Tiga Mimpi

by A.Alexander Mering

Malam ini saya mimpi naik pesawat ruang angkasa. Beberapa menit setelah benar-benar sadar, saya lantas meraih handphone untuk melihat waktu. Pukul 01.29.
Tak banyak detil yang kuingat dalam mimpi itu, kecuali keberangkatan dan bagaimana menyalakan tombol-tombol yang seperti garis-garis memanjang lurus dan berpedar, garis-garis yang meninggalkan warna-warna biru tua mirip hologram. Aku tidak tahu tujuan penerbangan itu, selain melesat ke angkasa bersama seorang pilot lelaki yang samar-samar saya kenal, tapi entah siapa. Ajaib sekali. Tanpa pengetahuan, tanpa penejelasan, tahu-tahu saya telah menjadi seorang akasawan.
Di akhir cerita, sebelum terjaga, saya teringat ada Nur Iskandar dalam sebuah percakapan setelah kami pulang dari perbangan yang konon dilakukan seminggu—tapi saya sendiri tak ingat apa-apa karena waktu serasa hilang saat itu—dia mengatakan tak dapat menghubungi kami. Saya bilang, memang ada gangguan komunikasi, dan tak dapat diperbaiki selama penerbangan.
“Jangankan komunikasi ke bumi, ke ruang paling bawah pesawat saja, jaringan terputus,” kata saya. Saat berbicara, sepertinya saya tengah berdiri di salah satu sayap pesawat, yang sedang dicheck para mekanik.
Sambil melangkah ke luar kamar tidur, saya memikirkan mimpi ini. Entah apa maknanya. Bahkan saat masuk ke toilet untuk pipis, bayangan pesawat luar angkasa di benak saya itu masih membekas.
Sepanjang hidup, hanya ada 3 mimpi aneh yang pernah saya alami. Pertama mimpi melihat bidadari warna emas turun dari langit. Itu semasa saya masih kuliah dulu, sekitar tahun 1997. Yang ke dua mimpi dirasuki nanga hijau dan naga emas, akhir tahun 1999, dan yang terakhir adalah mimpi naik pesawat ruang angkasa ini. Saya meneguk segelas air minum, untuk benar-benar meyakinkan saya masih di waktu bumi. Kemudian masih dengan perasaan penasaran saya menyambar laptop dan menuliskan ingatan ini.
Entah apa guna dan maknanya. Tapi karena tak tahu apa yang mesti dilakukan, saya pun menuliskannya untuk sekadar mengingat.
Saya tidak tahu apakah sebuah mimpi memiliki arti. Bahkan kedua mimpi saya yang pertama saja, hingga hari ini tak diketahui apa maknanya.
Oke, baiklah. Tak payah dipikirkan. Saya mengalihkan perhatian ke tumpukan buku dan majalah di samping tempat tidur yang belum sempat dibaca. Buku Asia Future Shock, karya Mickhael Backman dan satu lagi photo copy buku Global and Its Discontents karya Joseph E Stiglitz, menindih majalah SWA No 11/XXIV/29 Mei-11 Juni 2008, tentang Blueprint Indonesia er.2.0. Yaitu prediksi mengenai Indonenesia 2030. Konon menurut majalah itu PDRB penduduk Indonesia (Andreas Harsono sering menyebutnya Indopahit) meningkat menjadi US 5, 13 triliun. Ini membawanya masuk ke 10 besar tujuan wisaata internasional dan 30 negeri terbaik di bidang pembangunan SDM. Dituliskan juga, sedikitnya terdapat 30 perusahaan asal Indonesia bakal masuk dalam daftar Fortune 500. Artinya Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor 5 di dunia, setelah Cina, AS, Uni Eropa dan India. Waw, Benarkah!?
Atau itu hanya sekadar mimpi saja? Seperti mimpi-mimpi saya tadi. Mimpi aneh yang penuh teka teki.
Paling bawah adalah majalah business review, Edisi 02/Tahun 2007/Mei 2008. Saya hanya membaca judulnya saja, Kebangkitan Agrobisnis Indonesia. Puiiih! Kepala saya sakit untuk sekadar meyakinkan diri tentang ini semua. Apalagi di cover majalah itu ada wajah presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di dampingi Ani SBY, Aburizal Bakriee dan seorang mentri, yang entah siapa. Otak saya menolak mengingatnya.
Tadi siang buku-buku dan majalah tadi saya boyong dari kamar Rev FR Johenes Robini Mariannto, O.P di seminari tinggi Interdiosesan, jalan 28 Oktober.
Robini adalah Vice Director PUKAT UIN. Yaitu Center for studies of East Asia Area, State Islamic University (UIN) “Syarif Hidayatllah” Jakarta. Di Pontianak saya hanya mengenalnya sebagai pastor dan direktur Central for Research and Inter-Religious Dialogue (CRID). Kami bertemu saat dia sedang risau karena laptopnya dihajar virus. Sekarang sudah di-install ulang.
Beberapa program harus di setting lagi, terutama untuk akses internet. Berkali-kali dia menghubungi petugas speedy. Hingga kami pulang makan siang, sang petugas belum juga nongol.
Di luar kamar, suara burung malam terdengar sayup. Anjing sesekali menggonggong di kejauhan. Saya dapat mendengar dengan jelas tak-tik-tok jarum jam dinding di ruang tengah rumah. Setelah mengetik sekitar 588 kata, ternyata saya belum menemukan judul yang tepat untuk catatan ini. Dan celakanya saya belum berhenti mengetik. Tampaknya saya harus membaca untuk mengundang kantuk. Jika tidak, saya akan tersiksa dan terus melek hingga pagi kelak.

Villa Ria Indah, Pontianak
02:41 WIB

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s