Menjadi Kunang-kunang

by Wisnu Pamungkas

Ketika takdir tak juga dapat menjelaskan dari keping yang mana aku berasal, aku tetaplah kunang-kunang yang berbahagia menjadi suluh bagimu, pada hari ini maupun kelak.

Juni dalam rinai hujan 2009

HANYA KEPADA SENJA

by Wisnu Pamungkas

Cintaku pada senja, melebihi keigintahuanku pada apa pun di dunia. Senja yang selalu merah, membiaskan warna saga di cakrawala.

Dunia Utopia

by A. Alexander Mering

Kiranya dunia kita memang sangat berbeda. Lapis atmosfer di atasnya adalah jarak yang bahkan tak bisa dihitung dengan rumus matematika di sekolahmu. Kalau pun kita telah bertemu, itu semata-mata karena kita rindu, rindu untuk datang ke suatu tempat yang telah kita sepakti bersama sebagai sebuah dunia yang lain.

Laptop in Memoriam

By A. Alexander Mering

Sebuah Mobil kijang silver berhenti persis di belokan pertama, depan Bandara Supadio Pontianak. Mesinnya tak dipadamkan.
Berri tak bergeming di belakang setir. Berri bukan supir, dia advokat pada kantor Suwito & Associates. Sebuah kantor advokat cukup beken di Kota Pontianak. Tapi siang itu ia membantu kami menjadi driver.
Pintu samping terbuka. Aku Andreas Harsono dan Dwi Syafriyanti bergegas turun.
“Jangan bergerak dulu ya, kami akan mengangkat barang”.
”Oke”.
”Ingat ya, jangan jalankan mobil, ada laptop saya di kursi.”
Aku buru-buru mengangkat ransel Andreas Harsono dari belakang jok belakang. Sebentar lagi dia harus terbang ke Jakarta. Andreas adalah pengampu jurnalistik di Pantau Foundation dan salah satu jurnalis yang diperhitungkan di republik ini. Beberapa jurnalis menganggap Andreas keras kepala dan keterlaluan, bahkan Junaini KS, Pimred Harian Equator Pontianak pernah menyebutnya lebih Amerika dari pada Amerika. Aku pernah bekerja di koran yang dipimpin Junaini. Tetapi aku tak peduli penilaian orang. Bagiku Andreas adalah penemu bakat, dia sudah mengajar banyak wartawan—di negeri tanpa nabi yang begitu bangga menyebut dirinya Indonesia ini—bagaimana menghasilkan karya jurnalistik bermutu. Andreas sangat percaya karya jurnalistik yang bagus dapat mengubah dunia.
Andreas menenteng kardus berisi oleh-oleh, bekal sang mertua. Ada langsat punggur, chencalok kesukaan Safariah dan lain sebagainnya. Safariah adalah istri Andreas. Beban tampaknya sangat berat. Tangan lain, mengamit tas berisi Lumpia yang baru dibelinya di sebuah toko roti, Jalan Gajah Mada.
”Norman sangat suka Lumpia Pontianak,” katanya saat kami membelinya tadi.
Dia bergegas ke pintu masuk, check in. Andreas ke Pontianak untuk memberikan workshop Narrative Reporting untuk Pontianak 10-14 November di Hotel Peony Pontianak. Pantau dan Tribune Institute menggagas kegiatan ini. FLEGT-Support Project menjadi sponsornya.
Dwi bergegas menyusul Andreas. Berri masih di belakang stir sambil mengawasi kami mengangangkat barang.
”Jangan bergerak dulu ya…!”
Tapi baru beberapa langkah aku menuju peron, Berri pun menginjak pedal gas. Belum sempat sempurna, mobil batuk-batuk dan mati mendadak.
Jok mobil yang sedikit menekuk ke depan ikut terayun dan Gedebug! Laptopku yang masih terbuka kena hantam. Tadi aku belum sempat menutupnya karena tangan penuh barang, jok mobil memang belum disandarkan ke posisi semula.
Aku hampir menjerit. Berri pula hanya nenyengir kuda. Aku ke mobil setengah berlari, memeriksa laptop yang tadi masih menyala. Aku belum menyimpannya ke dalam tas, karena sepanjang jalan aku mengedit berita halaman 12 koran Borneo Tribune, sebab sudah di ambang deadline. Internet juga masih terpasang karena sedang mengirim berita editing tadi ke kantor redaksi via email. HP Sony Ericson yang kujadikan modem, kuletakkan di atas keyboard laptop.
”Alamak…, kan udah kubilang jangan bergerak!”
Suaraku tercekat di tenggorokan, tungkaiku lunglai saat lipatan laptop terbuka.
Screen retak 4 bagian. Tengah layar menyisakan bulatan hitam dengan garis-garis vertikal seperti benang berwarna.
”Bher, tadi aku sudah ingatkan jangan bergerak, sekarang lihat akibatnya…”.
”Maaf, aku tidak tahu…., maaf.”
”Oke…, tak apa, tak apa”.
Aku tiba-tiba merasa sangat lelah. Ada sedih, getir dan kecewa tertelan bersama-sama. Aku menyesal karena membiarkan saja laptop tak terjaga. Marah, karena tak mungkin marah pada Berri karena keteledorannya. Aku yang lalai. Sedih karena laptop Laptop Asus Ee PC mungil ini telah menemaniku sampai ke pelosok Kalimantan. Hutan, gunung dan ngarai sudah kami jelajah bersama dalam beberapa kali pengembaraan. Bahkan hingga ke puncak Bukit Sarung Sampuro yang dikeramatkan. Selain bukit Bawang dan yang lainnya, Sarukng Sampuro adalah bukit ketiga yang selalu dilafazkan pemantra, kala sub etnik Dayak Salako nyangahatn dalam sebuah ritual adat kepercayaan. Bukit ini terletak di Kecamatan Mempawah Hulu.
Aku juga pernah mengirim berita dengan laptop ini di tengah sawah, di Cap Kala, Kabupaten Bengkayang.
Ohya, warna telur asinnya kerap membuat beberapa rekan wanita gemas. Tak terkecuali Dorina, mahasiswi Bonn University yang sedang magang di Borneo Tribune. Bentuknya mungil, dirancang khusus bagi para traveler. Praktis dibawa, bahkan suatu hari aku pernah menyelipkannya di balik jaket saat naik motor. Biasanya kubalut dengan slayer bendera Jepang.
”Wah, itu pusaka samurai Jepang ya,” ledek seorang teman. Aku cuek saja, tapi diam-diam bangga mendekapnya karena bersejarah.
Memang tak secanggih generasi kedua. Selain tak dilengkapi web came, memorynya pun sangat miskin, Cuma 2 GB. Aku pun terpaksa membeli hardisk Eksternal 250 GB setelah menabung 5 bulan. Aku senang dan berusaha menjaganya dengan baik. Seminggu sekali aku sapu dengan cleaning foam, untuk membuang daki. Soal akses internet, asalkan ada signal Telkomsel, pasti tockcer! Agak lambat dikit, tetapi lumayanlah untuk kategori layanan telkomselflas unlimited. Cukuplah untuk sekadar buka-tutup email dan mengirim berita serta foto ke kantor redaksi dari jarak jauh.
Seorang wartawan pernah kutepis tangannya karena akan menyentuh laptop itu dengan tangan belepotan minyak bakwan. Aku bahkan sanggup menanti hujan reda, asalkan dia tidak lembab, apalagi basah. Karena itu accident ini seperti sebuah pukulan. Sakit! Tak saja aku telah merasa kehilangan, seolah-olah tanganku sendirilah yang terkulai, menjuntai-juntai tanpa arah. Tangan yang kehilangan tempat mengukir ide dan sekadar kisah.
Penyelenggaraan Workhsop Narrative Reporting yang sukses, ternyata harus kubayar dengan kerusakan laptop! Kesedihanku semakin sempurna ketika suatu pagi aku menerima SMS Freddy Hernawan.
”Maaf, bang, aku sdah tnya sna-sini, screen laptop abg tk dapat diganti”.
Lama aku tercenung. Laptop kecilku tak tertolong lagi. Haruskah aku memahat nisanmu di sini. RIP: ASUS EePC, 15 November 2009.

Sarawak dalam Secebis Gerimis

by: Wisnu Pamungkas

Gerimis pagi di tempat ini, seperti tirai mutiara raksasa dari timur yang menghampar dari langit ke bumi. Warnanya yang basah-lindap ke perak-perakan begitu agung disepuh cahaya alam.
Gerimis seperti ini pasti tidak tiap hari dapat kita temukan, meski pun di tempat yang semewah ini.

CATATAN: Sebuah catatan saat ke Sarawak, tetapi tak ingat kapan menulisnya

MATI

by Mering

Mengapa takut mati?
Bukankah kematian adalah ritus tertinggi bagi tiap mahluk. Migrasi spiritual paling sakral yang pernah dikenal manusia di jagad ini.

Pontianak, 2 September 2008

Soeharto, Kalbar dan Kisah Bendera

by A.Alexander Mering

Seminggu sebelum suharto mangkat, saya menulis artikel berjudul Geger Paman Gober.
Artikel itu pendek dan ditulis tergesa-gesa untuk menutupi kekosongan bener bawah halaman Sastra Minggu di Borneo Tribune. Kebetulan hari itu, Kolom Mat Belatong sedang Kosong, karena tak ada yang mengambil disket ke rumah pak Alim Ramli, Penulis kolom tersebut.
Saya tergelitik pada aksi Butet Kartarajasa ketika mementaskan Cerpen Seno berjudul Kematian Paman Gober dan juga rasa kesal saya pada Suharto. Rasanya sangat pas dengan kondisi waktu itu. Sebenarnya saya sendiri ingin menulis lebih panjang, tapi waktu dan deadline membelenggu kedua kaki saya.
Saya jengkel karena semua media di republik (yang dipuja puji ‘sebagian’ rakyatnya) ini terus menerus menyiarkan kebaikan suharto, seakan dia nabi tiada cela.
Tadi pagi, di rumah saya berdebat dengan keluarga, karena dia memasang bendera setengah tiang, sebagaimana imbauan penguasa.
“Dia itu bukan Presiden Kalbar, dia hanya presiden Jakarta dan beberapa daerah. Kalbar dibangunnya asal-asalan, menjarahnya ya ada. Hutan dibabat bersama kroni dengan dukungan militernya. Bayangkan, Kantor Bupati Kapuas Hulu pun masuk dalam kawasan Hutan Produksi. Gila!” kata saya.
Istri saya melongos. Dia orang polos. Kata orang Pontianak bujur arus! Tapi dia tak suka saya bicara begitu. Dia mendabat saya.
“Tapi dia sudah mati, orang mati perlu di hormati”.
“Saya menghormatinya, tapi bukan dengan mengibarkan bendera!”
Lindu anak sulung saya yang tengah berkemas-kemas turun sekolah ikut nimbrung.
“Mengapa tak boleh mengibarkan bendera. Kan Bagus Pa?”
“Bukan tak boleh sayang, tapi tidak tepat untuk orang seperti Suharto.”
Matanya mengerjab-ngerjab. Lindu memang bukan generasi era Paman Gober itu. Dia Lahir jaman Megawati. Dia juga baru kelas 2 SD. Buku sejarah versi penguasa pun juga baru sedikit merasuk ke otaknya.
Setelah pamit, saya langsung tancap gas ke Kantor. Di jalan saya teringat pada film G-30S/PKI yang diproduksi era Suharto. Terbayang oleh saya beberapa aktivis yang diculik karena menentangnya. Saya juga teringat tulisan Prof. Dr. W.F. Wertheim yang berjudul Sejarah Tahun 1965 yang Tersembunyi, tentang pertemuan Suharto dengan Kolonel Latief di R.S Gatot Subroto 4 jam sebelum peristiwa Penculikan dan pembantaian para Jendral. Lantas buku sejarah yang diperintahkan dibakar tahun 2007 lalu oleh pemerintah karena tidak menyebutkan gerakan G-30S PKI.
Walau Suharto umurnya lebih tua dari NKRI, tapi negara yang pernah diperintahnya selama 30 tahun ini juga sudah tergolong tua, 62 tahun! Tapi ironisnya jika orang Kalbar mau ke Kaltim dan Kalteng, mereka harus ke Jakarta dulu. Padahal satu daratan, satu negara, satu saudara pula! Sementara di pulau Jawa rel kereta api dibangun sepanjang pulau, membentang dari Provinsi Banten hingga Jawa Timur. Jembatan tol dan jembatan layang silang-menyilang. Apakah benar Kalbar bagian dari NKRI jika dilihat dari sudut pandang pembangunan?
Tiba di kantor saya langsung buka internet. Eh, saya temukan wawancara Detikom dengan Eros Jarot, Budayawan yang kini menjadi Ketua Umum PNBK Indonesia. Rupanya dia juga jengah membaca dan melihat puja-puji di media kepada Suharto yang sudah tak proporsional.

“Kantor partai saya, taat hukum. Tapi, karena penyelesaian hukum kasus Pak Harto belum selesai, maka bila bendera setengah tiang dikibarkan, maka berarti itu pelecehan terhadap hukum,” kata dia pada Detikom.
Keluarga Wiji Tukul juga menolak mengibarkan bendera. Tukul adalah seorang penyair yang terkenal karena aksi protesnya. Dia lenyap setelah di buru saat rezim Soeharto berkuasa. Nah, ternyata bukan cuma saya yang ogah mengibarkan bendera setengah tiang, tapi juga Jarot. Bedanya Jarot benar-benar tak mengibarkan merah putih, sementara di rumah saya bendera itu terlanjur berkibar. Alasan istri saya, tak enak pada pak RT yang membawa imbauan tersebut.