Terminator Kunang-kunang

By: Wisnu Pamungkas

Aku hanyalah seorang terminator, Nisanak. Mesin tercanggih yang dikirim dari masa depan dengan program penyelamat. Di otakku disisipkan sebuah instruksi yang berisi seluruh modul misi yang akan mengantarkanmu hingga sampai ke tujuan.
Aku tidak menyangka akan ada benda aneh menyusup seperti virus ke pusat kendali program. Ia menginfeksi dengan dahsyat. Tak sempat aku mematikan mesinku.
Meski aku adalah generasi terbaru dari seluruh robot yang pernah diciptakan, tapi aku gagal mengelak dari sabotase energy yang begitu cerdas dan juga memabukkan. Kau yang pertama kali mengenalkannya padaku, karena aku mengira sebuah mainan.
Celakanya Nisanak, aku menjadi begitu akrab pada modul dan aplikasinya. Aku merasa menjadi sebuah mahluk hidup, menjadi seperti human. Mencapai taraf emosi dan juga fitur pengharapan. Mula-mula aku mengiranya adalah program sisipan, tetapi ia lebih cerdas dari tipe mana pun yang pernah diciptakan. Ia seperti serpihan gemintang dari sebuah galasi purba yang belum pernah ditemukan sesiapa. Licin dan tak terformulasikan.
Ketika semuanya selesai. Aku menggelantang pada ruang. Aku belum pernah merasa cacat sehebat ini, merasa kehilangan separah ini, karena aku memang belum pernah memiliki sesuatu, walau pun sekadar skrup kecil di jempol kakiku.
Seharusnya aku mempelajari modulnya dulu. Bukan hanya membaca peta dan waktu. Karena aku baru sadar setelah kita berhenti pada titik ini. Pengaruhnya sudah begitu tak terkendalikan. Menyebar ke seluruh jaringan dan mengambil alih kecerdasan dan misiku.
Tapi Nisanak. Aku hanya mau berkata kepadamu. Saat bunga sudah mulai mekar, saat engkau sudah bisa tidur nyenyak, saat dada dipenuhi cinta, saat senyum bahagia terpahat, saat itulah misi ini selesai.
Aku hanya terminator Nisanak. Hanya besi yang kelak juga akan tua dimakan tanur oksigen (
oxy-fuel). Karena itu aku harus undur diri untuk memberi ruang kepada prototype baru yang akan menggantikanku kelak. Aku hanya bisa sampai disini saja Nisanak, mengantarkanmu ke sebuah bintang, di seberang fase yang langitnya semakin terang. Mision is Complete dan engkau tak akan lagi bisa melihat kunang-kunang.

Liang Kunang-kunang, 11 Juni 2009

Sepotong Senja di Santa Cruz

By: Wisnu Pamungkas

Aku capek menjadi manusia, jika aku masih boleh memilih, aku akan memilih menjadi senja. Menjadi cahaya yang ungu keperak-perakan di antara awan gemawan yang berarak. Bekerdap-kerdap cemerlang di cakrawala, menyepuh puncak gunung, pasir di pantai, silhuet panjang batu karang, dan selalu begitu, setiap saat di suatu tempat dan di suatu waktu yang entah kapan dan dimana. Aku akan memilih menjadi hari-hari yang selalu temaram untukmu, menjadi senja abadi yang paling sendu, tanpa harus merasa luka atau cemburu.

Jika aku mampu, pasti sudah lama aku duduk-duduk disini saja tanpa memikirkanmu.

Tapi nyatanya cinta pukimak ini, telah merampok nyaris seluruh akal sehatku. Menjadi terror mimpi dan juga saat sadarku. Perasaan yang diam-diam kemudian menjelma menjadi burung gagak, paruh yang kokoh mematuk tiap-tiap kerat sel tubuhku.

Semakin besar keinginanku untuk menolak dan mengelak dari perasaan paling taik kucing –yang pernah kukenal—dalam sejarah kehidupku, semakin besar pula luka terasa menganga di dada.

Padahal sebelumnya aku mengira diri sehebat Sinbad. Berlayar dengan lapar ke setiap teluk dan selat. Tapi di geladak cinta, rupanya aku tak lebih dari seorang bajak laut yang tak tamat berenang dan langsung telentang digasak gelombang. Aku langsung klenger dihantam petir. Aku tak sempat lagi mengelak, kala semuanya berputar-putar cepat. Oleng dalam hening, melintang di antara tiang, temali, galang, dan lentera.*)

Andaikan saja aku masih boleh memilih, maka aku akan memilih menjadi senja. Karena hanya senja yang jujur pada keindahan, tanpa mempersoalkan rasa sakit, penghianatan maupun noda.

CATATAN:
Santa Cruz : Great Santa Cruz Island, Zamboanga Philipina
*) Teringat pada sajak Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil.

CINTA ILUSTRASI 1

by Wisnu Pamungkas

Pada suatu senja, yang entah kapan dan dimana. Orang-orang berjalan ke suatu tempat dan menemukan waktunya sendiri. Dunia masih sangat muda kala itu dan cuma terbungkus sehelai handuk hangat. Semua orang terpesona.
Tampa malu-malu mereka berbicara satu sama lain.
“Inilah cinta sesungguhnya.”

Pontianak Timur, 23 Maret 2009

Kisah-kisah Kecil Teman-teman Pirang Saya

By A. Alexander Mering

Ketika masih kecil saya hanya sesekali saja melihat orang kulit putih. Begitu kakek dan orang-orang di kampung saya menyebut orang-orang yang datang dari Eropa sana. Orang Indonesia, menyebut mereka bule. Ibu saya menyebutnya Orang Barat. Jiran saya di Malaysia pula menyebutnya Mat Salleh. Orang Iban menyebutnya Urang Ribai. Kebanyakan yang pernah saya lihat adalah rohaniwan dan rohaniwati yang bertugas menyebarkan agama Katolik hingga ke pelosok Borneo, hingga ke kampung saya. Salah seorang yang saya ingat adalah Pastor Bernard dari Belanda. Pastor itu pernah mengurapi saya dengan air kudus dan juga minyak saat saya sakit payah. Ibu yang membawa saya menemuinya ke Paroki Bika Nazaret, karena saya tak sembuh-sembuh. Kira-kira kala itu saya baru kelas 1 SD. Eh, Ajaib, saya sembuh dari demam yang membuat saya nyaris lumpuh.
Di Pontianak yang notabenenya Ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, saya pun masih jarang bertemu Mat Salleh. Padahal saya sudah mahasiswa di Universitas Tanjungpura di Pontianak kala itu. Pasti karena dunia pariwisatanya payah! Coba lihat di Sarawak, bejibun-jibun Mat Salleh datang tiap tahunnya. Padahal Sarwak dan Kalimantan Barat satu daratan dan cuma dipisahkan batas sempadan saja.
Soal Keindahan, niscaya Kalbar tak kalah. Bahkan semua yang terbaik, ada di Kalimantan Barat. Ambillah contoh, tumbuhan Nephentes Clepeata, hanya ada di Bukit Kelam, Kabupaten Sintang. Republik tertua di nusantara, yaitu Republik Lan Fang di Mandor dan He sun di Monterado. Danau Sentarum, sebagai danau terunik dan terluas di pulau Borneo ada di Kabupaten Kapuas Hulu! Wah, tak cukup kolom ini kalau mau di sebut satu-satu.
Soal budaya, relative sama. Bahkan Dayak di Indonesia dan di Malaysia, kebanyakan masih satu kekerabatan. Sepupu-sepupu nenek saya berada di Sarawak. Begitu juga rumpun Malayu. Beberapa pakar etnolingusitik, seperti Doktor Yusriadi, Alumni Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang kini bekerja sebagai Redaktur Borneo Tribune, mengelompokkannya sebagai kelompok Malayik. Bahasanya bahkan nyaris sama. Hanya variannya saja yang berbeda, karena disana pengaruh Inggris, sedangkan di Indonesia dipengaruhi bahasa Belanda, Jawa dan juga Betawi (?). Mengapa bule-bule itu cuma ke Sarawak saja dan ogah mampir ke West Borneo?
Setelah menjadi wartawan, saya memang sering bertemu orang bule. Intensitas pekerjaan membuat saya harus berurusan dengan orang-orang dari berbagai Negara. Baik sekadar wawancara, teman seperjalanan dan atau sekadar say hello saja. Terutama ketika saya melancong ke luar negeri. Tetapi yang masih mengherankan, mengapa Kuching begitu ramai wisatawan manca negara, eh, di Pontianak bisa dihitung dengan jari bule-bule yang datang. Apakah karena Pontianak kota yang nyaris tanpa identitas. Bakan semua situs sejarahnya yang tersisa malah dirobohkan dan nyaris habis punah?
Belakangan, sejak terbuka hubungan Borneo TribuneTribune Institute dengan Bonn University di Jerman, ada 4 bule magang di kantor saya. Mereka mahasiswa dan mahasiswi Jerman yang kuliah di universitas tersebut. Semuanya berambut pirang! Tujuannya belajar bahasa Indonesia selama 3 bulan penuh.
Salah seorang dari mereka yang saya kira paling lucu adalah Christian Stegmann. Sebelumnya sudah ada Mathias Waldmayer, Dorina Loise Schulte, dan Sina Gil Mandelich yang ‘mondok’ dan juga mengharu-biru di ruang redaksi. Yanti Mirdayanti, dosen di Boon University mengirim mereka ke Pontianak . Yanti adalah orang Indonesia yang sekarang tinggal di Jerman dan mengajar di universitas Bonn.
Kantor kami jadi warna-warni, terutama di dapur redaksi. Seperti salah satu bunyi motto kami, keberagaman. Lengkapnya: Idialisme, Keberagamaan dan Kebersamaan. Motto ini juga kristalisasi dari visi Koran Borneo Tibune, yaitu Inspirasi Peradaban Borneo.
Ohya, tentu saja tak semua kami pandai berbahasa Inggris, apalagi bahasa Jerman. Begitu juga tetamu kami yang lalu lalang setiap hari. Padahal saya ingat saat di bangku SMA, ada mata pelajaran bahasa Jerman untuk orang Indonesia. Beberapa cuma bisa cas-cis-cus tak tentu-rudu. Tapi tak masalah, ini adalah proses. Bahkan tak sedikit wartawan yang tadinya cuma bermodal sepatah dua patah kata jadi berani menjajal bahasa Inggris-nya. Bukankah orang Singapura pun berbahasa Singglish (Singapura English), Malaysia berbahasa Mingglish (Malaysia English). Jadi tentu saja tak perlu malu jika nekad memakai Inglish atau Indonesia English yang campur ancur-ancur. Akibatnya percakapan menjadi lucu. Lantaran kerap tak nyambung. Kadang kala disambung dengan ‘bahasa tarzan’, kode sana-sini atau bahasa isyarat.
“Yak…yak…yak….,” kata Matias.
Christian menggaruk-garuk kepala, karena semakin tak faham.
Dorina dengan bibir yang sedikit dimerengkan mengucapkan,”terima kasiiih…”.
Teman-teman sebangsa dan setanah air saya yang sudah bisa berbahasa Inggris, semakin mengasah kemahirannya sehingga lebih fasih.
Keempat mahasiswa tadi pun mati-matian belajar dari crew redaksi, bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahkan mereka mengikuti pelatihan narrative reporting kelas Pontianak, yang diampu oleh Andreas Harsono, salah seorang muridnya Bill Kovach, yaitu ‘nabinya’ para wartawan.
Ada juga kawan-kawan yang lebai -lebai mengajarkan hal-hal yang sedikit merampot kepada teman-teman pirang saya itu. Misalnya Dorina diajari mengucapkan kata,”Merampot jak kau tu…”. Dengan logatnya yang lekat, Dorina mengucapkannya dengan vocal yang lucu sekali.
Sepulangnya dari Liburan ke beberapa negara, Mathias bercerita kepada saya tentang pengalamannya di Sabah, Malaysia. Dia dan pacarnya naik taksi dan bertanya dalam bahasa Indonesia kepada sang supir.
“Berapa ongkos dari sini ke pusat kota?”
“Heii…! Kamu pasti orang Indonesia, ya?”
“Bukan, bukan….saya orang Jerman,” Kata Mathias yang baru sadar kalau dirinya latah.
Tawa kami pun pecah mendengar kisah Mathias. Jelas-jelas tampangnya bule, pacar yang bersamanya juga bule Jerman. Eh, supir taksi itu malah mengira dia orang Indonesia. Usut punya usut, ternyata supir taksi itu yang orang Indonesia dan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Sabah.
Kemarin siang, Christian masuk ke ruangan kami. Dia berbincang dengan Hesti, salah seorang karyawati Borneo Tribune. Saat keduanya asyik bercengkrama, seokor kucing hitam dengan ulasan bulu kuning di dada menyelinap masuk, mengeong-ngeong keras, sok ramah pada Christian.
“Mungkin dia mau menyapa Christian,” kata saya.
“Ya, apa Mering suka kuching?”
”ya,… ya, saya suka”.
Dengan manja si kuching itu lantas menggelilingi betis Crhistian sambil menggesek-gesekkan punggungnya. Sambil mengong-ngong parau.
“Berarti kamu ada rasa kekucingan,” celetuk Christian serius.
“Apa?”
“Seperti rasa kemanusiaan, berarti juga ada rasa kekucingan,” kata dia serius.
Tawa kami meledak. Sekali lagi Christian menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambut pirangnya yang kribo semakin mengembang. Ini ciri khas Christian, kalau sedang berbicara dengan orang lain.
Suatu hari dia minta ajari saya menyanyian lagu, Bapak Yakup. Lagu yang diadaptasi dari lagu Brother John yang berasal dari sebuah lagu klasic prancis yang saya lupa judulnya.
Dorina juga punya banyak kisah lucu saat belajar. Salah satunya memakai bahasa Indonesia terpeleset.
“Itu sangat luci sekali…he..he..,” katanya. Padahal yang dia maksud adalah lucu.
Kadang saya tertawa senderi, mengingat hal-hal kecil yang terjadi saat mengajari mereka bahasa Indonesia dan belajar bahasa Inggris dari mereka. Inilah warna warni kala teman-teman pirang saya belajar bahasa Indonesia. Saya merenungkan bahwa betapa perbedaan bukanlah sesuatu yang salah. Justru kalau disyukuri ia menjadi sesuatu yang indah bahkan anugerah. Sebuah kekayaan yang menjadi pernak-pernik dan perhiasan hidup. Bagi saya, siapa yang membenci perbedaan sama saja membenci Tuhan. Sebab Tuhanlah yang menciptakan perbedaan-perbedaan. Jika Tuhan mau, dan k arena Dia Maha Kuasa, bisa saja Tuhan menciptakan dunia ini seragam. Misalnya cuma mencipta Bulu mata semua, tidak ada air, tidak ada terang, tidak ada lelaki atau perempuan, tidak ada yang lain, selain bulu mata. Dan bulunya pirang semua pula! Yaaa, kau….!

Catatan 5 Pebruari 2009

Bangkai Motor

by A. Alexander Mering

Aku tak tahu apa jadinya sepeda motorku ini. Keadaannya mengenaskan, usai kecelakaan yang menimpanya beberapa waktu lalu sudah kuceritakan pada tulisan yang lalu. Ini adalah kondisi terakhir mbike-ku di Bengkel Apo, saat di perbaiki. Walau pun sudah dipreteli karena tangan, kepala, body harus dibetulkan, kondisinya sudah jauh lebih baik, dari pada ketika pertama kali diangkat dari jalan. Apo bilang, sejak sekarang ia memerlukan waktu satu minggu lagi agar kondisinya pulih.

Karena Mata Badan Nyaris Binasa

by. A. Alexander Mering

Dubraaaak!
Detik berikutnya aku tak lagi ingat apa-apa. Kecuali gelap yang tak terukur kedalamannya. Hujan terus saja tumpah di jalanan, menggenangi selokan tempat aku tersungkur rebah.
Pegangan rem patah dua, spedo meter dan sarang kunci pecah menjadi serpihan, berhamburan di aspal bercampur lumpur dan bercak darah. Begitu juga Helm ‘standar’ yang kukenakan remuk seperti kerupuk. Stang terlipat-lipat seperti kawat jemuran. Jangan ditanya bagaimana rupa tangki dan jok motor, sama-sama rinsek!Tapi ajaib, aku bisa selamat! Padahal wajahku penyok berlumuran darah, diparut aspal. Barangkali hampir tak ada saksi malam itu, selain sepasangan muda-mudi yang kebetulan lewat. Mereka menggoyang-goyang tubuhku yang tertelungkup, cuma terbungkus jas hujan koyak.
“Dia masih hidup”.
“Ya, cepat bang angkat dia”.
“Ya”.
Dalam ricik hujan, sayup aku mendengar percakapan mereka. Ketika yang lelaki menyeretku ke tep, rasanya aku masih mengigau, menggapai-gapai mencari keseimbangan. Sementara jempol jari kananku tak terkatakan sakitnya. Sakit luar biasa di kepala membuatku siuman. Pria itu membantu mengangkat sepeda motor yang bentuknya sudah tak karu-karuan.
Aku mengucapkan terimakasih, dengan mulut penuh pasir bercampur asin darah. Mereka menawarkan pertolongan sekali lagi, tapi aku bilang kantorku dekat sini.
“Tak apa-apa, sekali lagi terima kasih bang”.
Aku masih kuat walau luka. Meski keseimbangan belum sepenuhnya pulih. Lagi pula pasangan itu pun tak sadar seberapa parah aku beradarah. Kala itu aku sendiri tak seberapa yakin bagian mana sebenarnya tubuhku yang parah. Sebab darah yang mengalir dari luka dengan cepat tersapu air hujan yang terus tumpah.
Naluri untuk bertahan membuatku benar-benar bangkit meraih rongsokan sepeda motor. Entah dari mana aku mendapat tenaga untuk bangkit dan pulang. Walau sudah menjadi rongsokan, tapi sepeda motor masih bisa distarter dan menyeretku sampai di tangga rumah. Aku memacunya tanpa rem tangan.
Gerakan roda belakang dan depan tak singkron karena shock-nya bengkok tak karuan. Jalannya mengingatkan aku pada anjing kurap yang berlari sehabis kaki belakangnya dipatahkan peronda malam.
Di atas sepeda motor, kepalaku bengkak rasanya terus bertambah, seperti balon di tiup dan disertai rasa sakit yang bukan alang kepalang. Aku hanya berdoa tak roboh sekali lagi di jalan.
***
Naas malam minggu, 10 Januari pukul 09.54 PM membuatku berfikir ulang tentang fungsi utama mata. Aku mulai mempertimbangkan sekali lagi pengelihatanku. Karena sebenarnya sudah lama mataku mengalami gangguan. Seingatku sejak 7 tahun silam. Sebelah kanan silinder, sebelah kiri minus 75. Entah berapa tepatnya aku tak ingat lagi, aku harus memeriksakannya lagi. Sebab aku sudah lama tak mengenakan kaca mata. Bukan karena gengsi, atau apa. Tetapi lantaran aku merasa tak praktis dan tak nyaman. Selain itu juga belum ada uang untuk membeli kacamata baru. Kacamata terakhirku sudah hancur berderai dilindas truk, kala jatuh di Jembatan Kapuas I, dua tahun lalu.
Sejak itu, setiap pulang malam dari kantor dalam keadaan hujan aku was-was. Apalagi kala melewati jalan raya yang tak ada penerangan listriknya. Diperparah lagi kaca helm yang kukenakan itu gelap.
Setelah seharian memandang screen computer, pulangnya mataku kerap berair. Lalu tak bisa menangkap dengan jelas object di depan. Terkadang lampu sepeda motor, atau tulisan reklame di sepanjang tampak kembar. Jarak pandangku makin hari makin terbatas dan jauh berkurang. Beberapa waktu lalu, aku pernah ditegur atasan lantaran editingku buruk. Aku malu, tetapi karena belum mampu beli kacamata aku diam saja. Untuk mengakalinya aku membesarkan font tulisan sampai 26. Itu pun masih saja ada huruf yang salah.
Saking malunya, aku sempat minta maaf kepada Nuris, Pimred Borneo Tribune.
“Maaf, aku belum mampu beli kacamata,”
Untuk menjaga reputasi media itu, aku minta berhenti saja menjadi editor, karena pengelihatan yang tak normal lagi kala memeriksa tulisan wartawan di screen computer.
Nah, yang menimpaku kemarin, adalah puncak dari persoalan mata yang fungsinya sudah melemah. Maklumlah, dari kecil aku hidup susah dan nyaris tak pernah makan wortel dan makan bergizi yang membantu mata menjadi sehat. Belajar malam hari pun pakai lampu minyak tanah, karena tak punya listrik.
Gara-gara mata yang tak lagi terang aku tak melihat dengan jelas sebuah motor tiba-tiba nongol dari dalam gang, tanpalampu pula. Tau-tau sudah di ujung moncong sepeda motorku. Aku memang berhasil mengelak dari tabrakan tapi jadinya aku yang babak belur menanggung sakitnya sendiri.Gara-gara mata, nyaris saja aku binasa!
Karena itu peliharalah mata Anda sebaik-baiknya, sebelum dunia tiba-tiba menjadi gelap selama-lamanya.

Laptop in Memoriam

By A. Alexander Mering

Sebuah Mobil kijang silver berhenti persis di belokan pertama, depan Bandara Supadio Pontianak. Mesinnya tak dipadamkan.
Berri tak bergeming di belakang setir. Berri bukan supir, dia advokat pada kantor Suwito & Associates. Sebuah kantor advokat cukup beken di Kota Pontianak. Tapi siang itu ia membantu kami menjadi driver.
Pintu samping terbuka. Aku Andreas Harsono dan Dwi Syafriyanti bergegas turun.
“Jangan bergerak dulu ya, kami akan mengangkat barang”.
”Oke”.
”Ingat ya, jangan jalankan mobil, ada laptop saya di kursi.”
Aku buru-buru mengangkat ransel Andreas Harsono dari belakang jok belakang. Sebentar lagi dia harus terbang ke Jakarta. Andreas adalah pengampu jurnalistik di Pantau Foundation dan salah satu jurnalis yang diperhitungkan di republik ini. Beberapa jurnalis menganggap Andreas keras kepala dan keterlaluan, bahkan Junaini KS, Pimred Harian Equator Pontianak pernah menyebutnya lebih Amerika dari pada Amerika. Aku pernah bekerja di koran yang dipimpin Junaini. Tetapi aku tak peduli penilaian orang. Bagiku Andreas adalah penemu bakat, dia sudah mengajar banyak wartawan—di negeri tanpa nabi yang begitu bangga menyebut dirinya Indonesia ini—bagaimana menghasilkan karya jurnalistik bermutu. Andreas sangat percaya karya jurnalistik yang bagus dapat mengubah dunia.
Andreas menenteng kardus berisi oleh-oleh, bekal sang mertua. Ada langsat punggur, chencalok kesukaan Safariah dan lain sebagainnya. Safariah adalah istri Andreas. Beban tampaknya sangat berat. Tangan lain, mengamit tas berisi Lumpia yang baru dibelinya di sebuah toko roti, Jalan Gajah Mada.
”Norman sangat suka Lumpia Pontianak,” katanya saat kami membelinya tadi.
Dia bergegas ke pintu masuk, check in. Andreas ke Pontianak untuk memberikan workshop Narrative Reporting untuk Pontianak 10-14 November di Hotel Peony Pontianak. Pantau dan Tribune Institute menggagas kegiatan ini. FLEGT-Support Project menjadi sponsornya.
Dwi bergegas menyusul Andreas. Berri masih di belakang stir sambil mengawasi kami mengangangkat barang.
”Jangan bergerak dulu ya…!”
Tapi baru beberapa langkah aku menuju peron, Berri pun menginjak pedal gas. Belum sempat sempurna, mobil batuk-batuk dan mati mendadak.
Jok mobil yang sedikit menekuk ke depan ikut terayun dan Gedebug! Laptopku yang masih terbuka kena hantam. Tadi aku belum sempat menutupnya karena tangan penuh barang, jok mobil memang belum disandarkan ke posisi semula.
Aku hampir menjerit. Berri pula hanya nenyengir kuda. Aku ke mobil setengah berlari, memeriksa laptop yang tadi masih menyala. Aku belum menyimpannya ke dalam tas, karena sepanjang jalan aku mengedit berita halaman 12 koran Borneo Tribune, sebab sudah di ambang deadline. Internet juga masih terpasang karena sedang mengirim berita editing tadi ke kantor redaksi via email. HP Sony Ericson yang kujadikan modem, kuletakkan di atas keyboard laptop.
”Alamak…, kan udah kubilang jangan bergerak!”
Suaraku tercekat di tenggorokan, tungkaiku lunglai saat lipatan laptop terbuka.
Screen retak 4 bagian. Tengah layar menyisakan bulatan hitam dengan garis-garis vertikal seperti benang berwarna.
”Bher, tadi aku sudah ingatkan jangan bergerak, sekarang lihat akibatnya…”.
”Maaf, aku tidak tahu…., maaf.”
”Oke…, tak apa, tak apa”.
Aku tiba-tiba merasa sangat lelah. Ada sedih, getir dan kecewa tertelan bersama-sama. Aku menyesal karena membiarkan saja laptop tak terjaga. Marah, karena tak mungkin marah pada Berri karena keteledorannya. Aku yang lalai. Sedih karena laptop Laptop Asus Ee PC mungil ini telah menemaniku sampai ke pelosok Kalimantan. Hutan, gunung dan ngarai sudah kami jelajah bersama dalam beberapa kali pengembaraan. Bahkan hingga ke puncak Bukit Sarung Sampuro yang dikeramatkan. Selain bukit Bawang dan yang lainnya, Sarukng Sampuro adalah bukit ketiga yang selalu dilafazkan pemantra, kala sub etnik Dayak Salako nyangahatn dalam sebuah ritual adat kepercayaan. Bukit ini terletak di Kecamatan Mempawah Hulu.
Aku juga pernah mengirim berita dengan laptop ini di tengah sawah, di Cap Kala, Kabupaten Bengkayang.
Ohya, warna telur asinnya kerap membuat beberapa rekan wanita gemas. Tak terkecuali Dorina, mahasiswi Bonn University yang sedang magang di Borneo Tribune. Bentuknya mungil, dirancang khusus bagi para traveler. Praktis dibawa, bahkan suatu hari aku pernah menyelipkannya di balik jaket saat naik motor. Biasanya kubalut dengan slayer bendera Jepang.
”Wah, itu pusaka samurai Jepang ya,” ledek seorang teman. Aku cuek saja, tapi diam-diam bangga mendekapnya karena bersejarah.
Memang tak secanggih generasi kedua. Selain tak dilengkapi web came, memorynya pun sangat miskin, Cuma 2 GB. Aku pun terpaksa membeli hardisk Eksternal 250 GB setelah menabung 5 bulan. Aku senang dan berusaha menjaganya dengan baik. Seminggu sekali aku sapu dengan cleaning foam, untuk membuang daki. Soal akses internet, asalkan ada signal Telkomsel, pasti tockcer! Agak lambat dikit, tetapi lumayanlah untuk kategori layanan telkomselflas unlimited. Cukuplah untuk sekadar buka-tutup email dan mengirim berita serta foto ke kantor redaksi dari jarak jauh.
Seorang wartawan pernah kutepis tangannya karena akan menyentuh laptop itu dengan tangan belepotan minyak bakwan. Aku bahkan sanggup menanti hujan reda, asalkan dia tidak lembab, apalagi basah. Karena itu accident ini seperti sebuah pukulan. Sakit! Tak saja aku telah merasa kehilangan, seolah-olah tanganku sendirilah yang terkulai, menjuntai-juntai tanpa arah. Tangan yang kehilangan tempat mengukir ide dan sekadar kisah.
Penyelenggaraan Workhsop Narrative Reporting yang sukses, ternyata harus kubayar dengan kerusakan laptop! Kesedihanku semakin sempurna ketika suatu pagi aku menerima SMS Freddy Hernawan.
”Maaf, bang, aku sdah tnya sna-sini, screen laptop abg tk dapat diganti”.
Lama aku tercenung. Laptop kecilku tak tertolong lagi. Haruskah aku memahat nisanmu di sini. RIP: ASUS EePC, 15 November 2009.