjutkan dengan renung ini tadi, tujuannya untuk menggemakan sura pesta/upacara tersebut dengan mengundang tokoh-tokoh mitologi maupun nenek moyang yang pernah hidup mempuni (misalnya pemandai-pemandai tuai/tokoh-tokoh tua yang terkenal paling pandai menenun seperti yang dituturkan oleh seorang ibu bernama Baca, 68 tahun, di Nanga Merakai Kec.Ketungau Tengah Kab. Sintang, yaitu tentang emandai Jawai yang menenun di atas tunggul sambil melihat kedasar sungai dimana nabau/naga yang dijadikan motif tenunya berada di dasar sungai tersebut) atau sekedar mengirimkan tuah dan berkatnya yang berupa obat-obat atau pun ajimat-ajimat yang akan menjadi bekal membantu sang anak dalam mengarungi kehidupannya didunia. Supaya kelak ia menjadi orang yang bijak, pandai menganyam-menenun dan memperoleh suami yang baik (kalau perempuan), dan seterus, dan seterusnya. Pada saat itu, suasana dirumah betang itu penuh oleh dekor-dekor kepua’ kumbu’ dan kain tenun ikat lainnya. Semua yang terlibat langsung dalam gawai tersebut (yang bertugas, biasanya dari kalangan tertentu yang memang memiliki keahlian tertentu) biasanya mengenakan pakaian adat yang bahan dasarnya juga dari kain tenun ikat tersebut, Misalnya yang wanita mengenakan kain tatieng ( kain yang dibelitkan menyerupai rok memanjang ke bawah lutut), dan baju dengan berbagai pernik, Lelaki menggunakan sirat/cawat, selampai/selendang, baju maram (potongannya mirif rompi), dengan tutup kepala yang penuh bulu burung beserta Asesorisnya, yang kesemuanya itu dipenuhi ukiran dan motif-motif yang begitu indah, beraneka jenis dan bentuknya, yang sekaligus menghadirkan suasana sakral dalam upacara tersebut.
Masih banyak lagi tradisi lisan Dayak desa dan ketungau yang menyimpan catatan tersendiri mengenai tenun ikat ini terutama legenda maupun mitos-mitos yang diantaranya telah telah menjadi bayangan purba (archetype) ( bandingkan dengan ulasan Seno Gumira Adjidarma, tentang Indonesia sebagai pasien Jung, Sejarah Tak terkuburkan, Kompas, Sabtu, 6 Mei 2000) dan sisanya masih bisa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Desa, misalnya kehidupan rumah betang di Ensaid, kec. Kelam Permai. Kab. Sintang. Inilah contoh yang paling dekat dan yang masih dapat kita saksikan dan kita rasakan secara konkrit.
Tenun ikat Dan Kepecayaan
Tenun ikat disini bukanlah sekedar benda yang kebetulan memiliki citra rasa artistik atau pun histrologik-keindahan seni semata-mata- tetapi ia juga harus dilihat sebagai hierofani (yang kudus menampakan diri, atau manifestasi dari yang ilahi), sebagai satu kesatuan jagat ini dengan manusia Dayak secara utuh-keseluruhan. Sebab tenun ikat juga merupakan ekspresi kosmologi yang sakral, manipestasi spiritualitas kultural kompleks yang sekaligus juga merupakan bahasa antar pengkosmos yang kaya akan ikon-ikon (tanda), isyarat-isyarat perlambagan atau entah apa pun namanya, sebagai catatan yang divisualisasikan dalam berbagai rupa motif atau desain-desain yang terkadang teramat rumit dan sarat makna. Dan bukankah manusia memang selalu memerlukan simbol untuk peneguhan diri?
Biasanya seorang wanita Dayak yang akan melakukan proses menenun dalam jenis maupun motif-motif tertentu harus terlebih dahulu memenuhi persyaratan tertentu seperti penuturan bu Belenjan/Kanjan seorang weaver (penenun) yang berasal dari dusun Umieng, Desa Mangat Kec. Dedai Kab. Sintang. Dimana seseorang yang ingin menenun kain tenun ikat dalam motif tertentu (misalnya dalam hal ini adalah kepua’ kumbu’ dengan motif buaya…), haruslah memenuhi syarat: orang tersebut telah berhasil menyelesaikan 5 buah kepua’ kumbu’/kepua’ bali terutama dengan motif merinjan, merinjan bedan, merinjan tunsang, merinjan naiek, setelah itu barulah seseorang layak untuk membuat kepua’ kumbu’ dengan motif buaya. Selain itu juga ada yang disebut syarat keturunan, dimana seseorang tersebut harus nerupakan keturunan seorang pengayau. Walaupun seseorang telah memenuhi kriteria-kriteria diatas tetapi ia pun masih harus memperhatikan faktor mimpi, usia, apakah ia pernah balu (pernah janda) atau tidak dan syarat-syarat lainnya. Ini sangat berkaitan erat dengan keselamatan sang penenun sendiri maupun kaum keluarga dan juga lingkungan masyarakat sekitarnya. Seseorang yang berani melanggar hal-hal tersebut dipercayai akan terkena kutukan atau tulah yang bisa berupa kematian, gila, sakit-sakitan, bencana alam, dan lain sebagainya.
Kalau kita perhatikan lebih dalam lagi, proses pembuatan kain tenun ikat itu sendiri pun sudah merupakan serangkayan upacara-upacara yang sangat pelik, ketat dalam aturan dan pantangan yang harus ditaati, apabila terjadi pelanggaran, sama saja artinya dengan sebuah dosa yang akan merusak tatanan keseimbangan jagat, atau apa yang oleh F. H. L. Hsu ( Psychological Homeostatis and jen” American Anthropologist, 1971), yaitu suatu lingkaran karib atau manusia berjiwa yang selaras dan berkepentingan (YB. Mangun Wijaya, 1999).
Dalam beberapa cerita terungkap bahwa manusia Dayak percaya kalau kain tenun ikat bisa juga berlaku seperti manusia, bisa bercakap-cakap, memiliki energi kehidupan bahkan kekuatan gaib yang sewaktu-waktu bisa menolong atau menolak kekuatan jahat. Oleh sebab itu ia harus dihormati sebagai pribadi, bukan hanya sekedar sebagai suatu karya manusia semata-mata. Oleh sebab itulah ia bisa berfungsi sebagai bahasa yang dapat menjembatani komunikasi antara manusia dengan alam, baik alam fisik maupun alam metafisis, gaib. Tenun ikat telah melahirkan suatu konteks ide hierofani, sakral yang memiliki kehidupan atau integritas tersendiri sebagai pengkosmos (tidak lagi hanya sekedar sebagai sebuah karya semata-mata) yang merupakan bagian dari hidup dan kehidupan dan alam manusia Dayak.
Memang pengkultusan semacam ini tidak untuk semua tenun ikat, tetapi pada umumnya setiap tenun ikat memiliki semacam tingklatan sakralitas tertentu, misalnya tidak semua jenis atau motif kain boleh dipergunakan untuk menyambut kepala manusia hasil pengayauan (hanya kepua’ kumbu’, biasanya dengan motif merinjan yang boleh digunakan untuk menadah kepala hasil pengayauan). Atau tidak semua jenis motif boleh dikerjakan oleh setiap penenun. Contohnya motif buaya di atas, kemudian motif naga, motif manusia, dll.
Selain itu tenun ikat Dayak adalah juga endapan sketsatologi cryptomnesia (pengetahuan tentang sketsa ingatan yang terselubung) tentang berbagai fenomena alam semesta raya atau kristalisasi, filsafat, moral, adat-istiadat dan sebagainya yang terfiksasikan (proses membekuanya makna-makna suatu aspek peristiwa yang bergerak). Dan ini hanya akan dapat dipahami apabila kita bersedia terjun dan menyelam langsung dikedalaman sungai keseharian hidup mereka. Disana kita akan menemukan suatu kosmogoni, proses terciptanya alam semesta secara kosmis (ini bisa dilihat dari sebuah teks renung tusut Dayak ketungau atau kana bilang temawai Dayak desa). Ini biasanya dilambangkan dengan motif serangkaian garis yang tak pernah putus, semacam jalinan ranting silsilah tempat bersatunya alam realitas fisik manusia Dayak dengan alam metafisik, tokoh-tokoh alam gaib.

Kesimpulan
Dari uraian di atas maka sampailah kita kepada suatu pemikiran bahwa hubungan antara Tenun Ikat Dayak dengan manusia Dayak itu sendiri bukanlah sekedar suatu hubungan material normatif praktis (nilai kebendaan) belaka, antara yang membuat dengan yang dibuat, tetapi adalah sesuatu yang sangat kompleks. Maka dalam memahami ini, kita tak boleh lepas dari konsep pemikiran di atas tadi. Kita harus mampu melihatnya sebagai suatu keseluruhan sistem yang hidup, sebagai suatu rantai kosmos yang saling berkaitan dan saling tergantung serta ada hubungan timbal-balik antara bagian dan keseluruhan.
Jadi manusia Dayak memang sudah sejak dari awal mulanya telah memiliki suatu hubugan yang suci, yang keramat, yang sungguh sayang sekarang malah semakin dan kian memudar. Pada saat itu kain tenun ikat menempati suatu strata yang cukup “kudus” dan tanpa disadari telah menjadi semacam lembaga yang sakral, terutama dalam hubungannya dengan ritus-ritus kehidupan yang sekarang pun tinggal legenda.
Pada akhirnya dapatlah kita simpulkan bahwa tenun ikat Dayak telah menjelma dari dan menjadi suatu ekspresi kosmologi manusia Dayak yang pernah hidup di zamannya. Dan yang sekarang hanya tinggal segelintir saja. Apabila generasi ini telah berlalu, maka sudah dapat dipastikan bahwa tidak akan ada lagi para penutur bijak, seperti generasi di rumah betang tempo dulu. Maka tinggalah nonstalgia getir yang teramat kelat (antara rasa pahit, masam, manis, bercampur dengan obat sariawan Cheng Sie Lung Hau Fung San) untuk dikenang. Di depan layar komputer, generasi manusia Dayak mencoba mencari dirinya sendiri, mencari penggalan-penggalan kisah masa lalu, tentang cawatnya, tentang tato (celingai) di tubuhnya, tentang dirinya sendiri yang perlahan-lahan tengah bergerak, ngigal-menari, menghilang, mengelepar-gelepar di antara kabel-kabel, tombol-tombol dan layar televisi.

Pontianak, 14 Juni 2000

Referensi :
Dietz, Ton, 1998, Hak Atas Sumberdaya Alam, Yogyakarta, kerjasama pustaka pelajar, INSIST Pres dan REMDEC.

Alamudi, Abdullah, 1990 Sebuah Seni Kontemporer, majalah Titian no. 4., Jakrta, USIS.

Pudentia MPSS (Editor), 1998, Metodologi Kajian Tradisi Lisan, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Bagus, Lorens, 1996, Kamus filsafat, Jakarta, Gramedia utama Pustaka.

Daeng, Hans J., 2000, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan Hidup, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

Mangunwijaya, YB., 1999, manusia Pascamodern, Semesta Dan Tuhan, Yogyakarta, Kanisius.

Poespowardojo, Soerjanto, 1989, Strategi Kebudayaan, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

M. Susuf, Era Kelisanan Baru , artikel Kompas, jumat, 2 Juni 2000.

Seno Gumira Adjidarma, Indonesia sebagai pasien Jung, Sejarah Tak terkuburkan, Artikel Kompas, Sabtu, 6 Mei 2000.

Sudjiman, Panuti dan Van Zoest, Aart, 1992, Serba-Serbi Semiotika, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s