Mengorek Bakat Menulis Orang Korek

By A.Alexander Mering

Sejak jalan Trans Kalimantan dibuka, Desa Korek tak lagi seterisolir. Jalan yang melintasi Kecamatan Sungai Ambawang, Kecamatan Tayan Hilir sebagian besar sudah diaspal. Hanya sekitar 33 KM saja yang belum. Karenanya perjalanan ke Desa Korek Minggu (30/6) sore itu hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit saja dengan jarak tempuh 29 KM dari Kota Pontianak. Padahal dulu jika mau ke Korek, anda harus terpanggang berjam-jam dalam motor air.
Nama korek konon diambil dari bahasa lokal, yaitu Pangorek. Artinya melubangi. Tanah di Kampung korek ini pada awal pembentukannya konon dimulai dengan dilubangi.
Supaya tak terlalu merepotkan, kami menunggang sepeda motor masing-masing. Hentakun paling depan, Yohanes Supriyadi, Agery Kalvara di belakang. Yang menjengkelkan hanya saat melintasi Desa Ambawang Kuala. Jalannya masih dalam pengembangan dan perbaikan. Terminal bus internasional, Kuching-Pontianak sedang dibangun di sana. Debu mengepul ke udara saat truk lewat. Rumah penduduk di kiri kanan berubah menjadi kelabu. Begitu juga nasib pakaian kami saat melintas.
Sebelum diberlakukan undang-undang regrouping desa, Korek adalah sebuah kampung, bagian dari pemerintahan Binua Sungai Samak. Kemudian menjadi Desa Korek yang secara administratif bagian dari wilayah Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Pontianak yang berpusat di Mempawah. Tapi sejak pemekaran wilayah, tahun 2007, Desa yang berpenduduk sekitar 5168 jiwa ini resmi menjadi bagian dari Kabupaten Kubu Raya. Total penduduk kabupaten baru itu 480.938, tersebar di 9 Kecamatan, termasuk Kecamatan Sungai Ambawang tadi.
Hingga tahun 2007, sepanjang perjalanan hanya ada semak belukar dan kebun rambutan serta rumah penduduk beratap daun di kiri kanan jalan tanah. Kini telah berdiri rumah toko (Ruko) dan SPBU. Setidaknya ada 3 SPBU berdiri kokoh di tiga lokasi berbeda, yaitu Desa Kuala Ambawang, Kampung Jawa dan Cabang Kiri.
Tanahnya tak beda dengan Kota Pontianak, rawa dan gambut tanpa perbukitan. Beberapa kawasan tumbuh subur pohon sagu dan karet. Demografi Desa Korek multi etnik. Namun yang paling dominan hanya Madura dan Dayak, sisanya Melayu, Jawa dan Tionghoa. Meski pertikaian etnik Madura-Dayak kerap terjadi di Kalbar dan meluas, tetapi untuk Desa Korek tetap saja aman dan tentram.
Kami menginap di Rumah Frans Seda, persis di depan Gereja Katolik Stasi Santa Clara, Paroki Sei Ambawang di Korek. Frans adalah Ipar saya. Dia alumni Seminari Tinggi Semarang yang urung jadi Pastor. Sekarang bekerja sebagai guru honorer di SMAN 2 Pancaroba. Karena masih sore, kami berjalan-jalan seputar kampung, bercakap-cakap dengan warga dan bruder Herman, yang bertugas di sana. Menjelang petang kami berjingkat-jingkat ke belakang rumah, mencari manggis.
Yadi dan Frans memanjat dengan sukarela. Yadi adalah nama panggilan Yohanes Supriyadi. Dia Ketua Lembaga Pemberdayaan dan Pendampingan Kaum Muda Kalimantan, dan juga Direktur Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN) yang mengabdi untuk perdamaian dengan kelompok kerja Kaum Muda (anak-anak dan remaja) multietnik di Kalimantan Barat sejak 2000.
Saya mengundangnya ke Korek untuk menjadi fasilitator pertemuan Tribune Institute dengan warga nanti malam di rumah Sekretaris Desa (Sekdes).
”Keranjang tempat menyimpannya mana?”
”Oii…!! Frans, jangan lupa bawa tempat buah.”
”Siip! Nih aku bawakan.”
Hentakun mengumpulkan buah yang dipetik Yadi, Agery menjolok di pohon lain dengan galah bambu. Sore itu menjadi sore yang menyenangkan karena kami ’berpesta’ makan buah mangis yang manis.

***

Yulius, guru SMPN 1 Sungai Ambawang yang saya minta mengorganisir pertemuan ternyata demam. Sementara Sekdes yang rumahnya akan kami pakai untuk pertemuan masih berkeliaran di Kampung Jawa, mengurus Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Saya berkeringat dingin, kuatir kegiatan batal. Akhirnya saya putuskan tidak mandi dan berkosentrasi pada upaya mengumpulkan undangan. Frans saya minta menghubungi beberapa warga lewat HP. Tak cuma itu, dia lantas menstater sepeda motor menjemput beberapa kolega.
Pukul 20.00, sektiar 15 orang sudah berkumpul di Rumah Sekdes, Alosius. Orang kampung memanggilnya Alo atau Pa’ Reno.
Ketua III Dewan Adat Kecamatan Sungai Ambawang, F. Passer juga sudah nongkrong disana. Lantaran jumlah tamu bertambah, meja tengah digeser, kami duduk mengitari ruangan, beralaskan karpet dan tikar pandan. Meuble kayu yang dipernis licin akhirnya dijadikan tempat bersandar. Untuk ukuran kampung, rumah Alo tergolong cukup mapan. Bagian depan dibangun dari beton. Di dinding kiri ruang tamu ada poster besar Yesus bermahkota duri. Di sebelahnya poster Bunda Maria menengadah sambil menggenggam salip, lagi-lagi dari duri.
Suasana agak kaku. Apalagi ada 3 tamu yang tidak mereka kenal malam itu. Walau sebagian besar mengenal saya, tetapi sejauh ini mereka hanya tahu saya seorang wartawan. Karenanya mereka heran ketika saya undang berkumpul malam itu.
Pukul delapan lewat seper empat. TV di pojok ruangan dimatikan.
Saya memulai basa-basi untuk mencairkan suasana. Yadi memperkenalkan diri, dan menyampaikan tujuan kedatangan kami. Yadi bicara dalam bahasa Dayak Kanayatn, karena sebagian besar yang hadir adalah Dayak Kanayatn, kecuali saya, Hentakun dan Istri tuan rumah yang ternyata berasal dari Jawa.
”Saya berasal dari Nangka, Menjalin,” kata Yadi. Nenek moyang Yadi dan orang Ambawang sama-sama berasal dari Benua Lumut, Lamoanak, di kaki bukit Samabue, Kecamatan Menjalin. Setelah itu satu-persatu memperkenalkan diri dengan komentar pendek tentang latar belakang pekerjaannya. Rupanya para tamu ini ada beberapa di antaranya guru, mahasiswa, petani karet, Kepala Dusun dan pengurus adat. Saya berbisik kepada seorang pemuda di samping saya dengan bahasa setempat.
”Fer, apa kerjamu sekarang?”
”Menoreh karet saja?”
”Wah, lumayan juga tu, sekarang harga karet sedang naik.”
Ferry membalas komentar saya dengan senyum kecut.
Saya pernah mendengar cerita bermigrasinya beberapa orang Lumut ke Ambawang pasca pertikaian orang Dayak di sana dengan warga Tionghoa penambang Emas sekitar abad 18. Salah satu yang berhasil lolos dari maut adalah Nek Bagas. Dialah yang membuka pemukiman di sini dan kelak menjadi nenek moyang orang Sungai Ambawang.
Saya memandu kegiatan dengan agak kocak. Beberapa terbatuk-batuk menahan tawa. Saya bercerita soal Tribune Institute berikut program Jurnalisme kampung yang diusung. Juga tentang tujuan pertemuan malam itu. Saya tak tahan bicara lama karena 6 orang merokok dalam ruangan, membuat hidung terasa panas dan sesak.
Hentakun, berpidato kecil. Alumni Pendidikan Sejarah Sanata Dharma itu berusaha menggugah kesadaran para hadirin tentang pentingnya arti menulis. ”Banyak sekali pahlawan di Kalbar, tetapi tidak sepopuler Pangeran Diponegoro, karena sejarahnya tidak ditulis. Diponegoro ditulis.” Diponegoro yang dimaksud Hentakun adalah Raden Mas Ontowiryo, yang Tahun 1825 – 1830 berperang melawan Belanda. Kemudian dinobatkan sebagai pahlawan nasional.
Selain Sekdes, Alosius juga ternyata kader organisasi Pemuda Adat Dayak Sungai Ambawang. Dia bilang sangat tertarik pada misi dan program Tribune Institute. Selama ini upaya yang dilakukan masyarakat lokal bersama dewan adat untuk melestarikan budaya, mendokumentasikan sejarah terjadinya Sungai Ambawang belum juga terwujud. Padahal menurutnya upaya itu sudah dilakukan sejak tahun 2002, lewat seminar adat termasuk upaya melakukan penyeragaman besarnya hukum adat se Kecamatan Sungai Ambawang. Misalnya nilai 1 tail berapa, tempayatn menyanyi untuk apa, tempayatn jampa untuk apa, dan seterusnya.
”Apa yang disampaikan Alosius nyambung sekali dengan program ini. Selama ini yang kita baca dan pelajari hanya tentang sejarah luar saja, tak pernah membaca dan mempelajari tentang sejarah diri sendiri,” kata Yadi. Dia menceritakan pengalamannya sejak 2001 menginisiasi, mendokumentasikan sejarah kampung, adat-istiadat, kearifan local untuk bahan pelajaran muatan lokal (Mulok) sekolah-sekolah di Kabupaten Landak hingga tahun 2006.
”Jika lembaga adat tak diperkuat, ia akan seperti bendungan yang lama kelamaan retak-retak kemudian pecah.” Sayangnya kata Yadi lembaganya belum berjaya melakukan mengembalikan sistem pemerintahan ke pemerintahan asal, yaitu pemerintahan Binua. Padahal Sumatera Barat, semua desa sudah dikembalikan ke pemerintahan Nagari.
***
Di bawah remang bohlam 11 watt, kopi yang dihidangkan Ny Alosius tampak pucat. Tapi aroma kopi menggoda para tamu untuk segera menyerumputnya hangat-hangat. Tak ada yang menyadari kalau di tengah-tengah ruangan tergantung plastik yang dibasahi minyak goreng, penjebak serangga yang terbang liar dan bisa mengotori kopi di gelas.
Paser bicara soal naik dango beberapa waktu lalu sebagai upaya melestarikankelestarian adat. Selain itu juga melaksanakan adat balalak, Eap setiap tanggal 10 September dan adat baburung. Kelemahannya menurut Paser adalah belum ada upaya membukukannya dengan serius.
”Sayang Pak Japri sudah meninggal, karena dia yang pernah menulis tentang sejarah dan hukum adat Sungai Ambawang,” kata Paser. Japri adalah panggilan untuk almarhum Japri Ray Nyaro, yang pernah menjabat sebagai temenggung adat Benua Sungai Samak.
Paser juga menyebut nama Adrianus Adam, dari Sungai Ano—salah seorang familinya—yang punya hobi menulis.
Yadi bicara lagi, ”andaikan saja dari dulu, para temenggung kita ada yang menulis, maka generasi sekarang masih dapat membaca.”
Frans menanyakan apa dan latar belakang YPPN dan YPB hingga kemudian memutuskan bermitra dengan Tribune Institute. Yadi menjelaskannya panjang lebar dan saya menambahkan beberapa hal. Frans sendiri sudah mengenal Tribune Institute, lewat saya.
”Tentang menulis aku sendiri punya apresiasi yang luar biasa,” komentar Frans. Walau hanya seorang guru di Kampung dan tinggal di tengah warga yang minat bacanya kurang, Frans dengan latar belakang dan kultur akademik seminari tinggi, cukup akrab dengan nama pemikir maupun penulis ulung seperti Plato dan Aries Totel. Apalagi Jesus. Dia sudah melahap tulisan Kal Marx hingga John Naisbitt. Dia mengakui kesulitan ada pada menulis walau banyak ide yang berseliweran. ”Kita tahu cerita pak Ali-Ali, tapi cobalah tulis!” katanya.
Bagi kaum muda di masyarakat yang minat bacanya rendah, membaca karya dan buku-buku ilmiah adalah masalah besar. Tak lebih dari kumpulan kata-kata tanpa jiwa yang kering dan membosankan. Menurutnya berbeda jika tulisan itu disajikan dalam bentuk cerita. Satu lagi usulnya yang menarik, menulis dalam bahasa lokal selain bahasa Indonesia.
Di ujung pertemuan saya mengutip kata-kata Pramoedya Anata Toer, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dengan falsafah ini Tribune Institute sejak setahun terakhir berupaya mengkampanyekan semangat menulis untuk masyarakat Kalbar, tak terkecuali masyarakat Kampung. Antara lain memperkenalkan prinsip citizen journalism, dimana seorang Sekdes seperti Alo, Petani Karet seperti Ferry, Guru SD seperti Emelius dapat menulis dengan baik. Kami bubar persis pada pukul 22.22. Jangkrik dan suara burung malam menggiring kepulangan kami ke rumah masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s