Indonesia: Panas, Pedas dan Dangdut

by A. Alexander Mering

Suatu sore, seekor tikus berteriak-teriak panik. Dengan wajah pucat ia melompat ke kandang ayam.
“Yam…, ayam, tolong saya. Itu…itu Nyonya rumah, majikan kita memasang perangkap tikus di rumahnya?”
“Apa masalah mu hah?’ kata ayam yang sudah mulai mengantuk.
“Perangkap tikus!” kata si tikus geram, karena temannya itu memang agak bolot.
“O…, itu masalah mu kawan, bukan masalahku, sebab aku seekor ayam,” kata sang ayam cuek.
Sang tikus kecewa. Dengan gontai dia menuju kandang kambing.
“Mbing..help me please…”
Mbeeekkwhat your problem Brur?”
“Nyonya majikan kita memasang perangkap di rumah, saya akan mati…,” kata sang tikus memelas. Sang kambing malah tertawa.
“Mbekekekek!!! Itu perangkap tikus kan Brur? Bukan perangkap kambing?” ujarnya sambil mengejek.
Walau kecewa, tapi sang tikus belum putus asa. Ia berjalan ke kandang sapi. Ini adalah mahluk paling besar di perternakan. “Mungkin dia ada solusi,” pikir tikus.
“Pi, kamu adalah yang paling besar di antara kita di sini, saya benar-benar membutuhkan pertolonganmu.…,” kata sang tikus meregek.
“Apa yang bisa saya bantu brother?”
“Nyonya majikan kita memasang perangkap tikus, saya tak dapat makan. Saya akan mati…,” ujar Tikus dengan air mata yang mulai tergenang.
Seperti ayam kambing, sapi jantan itu pun malah tertawa sekeras-kerasnya.
“Wakakkak, brother…brother…, kamu ini bodoh sekali? Itu kan prangkap tikus, bukan masalah kami. Sudahlah, pulang saja. Jika tak ada makanan, datang saja ke sini, kita makan rumput saja.”
Dengan hati teriris, tikus pulang ke rumah. Tak satu pun yang prihatin, apakan lagi membantu. Padahal mereka sama-sama bangsa binatang. Tikus merasa dirinya akan mati. Malam itu ia terpaksa puasa dan tertidur di emperan, dekat dapur sambil memandang kue yang dipasang sebagai umpan di perangkap bergerigi, di bawah meja makan.
Di pagi-pagi buta, Nyonya rumah berteriak kesakitan. Kakinya kena hantam gerigi perangkap. Senjata tuan makan tuan, dia lupa perangkap tersebut di bawah meja makan. Saat membawakan sarapan untuk suaminya, kakinya masuk perangkap dan terluka.
Sorenya sang Nyonya langsung demam dan tak mau makan, walau sang suami membujuknya berkali-kali.
“Baiklah, saya akan potongkan ayam agar kamu mau makan ya,” kata suaminya. Dia pun menangkap ayam di kandang dan memotongnya. Tetapi sang nyonya tak juga mau makan, karena sakitnya makin parah Sang Nyonya dibawa ke rumah sakit. Karena kekurangan uang untuk biaya perawatan, suami memerintahkan pembantunya menjual kambing mereka ke tempat pemotongan hewan. Walau demikian, malang tak bisa ditolak, untung tak dapat diraih. Sang Nyonya yang terkena tetanus parah nasibnya tak dapat ditolong.
Dengan perasaan duka luarbiasa sang Suami membawa pulang jasad sang istri dan Menguburkannya. Karena tamu dan kolega banyak sekali datang untuk melayat, sementara persediaan menipis, lelaki itu memerintahkan orang memotong sapinya untuk memberi tetamu makan. Maka sapi pun disembelih.

***

Di teras rumah, cuaca sedang tidak ramah. Walau di atas kampung langit sedang mendung, tapi udara terasa sangat gerah. Keringat gugur, menteror perasaan para peserta yang sedang berkumpul di sebuah rumah besar di Marhaban.
Kami sedang makan siang ketika mendadak dua buah speaker mendadak menyalak. Beberapa peserta kaget, karena volume VCD yang dipakai memutar musik itu terlalu keras. Lagu kucing garong pun medesah-desah, membuat darah tercekat.
Selera makanku langsung kendor. Ditambah hidangan hari pertama kedatangan kami, 23 Mei itu, ayam goreng, lalap kacang panjang dan sambal. Aku sudah lama berhenti makan daging, jadi hanya makan kacang panjang dan sambal yang pedasnya a’uzubillah. Lidah rasa dikerat-kerat. Bukan salah yang membuat sambal, tapi aku yang tak kuat. Sebab menurut Yohanes Supriyadi, sambalnya sangat enak. Kami menyapanya Yadi saja, dia salah seorang fasilitator kegiatan ini, bersama aku dan Purbertus Ipur. Bahkan Yadi memuji keahlian wanita Madura Marhaban membuat sambal.
“Weleh-weleh…bagi saya, yang namanya sambal ya pedas!”
Saat itu saya benar-benar merasa tersiksa, cuaca panas, pedas dan dangdut!
“Tak, ini beda. Ulekannya sempurna.”
Yadi menyampaikan argumennya.
“Ya, ini sambal enak sekali,” timpal Anika.
Anika orang Jerman yang turut nebeng dalam kegiatan kami. Dia antropolog yang sedang meneliti diskursus konflik etnik di Kalimantan Barat.
Anika memang terbiasa dengan makanan Indonesia. Di Kampung Bolat, Kecamatan Menjalin Kabupaten Landak saja dia sudah 9 bulan menetap. Jadi saya enggan berdebat dengannya soal sambal.
Sambil nangkring di teras depan sementara piring nasi di tangan, kami kemudian bicara soal Indonesia dan keberagaman.
“Bagi saya, Indonesia tak ubahnya dengan keadaan yang kita alami di sini”.
“Apa itu?”
“Indonesia adalah panas, pedas dan dangdut.’
Anika mengernyitkan keningnya. Yadi mengangkat pantat, beranjak ke dalam mencedok sambal sekali lagi. Anika sebenarnya menambahkan satu kriteria lagi soal ini, Kopi!. Ah, terserahlah. Tapi bagi saya Indonesia, sebenarnya sangat kaya. Tapi sayang salah urus!

***
Kampung Marhaban, adalah bagian dari Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan. Letaknya hanya sekitar 15 kilo meter dari kota Singkawang. Jika di kota Singkawang di dominasi warga keturunan Tionghoa, sehingga kerab digelar kota Amoy, Marhaban pula sebagian besar dihuni warga Madura. Dulu tempat ini adalah lokasi pengungisian warga Madura, menyusul peristiwa kerusuhan etnik Dayak-Madura di Samalantan, Bengkayang tahun 1997. Sejak itu Kampung Marhaban terus berkembang dan diperkirakan jumlah penduduknya kini sudah mencapai 900 Kepala Keluarga (KK). Ada 9 RT yang warganya 100 persen Madura, jumlahnya diperkirakan sektiar 800 jiwa. Rumah Haji Mathori Abu bakar, tempat kami menginap dan mengadakan kegiatan terletak di RT 55. Mathori adalah tokoh Madura setempat yang pernah 2 kali merantau ke Arab Saudi. Bahkan salah seorang anak perempuannya masih bekerja di sana.
Jumlah rombongan kami sekitar 30 orang, perwakilan dari 14 kampung dari beberapa kabupaten yang menjadi wilayah kerja Yayasan Pangingu Binua (YPB), penyelenggara kegiatan tersebut. Ada perempuan Melayu dari Selakau, Madura Marhaban, Dayak Kecamatan menjalin dan lain-lain. Tetapi peserta lelaki lebih banyak. Tujuannya adalah mempersiapkan kader atau agen perdamaian bagi sub suku di kampungnya masing-masing. Orang-orang Non Government Organization (NGO) kerap menyebutnya Community Organizser (CO). Saya tak ingat satu per satu asal kampung mereka. Tapi saya cukup terkesan dengan kerja YPB yang gigih mengajak kaum muda dari kampung-kampung tersebut mau bekerja secara sukarela untuk resulusi konflik. Mengingat ke tiga suku ini sering berkelahi. Yang terakhir adalah konflik berdarah Madura-Melayu, di Sambas tahun 1999. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s