Hadiah dari Bill Kovach


by A.Alexander Mering

Meski kepala masih sakit, siang tadi aku nekad melompat ke sepeda motor dan langsung tancap gas ke kantor pos di Jalan Sutan Syahril. Pasalnya awal pekan kemarin tukang pos ke rumahku mengantar surat. Isinya pemberitahuan ada kiriman. Tapi apa? Aku bolak-balik lagi surat itu, tak ada alamat pengirimnya. Hanya tertera alamat tujuan dan sebuah perintah.
“Hubungi pak Wawan, bagian Ekspedisi”. Demikian kira-kira.
Seminggu aku penasaran. Rasanya tak ada rekan atau teman yang bilang akan mengirim sesuatu. Celakanya sakit Maagku kambuh ditambah demam pula hampir seminggu. Rasa penasaran pun sempat ‘terkubur ‘bersama bungkus obat yang kutelan.
Tapi tadi pagi aku sudah tak tahan. Sempat terfikir jangan-jangan pengirim rahasia, jangan-jangan yang dikirim itu narkoba. Mereka sengaja memanfaatkan alamatku agar tak di endus aparat keamanan. Puih! Segera kutepis pikiran ngaur tersebut.
Di depan kantor pos aku bertemu teman lama. Wahyu namanya, dia seorang perwira polisi yang kini bertugas di Polda Kalbar. Aku kenal Wahyu saat kami sama-sama bekerja di Kabupaten Sanggau. Aku terkejut karena tampangnya sangat kurus. Padahal dulu dia sehat dan gagah.
Mataku langsung tertuju ke jidatnya. Aku ingat, dulu ada bekas hitam disana. Tanda ia sering sujud saat di sajadah, sholat.
“Kau tampak sehat dan gemuk sekarang”.
Komentarnya saat kami berjabat tangan.
“Ya, tampak luarnya saja sehat. Abang sekarang tampak sangat kurus”.
“Aku sakit maag parah”.
“Wah, sama bang, aku juga sakit maag akut. Kalau kumat, minta ampun sakitnya”.
Kami ngobrol persis di depan pintu kantor pos. Orang lalu lalang, tapi kami tak peduli. Maklum setahun lebih tak jumpa.
Tiba-tiba aku teringat ada obat maag yang selalu ku bawa kemana-mana. Satu botol, pil Antacid dari Malaysia. Aku membuka tas dan menyodorkan obat itu padanya. Karena aku masih menyimpan satu botol di rumah. Jika minum obat tersebut, biasanya langsung bersendawa.
Setelah kami berpisah dan saling tukar nomor handphoe, aku melesat ke dalam. Tak sabar berjumpa pak Wawan. Tapi yang dicari sedang keluar. Aku duduk sambil menatap tumpukan kertas surat di atas meja pak Wawan. Seorang petugas mempersilahkan menanti. Aku mengirim SMS kepada seorang teman, adakah ia mengirim paket untukku?
“Tak ada,” balasnya. Aku kian penasaran. Keringat mulai jatuh di balik jaket.
Tak lama seorang pria berkemeja putih datang menghampiri. Kami bersalaman. Ternyata ini yang namanya pak Wawan.
“Ada apa dek?”
“Ini bang ngambil kiriman”.
Dia lantas memeriksa surat yang kubawa lalu menuju lemari.
Iseng-iseng saya bertanya,”kok tak diantar langsung ke rumah bang sesuai alamat?”
“Kalau surat langsung kita antar. Tapi ini bungkusan”.
Dia meminjam KTP, aku makin berdebar-debar. Tapi kulirik bungkusan putih agak kumal penuh tempelan yang sekarang sudah diletakan di mejanya. Aha! Dari USA!
“Ongkosnya tiga ribu”.
“Berapa?”
“Tiga ribu rupiah saja”.
Aku langsung menarik 3 lembar uang ribuan dari dompet dan menyerahkannya. Pak wawan minta aku tanda tangan, lantas bungkusan pun berpindah ke tanganku. Wah…rasa ingin melompat aku saat itu. Ternyata bungkusan dari Amerika itu kiriman Bill Kovach. Dia adalah Former Curator of The Nieman Foundation. Dia juga guru besar Jurnalisme di Harvard University.
Sekarang aku tahu, isinya adalah buku Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach. Aku ingat dalam surat elektroniknya bulan Pebruari 2007 lalu, Andreas Harsono bilang Bill Kovach akan menghadiahkan buku itu kepada aku. Andreas adalah salah satu murid Kovach. Melalui lembaga Pantau, Andreas aktif memperbaiki mutu jurnalisme di Indonesia. Kini buku Andreas yang berjudul From Sabang to Merauke: Debungking the Myth of Indonesian Nationalism, sedang dalam proses penerbitan.
Di Indonesia, cuma 6 wartawan yang mendapat penghargaan istimewa Kovach ini, termasuk aku. Kelima wartawan tersebut adalah Ahmad Yunus (Playboy), Erna Mardiana (Bloomberg), Nani Afrida (The Jakarta Post), Samiaji Bintang (Pantau) Yuli Ahmada (Surya). Kami tak saling mengenal langsung dan kami pun belum pernah bertemu Kovach. Tapi Journalisme telah mempertautkan kami pada sebuah dunia. Dengan Bintang saya hanya pernah chating beberapa kali. Selebihnya kami hanya saling kenal nama saja di dunia maya (internet).
Pantaslah aku lupa, karena sudah lebih setahun. Buku dikirim Kovach langsung dari Washington DC. Di lembaran ke-4 buku, ada tandatangan Kovach dan Tom Rosenstiel. Buku itu tulisan mereka berdua. Isi buku tersebut tentang apa yang seharusnya diketahui wartawan dan diharapkan publik. Ia mengajarkan tentang etika dan prinsip media. Sangat bagus! Saya mengatakan kepada para wartawan di sini, buku tersebut semacam ‘kitab sucinya’ para wartawan.
Sebenarnya ini bukan kali pertama aku membaca buku Sembilan Elemen Jurnalisme. Jauh sebelum belajar di Pantau Foundation, aku mendapatkannya dari Stanly Harsa, Atase Perss Amerika untuk Indonesia ketika pelatihan Ethic and Journalism di Pontianak 2003 lalu.
Sekarang sudah kucel, karena sering dibawa-bawa dan kena hujan.
Nah saat belajar di Pantau, buku yang sama dijadikan bacan wajib. Aku juga pernah membeli beberapa untuk dihadiahkan ke teman-teman, termasuk beberapa wartawan di Sarawak, Malaysia.
Bagiku, buku ini menjadi istimewa, bukan karena diberi langsung oleh dedengkot wartawan itu, tetapi karena semangat yang terkandung di dalamnya.
“Memang harga buku ini tak seberapa. Juga ongkos kirimnya, bolak-balik
Jakarta-Washington. Tapi saya suka sekali ide Kovach untuk memberikannya langsung kepada enam wartawan muda itu. Dia akan langsung kirim dari Washington DC ke alamat masing-masing dengan tangannya sendiri. Dia minta saya membantunya mencari enam orang itu,” tulis Andreas suatu ketika.
Andreas juga bilang tujuan Kovach memberi penghargaan tersebut untuk memuji kerja kami sekaligus memacu kami berenam agar bekerja lebih baik.
Wah…tiba-tiba aku merasa narsis…dan apa yang aku buat untuk Jurnalisme di Kalbar belum seujung kukunya Kovach dan Andreas. Aku menjadi malu sendiri setelah membaca surat elektronik Andreas itu lagi. Apalagi ditambahnya “Siapa tahu kelak orang muda ini bisa jadi trainer, melanjutkan cita-cita Kovach dalam meningkatkan mutu jurnalisme.
Busyet! Dapatkah aku memikul tanggungjawab berat itu di negeri tanpa nabi yang begitu bangga menyebut dirinya Indonesia ini?
Kupandang-pandang bungkus pos buku tadi. Tulisan tangan Bill Kovach, parahnya sama saja dengan tulisan tanganku. Huruf dan angka, berpanjang-pendek, hampir kucar-kacir…he…he…. Bahkan tulisan nama tengahku keliru.
“Apa semua wartawan tulisannya begitu ya?”
Soal tulisan aku ada cerita sendiri. Anakku Lindu pernah protes ketika aku bilang agar dia serius belajar menulis merangkai indah dan tegak bersambung di sekolah. Umurnya baru 8 tahun. Tahu apa dia bilang?
“Percuma saja pa, nanti setelah kerja pun ngetik pakai komputer?”
Bill Kovach tentu tidak pernah ambil bagian dalam tulisan merangkai indah anak-anak Indonesia. Tak peduli tulisan tangannya cakar ayam atau tidak. Yang pasti karya dan fikirannya tentang jurnalisme adalah sesuatu yang sangat penting diketahui oleh wartawan di dunia ini. Sebab banyak orang mengaku dirinya wartawan, terutama di negeri ini, tetapi bekerja lebih buruk dari sekelompok preman. Kepada teman-teman di Borneo aku bilang kalau Kovach adalah ‘nabinya’ para wartawan.
Akhir kata aku hanya bisa bilang,” terimakasih Bill Kovach. terimakasih mas Andreas, terimakasih United States Postal Service, terimakasih PT. Pos Indonesia, terimakasih pak Wawan.”
Karena buku ini telah sampai di tanganku yang belum lama telah memtusukan hidupnya menjadi penulis.

Pontianak, pukul 01.25 AM, 19 Maret 2008

3 thoughts on “Hadiah dari Bill Kovach

  1. Selamat buat Adik Mering yang mendapatkan hadiah buku istimewa ini, menurut Abang pesan moralnya sama seperti Adik di beri sebutir bibit tanaman, maksudnya supaya di tanamkan baik baik dalam pikiran dan kelak setelah berbuah dan berbiji, bagikanlah kepada orang lain, sehingga tidak hanya Adik pemilik satu satunya tanaman indah ini, dan bukan Adik satu satunya yang menikmati manis buahnya.

    ini adalh sebuah amanah, banyak orang yang tidak mengenal arti kata amanah, tapi menurut Abang, Adik Mering pasti penjaga amanah yang baik, makanya mendapatkan buku ini.

    Abang prihatin dengan maag Adik, pengalaman Abang, obat yang paling manjur adalah “Aludona” tablet dan kemampuan untuk hidup ikhlas, dua item di atas merupakan obat yang sangat manjur buat maag Abang !

    mengenai perbaikan Blog, Abang cuma mengharapkan bisa di pasangkan sitemeter, itu saja.

    sekiranya ini yang dapat Abang sampaikan, salam hangat,

    Andreas Acui Simanjaya

  2. Terimakasih atas komentarnya. Aku juga bersyukur banyak rekan dan sahabat-sahabat terus mendorongku untuk berjuang di jalur kepenulisan. Di West Borneo ini, hidup full time menjadi penulis belumlah menggembirakan. Karena itu hampir tidak ada orang tua yang berpesan kepada anaknya:”Nak, kalau sudah besar nanti, jadilah penulis”.
    Hingga tahun 90-an di West Borneo ini seingatku, banyak orang tua kita dikampung, yang mampu mengirim anak-anaknya ke perguruan tinggi berpesan kalau sudah selesai nanti menjadi pegawai negeri.
    Karena itu, profesi sebagai penulis atau journalis masih dipandang sebelah mata hingga sampai saat ini.
    Ketika turut mendirikan Borneo Tribune, aku dan teman-teman juga mendirikan Tribune Institute. Nur Iskandar, salah satu Direktur dan juga Pimred Borneo Tribune meminta aku mengelolanya.
    Hatiku sedang terbakar ketika itu, mengingat sangat sedikit pemuda-pemudi kita dari Kampung yang walau pun sudah berpendidikan tetapi kemampuan menulisnya sangat terbatas.
    Dalam hati kecilku, melalui Tribune Institute–yang walau pun tak ada dana operasionalnya–kelak semakin banyak orang di West Borneo mendapatkan pengetahuan tentang menulis yang baik.
    Suatu ketika aku menulis surat ke mbak Fiqoh di yayasan Pantau, karena aku teringat pada sebuah artikel yang berjudul Why Joni Can’t Write. Walau cuma mendengar ceritanya dari Nuris, tapi sangat menginspirasi saya untuk berkampanye melalui Tribune Institute bersama teman-teman tentang pentingnya orang-orang di pulau ini menulis. Supaya sejarah dan kearifan lokal mereka tidak hilang sia-sia dan punah bersama masa.
    Ketika melakukan workshop menulis kecil-kecilan di YPPN, untuk 2 NGO disana, dalam benak saya sempat melintas sebuah penggalan adaptasi kalimat di atas: WHy Pak Uhe’ can’t Write? Pak Uhe’ adalah salah satu peserta workshop menulis selama sepekan di kantor YPPN, Pontianak, pekan lalu. Pak Uhe’ adalah seorang pemimpin radio komunitas di Raba, Kecamatan Menjalin. Dia mewakili prototipe orang Dayak di Kabupaten Landak yang ingin maju walau usianya sudah lebih tua dariku.
    Selama ini orang-orang kampung di West Borneo belum mendapat kesempatan mengenal dan memahami dunia kepenulisan dan jurnalistik. Jika ini terjadi berarti citizen jurnalism bukanlah sekadar mimpi.
    Dalam setiap kampanye ke komunitas-komunitas, kampus-kampus dan ke sekolah-sekolah di Kalbar, Aku selalu mengutip perkataan Pram: Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
    Aku berhutang budi pada mas Andreas, Pantau dan teman-teman di Jakarta, walau Aku belum dapat sepenuhnya menerapkan pengetahuan yang didapat di sana. Tetapi sejak belajar di lembaga itu dan berkenalan dengan mas Andreas, barulah aku memutuskan hidup aku menjadi penulis.

    Salam
    Mering

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s