Muar Wanyek, Tradisi Lisan Melayu Sambas dan Dayak Desa

(Sebuah Perbandingan)  

By A. Alexander  

Ketika kebudayaan bergerak ke suatu arah tertentu, maka jejak yang ditinggalkannya juga akan semakin banyak. Sayangnya tidak semua jejak yang tertinggal itu abadi dalam suatu bentuk fisik atau produk kebudayaan yang dapat diendus indra manusia maupun seorang peneliti. Lanjutkan membaca Muar Wanyek, Tradisi Lisan Melayu Sambas dan Dayak Desa

TANTO INGIN JADI BUPATI

By: A. Alexander Mering

SAYA MERASA teman-teman saya adalah para kesatria. Terutama 4 orang yang turut dipecat bersama saya karena mempertahankan prinsip sebagai journalis. Keberanian mereka mempertaruhkan masa depan di sebuah koran local yang masa depannya pun baru dibayangkan adalah sebuah keberanian luar biasa. Dada saya sering terasa penuh bila mengingatnya. Apalagi dukungan terus berdatangan, termasuk turut mundurnya Kabag Pracetak Harian Equator, Ukan bersama sejumlah staff-nya untuk bergabung bersama kami.

Walau cukup banyak tawaran menggiurkan dari luar kepada mereka—terutama kepada H Nur Iskandar—Tapi mereka tetap bertahan pada idealisme, membangun koran daerah. Meski terkadang harus berlapar-lapar karena kurang uang dan belum punya gaji. Tapi semangat kami tak pernah surut. Saya pun turut terbakar bersama mereka, hingga sepakatlah kami mendirikan sebuah harian dengan semangat Idealisme Keberagaman dan kebersamaan. Ini adalah koran serius, untuk Kalimantan barat. Mungkin ke depan untuk seluruh pulau Kalimantan, sesuai nama yang diembannya, yaitu Borneo Tribune.

Tapi pengakuan Tanto Yakobus, S.Sos di depan saya dan Dr Yusriadi, benar-benar membuat saya terhenyak. Tanto membuat pernyataan yang hanya lazim dilontarkan oleh seorang oportunis.

“Saya di Borneo Tribune mungkin hanya sampai 2009, karena saya akan menjadi Caleg di Sekadau,” celetuknya dalam diskusi kecil di lantai 2 sekretariat sementara Borneo Tribune. Sebab kantor Borneo Tribune yang terletak di Jalan Purnama Dalam, belum rampung di cat. Selumnya kami sudah ngobrol ngaur-ngidul tentang banyak hal. Kemudian ia menambahkan kalau ia mengambil langkah itu karena ingin menjadi bupati Sekadau kelak.

Caleg adalah singkatan dari Calon Legislatif. Di Indonesia mereka biasanya berasal dari partai politik yang sangat sangat fasih mengkalim diri sebagai wakil rakyat ketika terpilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) dan berjaya duduk di kursi di lembaga legislatif.

Bulan di luar sana tampak sempurna. Sebagian sinarnya menembus kaca nako tapi terhambat oleh tirai jendela yang sedikit tersibak. Aku yang berdiri dekat Yusriadi bisa melihat sedikit rembesannya jatuh ke lantai, bercampur cahaya neon dalam ruangan.

Karena udara terasa semakin dingin, saya melipat kedua tangan di dada. Tapi kami masih terus berdiskusi walau hanya bertiga. Rekan-rekan lain sudah pulang lebih dahulu setelah seharian penat menyortir ratusan lamaran yang masuk.Tak kurang dari 200 lebih lamaran.

Dalam tiga hari terakhir, awak Borneo Tribune memang sibuk merima lamaran, pasca penerbitan iklan penerimaan yang diterbitkan Pontianak Pos pada Sabtu, 24 Maret lalu.

Sekali lagi saya bukan terkejut karena cita-cita Tanto itu. Siapa pun pasti berhak menjadi apa saja, termasuk menjadi bupati bukan? Yang membuat saya kaget adalah dia mengungkapkan itu justru saat teman-teman lain sedang berjuang sekuatnya mendirikan harian Borneo Tribune.

Yusriadi yang sedang menghadap laptop lantas berkomentar, “itu boleh-boleh saja, tapi sebaiknya jangan Tanto ungkapkan”.
Yusriadi sedang memeriksa tulisan Tanto tentang hari-hari terakhir di Harian Equator. Tulisan itu akan digabungkan dengan karya teman-teman lain guna dicetak menjadi sebuah buku internal kami.

Tanto yang malam itu mengenakan kaos merah duduk berselonjor di kursi kayu beralas busa, di tengah-tengah ruangan, di depan saya dan Yusriadi. Di belakangnya, di balik jendela bulan bersinar seterang-terangnya.

Cukup lama saya tergamam, karena kenyataan itu tidak saja telah menikam logika saya, tetapi juga membuat saya harus merekonstruksi ulang peristiwa 4 bulan silam. Peristiwa pengusiran saya, Yusriadi, Hairul Mickrad, Nur Iskandar dan juga Tanto dari Harian Equator, Jawa pos group.
Bukankah kami diusir diantaranya adalah karena idialisme? Dan saat nongkrong di kantin belakang Koperasi Mahasiswa (Kopma) Universitas Tanjung Pura, saya sempat membaca kata itu dalam naskah Tanto yang sekarang sedang dibaca Yusriadi. Tulisan berjudul Mosi Karyawan Berbuah Pemecatan berusaha ditampilkannya sebagai karya narrative.

Kala mengingat peristiwa pahit itu hati saya jadi perih. Lantas saya bertanya pada Tanto yang dulu juga sudah pernah mengadu peruntungan di Partai Demokrat—menjadi Caleg di Kabupaten Sekadau tahun 2004. Ketika itu dia masih menjadi redaktur di Harian Equator. Sedangkan saya Kepala Biro Equator di Kabupaten Sanggau.
“Apakah kamu serius ingin jadi bupati?”
“Saya serius, bahkan saya sudah membeli tanah di Sekadau?”
“Apa yang membuat kamu sangat ingin jadi bupati?”
Saya bertanya demikian, karena saya sudah mengenal cukup banyak bupati di negeri ini dan bagaimana sepak terjangnya setelah berkuasa.
“Saya ingin membangun daerah saya?” ujarnya sambil senyum. Sinar bulan di belakangnya mendadak agak meredup. Sekelompok awan pasti sedang melintas.

Deg! Pupus harapan saya yang ingin melihat Tanto menjadi seorang wartawan idealis. Dahulu semangat inilah yang mendorong saya turut merekomendasikan Tanto untuk belajar teknik menulis narrative reporting ke Yayasan Pantau Jakarta. Sementara Yusriadi yang juga digadang-gadang berangkat bersama Tanto malah menolak halus. Dia mengaku tak enak menggunakan uang perusahaan, sementara kerja yang kami buat belum apa-apa. Padahal berkali-kali Nur Iskandar membujuknya agar berangkat, sebelum dia sendiri bertolak ke tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Tapi baiklah, ini sebuah realitas tentu saja. Rambut boleh sama hitam tapi isinya pasti macam-macam. Saya seharusnya sudah menduga fikirannya, tetapi pasti akan lain jadinya jika ia ungkapkan dalam situasi yang berbeda, bukan ketika Borneo Tribune sedang hamil tua. Mei mendatang koran ini direncanakan sudah lounching.

Tiap-tiap orang pada akhirnya memang bakal dihadapkan pada pilihan-pilihan dan masa depan adalah hak. Saya tentu tak mungkin berharap Tanto menjadi journalist ediel seperti yang dikemukakan Bill Kovach dan Tom Rosentiel dalam buku Elemen Jurnalisme itu. Seseorang terkadang memang harus berdamai dengan realitas atau dirinya sendiri untuk menentukan mana yang terbaik. Toh banyak wartawan di republik ini yang kemudian menyebrang dari profesinya untuk menjadi politikus, birkorat dan ahli korporat. Motivasinya tentu saja berbeda-beda.

Maka untuk teman saya yang satu ini, saya harus menata ulang cara berfikir saya. Cara bergaul saya dengannya, sebagai mana saya telah berdepan dengan banyak fakta yang menjadikan profesi wartawan sebagai batu loncatan untuk menjadi apa saja. Menurut pandangan beberapa kaum, itu sah-sah saja.

Saya hanya berharap Tanto akan kukuh dengan cita-citanya. Karena bagi saya apa yang telah diucapkannya di ruang 3 x 6 meter, di bawah sinar Sunnyco 45 watt itu adalah sebuah doa. Doa seorang ‘utusan’ dari Landau Mentawak. Saya bilang padanya bahwa saya dan Yusriadi telah menjadi saksi bahwa jika ia benar-benar menjadi bupati kelak, dia tidak melupakan kata-katanya malam ini, yaitu membangun daerah.

HIKAYAT DUA REPUBLIK DI TANAH EMAS

By: A. Alexander Mering

Menulis tentang negeri sendiri dari tempat ini terasa menyedihkan. Tempat dimana kita menggaruk kepingan sejarah tanah kelahiran.

Jika bukan nasib, niscaya aku pun takkan pernah tiba di sini. Sebuah Bandar yang ramai tapi bersih. Tempat dimana warganya tidak pernah tampak tergesa-gesa walau bertampang pekerja keras. Mereka menyebutnya Bandaraya Kuching. Kota dimana sejarah bukan dianggap sekedar sampah. Karena itu kota ini tak pernah sepi dari turis asing dari seluruh dunia.

Siang hari, jarang sekali terdengar klakson mobil atau bising knalpot sepeda motor seperti di jalan-jalan Jakarta atau Pontianak yang kotor. Tapi apa boleh buat, aku terus menuliskannya, di lantai 3 hotel City In, tempat aku dan empat rekan berdesak-desakan meninap.

Aku menemukan jejak demokrasi awal di Kalimantan Barat justru dari Kuching Chinese Muzium, di komplek Water Front City yang terletak di pinggiran Sungai Sarawak tahun 2004 lalu. Tapi baru dalam kunjungan yang kesekian kalinya, 28 Desember 2006 aku baru benar-benar menyadarinya sebagai kepingan dari puzzle sejarah Kalimantan Barat ketika berada di puncak kejayaannya sebagai negeri emas.

Jaman James Brooke berkuasa bumi kenyalang ini, museum tersebut adalah sebuah bangunan makamah (pengadilan) bagi warga Cina di Sarawak. Tapi setelah M’Sia merdeka, bangunan itu dijadikan museum tempat menyimpan beberapa catatan dan situs peninggalan warga Tionghoa di Sarawak. Di antaranya adalah beberapa peralatan pertambangan emas dan cacatan sejarah warga Tionghoa asal Kalimantan Barat yang kabur ke Sarawak pada pertengahan abad 17. Mereka adalah para penambang emas di Monterado dan Mandor yang ketika itu merupakan dua negara paling kaya di pulau Borneo ini. Bahkan singa pura saat itu tak lebih dari sebuah kampong nelayan yang disebut Tomasek.
Beberapa penulis asing mengidentifikasi kedua negara ini sebagai republic awal di dunia. Karena Republik Amerika sendiri baru berdiri pada 1776. (bersambung)

DUKUN DIGITAL

By: Wisnu Pamungkas

Perawakannya atletis. Kalau dua hari saja jambang dan kumisnya tak dicukur, Anda akan melihatnya sangat macho. Kemana-mana selalu mengenakan kaos oblong, celana jins belel dan jaket. Rambut sebahu, mirip penyanyi rock.

Jangan berharap Anda menemukan ranselnya berisi keris atau berkilo-kilo menyan seperti paranormal abad 20. Jika bukan seperangkat compac disk, pasti laptop. Maklum, dia paling tak bisa dilepaskan dengan browsing atau searching di internet.

“Lebih baik putus cinta dari pada putus internet.,” Begitu salah satu semboyang sang dukun yang belakangan sudah dijadikan mantra sekaligus fatwa oleh para penggemarnya.

Nah, kalau lagi senggang, doi biasanya mojok di caffe untuk chating atau sekedar mengunjungi beberapa situs porno.
“Tapi nggak sering-seringlah, cuma iseng kok, he..he..,” katanya sambil nyengir.

Ohya ada satu lagi yang khas. Kalau kita berpas-pasan dengannya di jalan, udara di sekitar langsung semerbak, harum oleh deodorant bercampur Tommy Hilfiger made in Paris. Coba anda bayangkan jika anda berada dalam satu ruangan denganya. Mungkin anda tak perlu menyemprotkan pewangi ruangan.

Kacamata rayban coklat selalu bertengger di hidung. Terutama ketika dia sedang mengendarai sepeda motor besar. Penampilannya mengingatkan kita pada sosok Sylvester Stallone dalam film Cobra tahun 80-an. Di pinggang kiri, bergantung HP komunikator edisi teranyar. Namanya juga dukun gaul.

Coba tengok di ruang tunggu praktiknya. Tak Cuma para pasien yang datang, pengemarnya pun berbondong-bondong bertandang walau hanya mengantarkan seikat kembang atawa sekadar mengucapkan salam. Ia tak ubahnya seorang selebriti. Konon kabarnya para selebriti pun banyak yang mengidolakan sang dukun yang tahun ini umurnya genap 40 tahun.

Pontianak, 2 April 2007