Salip Kayu dari Vanessa

Oleh: A. Alexander Mering

Sore itu Vanessa V Andico pergi ke toko. Dia membeli sesuatu. Aku membeli beberapa botol minuman dan biskuit untuk Mohammad. Dia sering mengeluh lapar jika tengah malam. Setelah membayar kami berpisah di mulut labirin yang memisahkan bangunan utama dengan asrama.
Vanessa masih muda dan dan gadis yang ramah. Dia adalah salah satu member Silsilah Dialoge Movement. Sebelumya pernah mengikuti basic course, karena itu berhak mengikuti intensive program bersama kami. Orangnya selalu tampil tenang dan menunjukan minat pada banyak hal. Di hari pertama di Zamboanga, Vanessa mendapat tugas dari Silsilah menjadi guide-ku ke camp site di atas bukit, tempat mereka menggelar Youth Camp musim panas.
Malam penutupan intensive course di Silsilah, Vannesa memberiku kalung salip kecil dari kayu. Aku sangat senang tentu saja.
“Oh, rupanya ini yang engkau beli kemarin?”
“Ya, ini adalah sebuah tradisi di Silsilah, saling memberikan hadiah”.
Wah gawat! Aku lantas izin sekejab. Secepat kilat berlari ke kamar mencoba temukan sesuatu untuk dihadiahkan, karena aku benar-benar tak siap dan tak mengira ada acara begini. Mereka menyebutnya peace buddy.
Sebelumnya nama-nama kami dikocok di sebuah tabung lantas diundi oleh panitia. Nah, nama yang tertera di kertas undian itulah yang akan menjadi peace buddy resmi tiap peserta kelak. Peace buddy-ku sendiri bukan Vanessa, tetapi Abubacar A. Ali. Dia orang Bangon, Marawi City, sebuah kota yang berjarak 10 jam naik bus dari kota Zamboanga. Aku menghadiakan shebo kesayanganku yang pernah kubawa ke liling Borneo. Aku tidak punya apa-apa selain itu untuk dihadiahkan.
“Harap Anda menjaganya dengan baik,” kataku pada Abubacar. Kami berpelukan, dan foto-foto. Abu memberikan hadiah lain pada peace buddy-nya, dan seterusnya dan seterusnya. Sehingga setiap orang dalam satu ruangan yang terdiri dari berbagai suku bangsa itu mendapat giliran menerima dan memberi. Semua orang saling memeluk, dan berjanji saling mengenang.
Ada insiden lucu malam itu. Joel T Alegado memberikan hadiah kepada peace buddy-nya, Mohammad. Bingkisannya istimewa, itu bisa dilihat dari bungkusnya. Joel adalah ibu muda berpenampilan lembut. Dia memberikan bingkisan itu sambil mencurahkan seluruh perasaannya pada Mohammad. Karena itu dia berpidato panjang untuk itu. Setelah sekitar 10 menit. Setelah usai lantas dia bertanya pada Mohammad.
“By the way. Do you understand what I am talking about?”
“No…,”
“What…? Oh my God..!”
Wajah Joel bersemu merah. Salah tingkah juga bercampur geram. Padahal dia sudah berpidato dengan sangat indah. Tak pelak, ruangan kelas pun seperti akan pecah oleh tawa peserta.
Begitulah cara Silsilah menanamkan rasa persaudaraan antara kepercayaan dan etnik yang berbeda di Zamboanga. Di luar acara seremoni kelas kami masih tukar-menukar hadiah. Aku mendapat banyak sekali hadiah, souvenir, barang-barang kecil, baju kaos. Seorang suster bahkan menghadiahkan saputangannya untukku membungkus lensa kamera.
Meski banyak cerita buruk tentang Philipina dan warganya di luar sana, tetapi aku seakan bertemu saudara sendiri di Manila dan Zamboanga. Hanya kebiasaan mereka makan cuka dan bahasa saja yang berbeda, tetapi adat budaya, tidaklah terlalu jauh meleset.
Di Manila, peace buddy-ku bertambah lagi. Dua hari menjelang kepulangan ke tanah air, pastor-pastor dari beberapa gereja di kota itu mengundang aku dan Mohammad makan siang.
Akibatnya, setiap siang aku dan Mohammad menghilang. Kepada Raul Ortega aku minta maaf tak dapat menemaninya makan bersama keluarganya di siang hari karena memenuhi undangan tersebut. Raul Ortega adalah pemilik rumah tempat kami menginap selama di Manila.
“Wah Mering, kita makan dari gereja ke gereja ni,” kata Mohammad.
“Begitulah jika kita memiliki banyak peace buddy?”
Akibatnya, hampir sebagian besar kota Manila kami kelilingi. Bahkan undangan salah seorang calon pastor di Ateneo de Manila University terpaksa tak terpenuhi. Karena sudah harus pulang ke Indonesia.
Satu hal yang tak terelakan dari kebaikan, yaitu kebaikan berikutnya yang berantai dan menjadi sebuah energy besar di dunia ini meski pun mungkin sedikit sekali yang mengingatnya. (publish in Borneo Tribune, 5 Juni 2009)

PEACE BUDDY
Sebuah tradisi Silsilah adalah peace buddy, yaitu tukar menukar hadiah antara sesama peserta, sebagai kenang-kenangan setelah mereka pulang ke Negara atau kampung masing-masing kelak. FOTO A. Alexander Mering/Borneo Tribune

Iklan

Once Upon a Time in Zamboanga

Oleh: A. Alexander Mering

Sejak hampir seminggu berputar-putar di Philipina, Mohammad dan aku akhirnya masuk asrama. Tanpa TV, tanpa koran, tanpa kabar dari kampung halaman, karena signal cellphone pun terbatas di sana. Bagi Mohammad ini pengalaman pertamanya ke luar negeri.
Kami mendapat sebuah ruangan ‘bawah tanah’ yang bagus. Pintu dan jendelanya menghadap ke lereng bersemak-semak, pohonan rindang dan bunga-bunga. Ruangan itu terbagi menjadi dua bilik dan satu kamar mandi.
“Kayaknya kita berdua peserta Istimewa, ya?”
“Mungkin karena kita tiba duluan”.
“Tak juga, buktinya, selain kebagian kamar khusus, cuma kita yang diberi kesempatan mengunjungi banyak tempat di Zamboanga”.
Aku berfikir lagi, mengumpulkan bukti-bukti. Sementara bunyi jangkrik dan dengung serangga malam mulai menembus ventelasi. Di luar jendela mata hari sudah pergi, menyisakan kepak kelelawar dan bising tokek besar di dinding, tepat di samping kamar kami.
“Ya, mungkin ente benar”.
“Lihatlah, betapa cemburunya peserta lain karena tak mendapat izin ke Santa Cruz Island seperti kita, dengan asalan keamanan”.
Mohammad menoleh ke luar. Dia membayangkan pasti lebih sedap jika ngobrol di sana sambil menyedot rokok Marlboro dalam-dalam. Mohamad mengantongi dua bungkus rokok dari Jakarta. Suara Jangkrik makin nyaring di telinga. Aku mengerti maksud Mohammad, kami pun pindah ke luar. Duduk di sudut, lantai semen, di bawah sinar lampu neon 19 Watt.
“Bukan cuma peserta, staff Silsilah pun ingin ikut kita ke pulau”.
“Mereka tak mendapat izin”.
“Ya, kita sangat beruntung. Bahkan diberi pengawal berkeliling daerah”.
Mohammad mangut-mangut. Aku menyiapkan pulpen dan kertas, siap wawancarainya malam ini .
Sebatang rokok pupus. Aku memungut puntungnya dan memasukkan ke dus kosong. Mohammad nyengir kuda, merasa tak enak hati.
Mohammad lahir di desa Montor Madura, 31 tahun silam. Abdul Gani—
almarhum ayahnya—dulu adalah seorang pedagang. Ibunya jualan bawang. Keluarga ini cukup mapan, memiliki armada angkutan, trayek Sambas-Tebas. Saat kerusuhan Sambas pecah 1999-2000, bus milik Abdul Gani turut berjasa mengangkut para pengungsi asal Sambas ke Pontianak.
Sejak ayahnya meninggal beberapa bulan silam, Mohammad praktis menjadi kepala keluarga. Aku teingat suatu petang Mohammad tidak masuk kursus bahasa Inggris, karena harus mengantar jenazah ayahnya ke Pulau Madura.
Kini Mohammad menyulut sebatang lagi rokoknya. Udara malam mulai terasa dingin. Tapi aku minta dia terus bercerita. Kemarin aku mendengarnya selalu bilang tempat ini seperti tanah moyangnya di Madura. Berbukit-bukit dan banyak pepohonan.
“Usai nyantri di Pesantren Salafiah, Sampang, saya pulang ke Pontianak. Sebelumnya saya tinggal dengan Nenek, di Madura”.
Dia batuk-batuk sekejab. Tokek berbunyi lagi di dinding, persis di atas kepala. tempat kami sedang duduk.
“Saya masuk Fakultas Hukum Universitas Panca Bakti Pontianak.”
Tak lama kemudian dia terpilih menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Madura. Tahun 2000 turut menjadi relawan kemanusiaan korban kerusahan Sambas. Keaktivannya dalam organisasi membawanya berkenalan dengan sejumlah aktivis Non Government Organization (NGO). Tahun 2003 Mohammad sempat bekerja untuk sebuah proyek yang didanai UNDP dan bergabung dengan Elpagar bersama Pubertus Ipur.
Di Elpagarlah aku untuk pertama kalinya mendengar cerita tentang Mohmmad. Mohammad menjadi salah satu staff Ipur untuk bidang Advokasi. Sebagai muslim yang taat, tiap Jumat Mohmmad pergi ke Masjid terdekat. Tak dinyana anjing penjaga sekretariat mereka hari itu terlepas dari ikatan dan membuntuti Mohmmad sampai ke masjid. Orang pun bubar karena kaget. Mohammad lebih kaget lagi dan malu. Dia mengusir anjing itu pulang.
“lalu bagaimana ente bisa menjadi pendiri CRID?”
“Oh, itu bermula dari pertemuan dengan Pastor Johanes Robini, OP di Hotel Gajah Mada Pontianak. Waktu itu Pastor datang bersama pengurus NU pusat”.
NU adalah singkatan dari Nahdatul Ulama. Mohammad salah satu pengurus inti NU Kalbar. Sedangkan CRID adalah akronim dari Centre for Research Interreligious and Dialog yang dirikan 2 tahun lalu di Pontianak.
Dia menarik sebatang rokok lagi. Menyulutnya dengan sebelah jari. Asap mengepul menembus sinar neon.
Aku teringat saat Mohammad dicegat petugas Imigrasi di Bandara Soekarno Hatta, sebelum kami bertolak ke Manila. Dia dicurigai dan diinterogasi. Menurut petugas ada nama yang sama dengan Mohammad masuk daftar cekal ke luar negeri.
Sampai di Bandara Ninoy Aquino International, Manila, aku was-was lagi. Petugas Imigrasi negara itu menahannya semula. Tentu saja mereka berbahasa Inggris, Mohammad kelabakan. Aku yang menanti giliran dipanggil petugas untuk menterjemahkan.
“Benarkah nama dia hanya Mohammad?”
“Yes Sir, dia teman saya”.
“Coba anda masuk ke sini, dan lihat banyak nama Mohammad di direktori kami, tapi tetap ada nama tengah atau nama keluarga”.
“Tapi nama dia memang cuma Mohammad, Sir”.
“Benar?”
“Yes Sir, di Indonesia satu nama itu biasa.”
Petugas itu tetap ragu. Dia menatap aku dan Mohammad bergantian.
“Kami diundang Silsilah mengikuti seminar Internsional yang diselenggarakan di Zamboanga, Sir,” lanjutku sambil menyodorkan nomor kontak Silsilah. Tapi dia bilang tak perlu. Aku mengurut dada, sedang Mohammad cuma nyengir kuda sambil berlalu.
Malam semakin larut. Tokek yang tadi ribut di dinding pun tampaknya sudah pergi. Tinggal beberapa serangga yang sibuk menubruk lampu.
Mohamad akan Shalat malam. Sebelum masuk kamar, dia sempat mengingatkan aku agar bangun pagi untuk mengikuti doa pagi di Capel terdekat. Dalam hati aku bergumam,”Ah, betapa indahnya sebuah persahabatan.”

SANTAI
Di sela-sela kegiatan, aku dan Mohammad ambil kesempatan untuk berbincang lebih dalam dengan Prof. Alih S Aiyub, sorang Intelektual Islam di Zamboanga dan berfoto bersama dengan coordinator Intensive program Silsilah Jovie S. Emauel. FOTO James Bello Mallicay/Silsilah

Pelajaran di Meja Makan Keluarga Ortega

Oleh: A. Alexander Mering

Di rumah keluarga Raul Ortega ada sebuah meja panjang warna putih yang mendominasi hampir seluruh ruangan. Selain untuk makan, meja itu juga untuk berbincang dengan tamu, menyimpan makanan, botol minuman dan terkadang barang belanjaan. Di meja itulah aku belajar banyak hal tentang Philipina, sejak pertama kali datang. Mohammad dan aku tinggal 3 hari bersama mereka.
Pelajaran pertama adalah tentang keramah-tamahan keluarga ini. Kedua adalah bahasa orang Philipina yang campur-aduk, lebih parah dari rujak petis Madura.
“Mom, we cook kangkong, aubergine, today, but sayang Mering cannot eat manok”.
“Why he cannot eat?”
“He is vegetarian”.
Maristela bilang pada ibunya aku cuma makan ikan dan sayuran. Sebelum dia memasak, sang ibu mengingatkan agar Maristela memandikan anaknya. Mereka terus bercakap-cakap sementara aku membaca Koran Philippine daily Inquirer. Maristela adalah anak sulung Raul Ortega.
Akhirnya aku tak tahan untuk tak bertanya. Mereka memang bicara bahasa Inggris, tetapi campur-aduk dengan bahasa Amerika, Spanyol dan bahasa lokal. Beberapa kata pula mirip bahasa Indonesia dan bahasa Dayak? Misalnya kangkung, anak, laut, sayang, kanan, manok, dan lain sebagainya. Rupanya kata-kata tadi adalah bahasa Tagalog, bahasa nasional Philipina.
Hari berikutnya aku membuat kamus sendiri di meja makan ini. Putri ke empat Ortega, Lira, dengan sukarela mengajariku.
Jarak Rumah keluarga Ortega hanya sepeminum teh dari Universitas Santo Thomas (UST), Manila. Dia bekerja di sana, sebagai dosen. Setiap hari dia bolak-balik jalan kaki ke kampusnya.
UST adalah universitas tertua di Asia yang dibangun oleh Ordo Dominican. Universitas ini berdiri atas jasa Msgr. Miguel de Benavides, O.P, salah seorang uskup dari Dominica yang bertugas di Manila kala itu. Dia mewasiatkan perpustakaan dan barangannya senilai 1.500 Peso untuk membangun universitas tersebut. Aku jadi teringat saat yang hampir bersamaan, yaitu 1636, pastor Presbyterian di koloni baru Amerika di Massachusetts, Rev. John Harvard menyumbangkan buku 400 dan uang tunai sebesar 780 Pounds Sterling untuk mendirikan universitas tertua di Amerika Serikat, Universitas Harvard.
Fr. De Benavides telah membangun sekolahnya selama 90 tahun setelah Ferdinand Magellan datang ke Filipina.
Meski bekerja di Universitas terkenal, tetapi Raul Ortega hidup sederhana. Dia tinggal di rumah petak lantai dua, yang sempit bersama istri dan lima anaknya. Dia juga masih harus menampung seorang menantu dan 2 cucu. Ini kontras dengan rumah dosen-dosen di Pontianak, yang sering mentereng dan cukup untuk menampung puluhan mahasiswa.
“Saya orang yang praktis, hidup harus dijalani dengan tulus,” kata Raul Ortega suatu hari. Dia bicara dalam bahasa Inggris dialek Tagalog bercampur aksen Amerika-Spanyol. Ini unik untuk orang Asia. Jika Malaysia cuma Bahasa Inggris campur Melayu, disini campurnya tak karu-karuan. Ibarat rujak petis dicampur es, kolang-kaling, buah belimbing dan segenggam belacan.
“Bahasa lokal di Philipina juga banyak ragamnya,” kata Pablito Bey Budo. Dia dosen di UST, rekan Ortega yang dengan sukarela mengantar dan menjemput kami dengan mobilnya.
Jika Thailand adalah satu-satunya negara di Asia yang tak dijajah, nah hilipina justru mungkin yang paling banyak mendapat pengaruh penjajah. Tampangnya Asia, ngomongnya Inggris. Bedanyanya jika orang eropa suka keju, orang Philipina doyan cuka.
Jika para ahli benar, maka kemungkinan besar nenek moyang Ortega juga
orang Negrito, yaitu ras yang melakukan migrasi lebih 30.000 tahun lalu ke Philipina dari Borneo, Sumatra dan Malaya. Karena itu tak ada yang salah dengan bahasa mereka. Sebab campur-baur orang Philipina sudah terjadi berabad-abad silam, seperti juga bahasa Melayu dipengaruhi bahasa Sansekerta. Bahkan jauh sebelum buku beraksara Tagalong Kuno, Doctrina Christiana, pertama kali dicetak di pulau Leyte, Philipina, abad 16 silam. Tak salah jika Prof. James T Collins, seorang pakar bahasa Melayu dunia, berkesimpulan bahwa bahasa Nusantara, yaitu kepulauan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Timor Leste dan Philipina banyak dipengaruhi bahasa Sanksekerta sejak jaman dahulu kala.
“Jadi banyak sekali kata dalam Tagalog yang mirip bahasa Melayu, ya?” tanya Lira. Matanya yang bening mengerjab-ngerjab penuh tanya.
Aku cuma mengangguk, meyakinkannya. Sebab hampir mustahil ada yang benar-benar asli di dunia ini tanpa pengaruh apa pun dari sekelilingnya.
Pelajaranku belum selesai tentang Tagalog di meja ini bersama Lira. Sementara di luar rumah Ortega hujan mengguyur deras sekali.
Malam ini kami makan istimewa. Terong, kangkung, nanas, pisang, okra, tapah, ayam, mangga, dan tentu saja selalu ada cuka.
Kami mengitari meja yang sama, memulai doa ala Katolik Roma. Mohammad duduk tak sabar di sampingku. Mungkin dia sudah sangat lapar.
“Bismillah,” gumam Mohammad memulai.

UST
Walau sibuk, Raul Ortega (berbaju biru) menyempatkan diri mengantar aku dan Mohammad keliling kampus Universitas Santo Tomas. Bahkan dia memperkenalkan kami dengan sejumlah professor di kampus tertua di Asia itu. FOTO Mohammad/Borneo Tribune

‘Jesus’ from Davao

Oleh: A. Alexander Mering

“Cut! Cut!”
Crew film kucar-kacir. Ember terpelanting, begitu juga sikat toilet di dalamnya. Penonton tertawa terbahak-bahak.
Wanita berkerudung hitam di samping panggung tak kuat menahan geli. Dia sembunyikan tawa sambil mengipas sang sutradara.
“Bukan begitu! Emosion, saya mau emosion!”
Crew bersiap-siap lagi.
Adegan di ulang. Tapi kali ini dengan ‘emosi’. Para pemeran masuk panggung tergesa-gesa.
Balut, ciat, ciat! Pinoi, ciat…ciat…ciat!” Persis pemain silat jualan obat. Carlito H Layos Jr yang memerankan pedagang jajanan khas Philipina. Dia menenteng ember berisi sikat toilet, pura-pura menjual balut dan Pinoi. Kedua benda itu adalah telur bebek yang sudah menjadi emberio dan direbus matang. Orang Philipina memakainya sebagai viagra, seperti orang Pontianak memakai telur setengah matang untuk menambah keperkasaan pria.
Adegan berikutnya adalah dua pembeli masuk panggung. Dari samping kanan, seorang perampok melompat masuk. Dia menghunus belati, menusuk perut pembeli balut. Korban terkapar. Dua polisi masuk panggung dengan gaya Bruce Lee. “Ciat! Ciat!” Bukannya menolong, eh malah ikut membacok sang korban. Sutradara emosi.
Cut! Cut! Bukan Begitu, bodoh!”
Crew kucar-kacir lagi. Ember terpelanting lagi, isinya berhamburan seperti tadi.
Lagi-lagi penonton geger. Ada yang matanya sampai berair, menahan tawa.
Brother John De Agnel, CSsR, memang pandai mengocok perut kami. Dia memerankan sutradara waria. Sementara anggota kelompoknya menjadi aktor dan aktris yang ngawur, berulang-kali salah interpretasi naskah drama.
John orang India, tapi dia warga Malaysia. Dia salah seorang dari 11 calon pastor yang bergabung dalam intensive program bersama kami di Silsilah. John tengah menyelesaikan pendidikan seminari di Davao City.
Malam itu lagaknya seperti sutradara film India, tapi banci habis. T-shirt bergantung di atas pusar, kacamata hitam di jidat melorot berkali-kali. Hari-hari biasa tapang John bisa membuat bocah umur 3 tahun lari ketakutan. Jambangnya tebal, hitam seperti sarang lebah yang baru saja disulut api. Walau demikian dia sangat menyenangkan dan baik hati.
Pada jam makan misalnya, tak segan-segan dia mengambilkan buah-buahan atau air minum teman semeja. Suatu malam dia menghadiahkan pesta ulang tahun pada Fattra J Hussin, gadis paling kalem di kelas kami. Tersentuh cerita Fattra dia ngelayap ke kota sore-sore mencari kue ulang tahun untuknya.
“Kemarin, dia bercerita walau sudah 21 tahun, tapi belum pernah merayakan ulang tahun”. Fatra menangis menerima pemberian John.
Bagiku John bukan saja baik, tapi juga unik. Itu lo, kebiasannya menenteng-nenteng botol cabai (disambiguasi) ke mana-mana seperti nenteng handpone. Tak peduli di kampus, di pasar, di warung, atau ke hutan sekali pun, botol saus cabai selalu ada di sakunya. Menurut Bro Nathanel, teman sekampusnya, John ibaratkan ulat dengan cabainya. Tak bisa dipisahkan. Karena itu aku menggelarnya Chiliman. Jika makan tak ada cabai, sepanjang hari hidupnya tak tentram. Tapi belakangan ia mendapat gelar baru di Zamboanga: ‘Jesus’ from Davao.
Suatu siang di ruang makan, Jhon mengusap-ngusap janggutnya. Selain John, Mohammad dan Prof. Alih S Aiyub juga berjanggut, tetapi John menang karena janggutnya paling lebat di ruangan itu. Tak dinyana, kami kedatangan tamu dari Dubai menjelang makan siang. Aku lupa nama sang tamu, tapi dia masih muda dan gagah dengan rumbai janggut kribo yang menjuntai hingga hampir sebatas pinggang.
Jhon sontak berhenti mengelus janggutnya sendiri. Saya kebetulan menoleh ke arahnya. Dia membuat gerakan lucu, seolah-olah mengkerut, dengan senyum tertahan. Kedua tangannya pura-pura menyembunyikan janggut.
“Tadi anda memang pemenang, sekarang tidak lagi karena ada yang janggutnya lebih panjang,” kata saya menggoda. Ruangan makan pun jadi riuh oleh gelak tawa teman-teman.
Selama kursus, Mohammad, temanku dari Center for Research and Inter-Religious Dialogue (CRID) menepel pada John. Karena selain aku, hanya John yang betah menjadi translator Mohammad selama kami di Zamboanga. Jika tidak berbahasa Inggeris, orang-orang bicara bahasa Cabacano atau Tagalong atau campuran ketiga-tiganya. Tentu saja Mohammad bengong.
“Disini anda bisa berdialog dengan hati,” kata Father Sebastiano De’Ambra, PIME, menghibur Mohammad suatu hari. De’Ambra adalah pendiri Silsilah.
Jika aku tiada, John atomatis menjadi teman ngoborol Mohammad walau kadang tak nyambung sepenuhnya. Maklumlah, walau serumpun tapi bahasa Malaysia dan Indonesia juga banyak perbedaan. Terkadang aku tertawa geli saat keduanya bercakap-cakap.
“Bila awak nak mulakan, activity?”
“Itu tidak masalah, dialog Kristen-Islam sudah selesai sejak abad ke 17”.
“Hmm……, maksud awak?”
Aku terpaksa turut campur karena dialognya jauh pangang jauh dari api. Untungnya aku juga bisa berbahasa Malaysia.
Suatu malam usai kelas bubar, kami ngumpul-ngumpul di kantin, menggelar farewell party. Ada yang bikin minuman buah-buahan—gin tonic. John buru-buru menghampiri Mohammad.
“Ustadz, jangan minum, itu mengandung alkohol”.
Mohammad mengucap Alhamdulillah. Aku terkesan. Karena itu lebih dari 20 kali aku menjempretnya selama sepekan pertemanan kami. Beberapa close up. Photo itu cepat beredar dari tangan ke tangan. Bukan karena John tampan, tetapi karena photo itu rada-rada mirip aktor yang memerankan tokoh Jesus dalam film The Passion of The Christ yang dibuat oleh Mel Gibson tahun 2004 lalu.
“Is he Jesus from Nazaret?”
Seorang peserta kursus mengira aku me-reproduce gambar Jesus dari Kalender.
No, He is Brother John, Jesus from Davao…,” selorohku.
***
Suatu hari kami diberi tugas membuat presentasi. Kali ini giliran Brother Mouyeke Misere Tiburce Barbeault, CSCh. Lidah melayu pasti keriting menyebut nama lengkap calon pastor yang satu ini. Supaya gampang, kami memanggilnya Bro Tib saja. Aku berbisik kepada John.
Bro, bagaimana supaya Bro Tib berhenti becakap?”
“You cuba tepuk tangan saja, mesti dia stop”.
Aku bertepuk tangan. Mula-mula cuma seorang saja yang ikut. Selanjutnya dua, lalu tiga, empat dan akhirnya 46 peserta kursus di ruangan itu hampir semuanya bertepuk tangan. Lelaki hitam gempal, tinggi besar yang tadi meledak-ledak di mimbar itu mendadak berhenti seperti video player yang ditekan tombol pause. Dia nyengir kuda, mungkin jengkel tapi buru-buru menutup presentasinya.
“Thank you, thank you….”.
Ruangan geger lagi. Mereka seakan setuju Tib mempercepat presentasinya. Tib dari Kongo, Afrika. Seperti John dia juga seminarian tengah mondok di Davao City.
Di luar cuaca agak mendung. Sedangkan udara panas luar biasa. Tapi bunga-bunga yang ditanam Mother Earth tetap mekar mewangi. Aku mengintip ke luar jendela. Hari ini aku benar-benar senang sekali menjadi bagian dari keberagaman.
Kami memang bak bunga-bunga. Warnanya bermacam-macam. Baik latar belakang, agama, warna kulit hingga asal negara. Ada calon pastor seperti John, ada pendeta, pekerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Dosen, Suster, peneliti, jurnalis, mahasiswa, bencong hingga ibu rumah tangga. Seluruhnya berasal dari 9 negara. Selain dua negara yang disebutkan tadi, ada peserta dari Vietnam, Thailand, Guatemala, Tanzania, Singapura dan Indonesia. Philipina tuan rumahnya sekaligus penyelenggara kelas internasional ini. (Publish in Borneo Tribune, 2 Juni 2009)

WAJAH
Photo Close Up ini sempat dikira gambar Jesus di almanak yang aku repro ulang dengan kamera. Gara-gara photo ini, John mendapat julukan khusus di kelas Intensive Program, Silsilah awal pekan lalu. FOTO A. Alexander Mering/Borneo Tribune

Bertemu ‘Dayak’ Philipina

Oleh: A. Alexander Mering

Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi. Suaranya seperti serangga membolongi tiang. Irama mantra yang sukar diikuti pendengaran. Kadang seperti mengerang, kadang bergumam setengah menyanyi. Tak ada yang benar-benar faham apa yang diucapkan, bahkan orang-orang dalam ruangan, tempat kami berkumpul.
“Itu bahasa Subanon,” bisik Elmer Lakandula Palahang, sorang dosen sejarah di Mindanao State University-Main, Marawi City. Sebuah kota yang berjarak 10 jam perjalanan naik bus dari kota Zamboanga. Dia teman sekelas saya di intensive Program di Silsilah.
Pantas saja banyak yang bengong. Karena umumnya masyarakat Zamboanga menggunakan bahasa Cabacano.
Klik. Klik. Klik! Aku membidik 3 kali, snapshot, tapi kurang fokus. Aku membidik sekali lagi. Kali ini close up. Nah, sangat dekat. Eh, tiba-tiba seorang photographer menyenggolku. Hampir saja telentang di lantai batu, untung sempat berpaut di kaki bangku. Bau keringat menghambur ke udara ditiup kipas angin.
Aku menyelip di antara ketiak para penonton. Lelaki itu memutar-mutar beberapa helai daun di kepala Jemes Malicay. James adalah relawan pertunjukan hari ini, dia salah seorang staff Silsilah.
Meski bukan yang terbesar, kata Elmir, populasi Suku Subanon jumlahnya cukup banyak di Philipina. Subanon artinya orang sungai. Mereka dianggap penduduk asli beberapa pulau di Philipina, seperti suku Dayak di Pulau Borneo.
“Beberapa teori mengatakan suku ini dulu bermigrasi dari Pulau Borneo”.
Hmm, jika melihat namanya, suku ini kemungkinan besar adalah perantau. Karena nenak moyangnya sudah mengenal teknologi perahu.
Seekor ayam tiba-tiba dibawa masuk ruangan. Dia meronta-ronta dalam ikatan tali. Pembaca mantra menghunus pisau, siap menggorok. Para penonton tercekat. Aku mundur beberapa tindak, mencari sudut terbaik untuk membidik. Lagi-lagi kesenggol photographer tengik.
“Karena ini hanya contoh, ayamnya tidak dipotong,” kata Timuay dalam bahasa Cabacano. Tapi jambul ayam sudah sempat dikerat sedikit, darahnya tak seberapa.
“Syukurlah”. Aku merasa lega, tapi ayam menciap-ciap lemah. James cuma cengengesan, air campur darah menetes di kepala dan telapak tangannya. Lelaki itu menyeringai puas.
Ia membabtis James, dengan air dan darah ayam. Nah James sekarang memiliki nama suku itu. Sayangnya aku lupa nama James yang baru itu. Ohya sebelumnya, dia juga mempraktikan bagaimana menikah adat ala Subanon. Relawannya Mohammad temanku dari Center for Research and Inter-Religious Dialogue (CRID) dan Jamilah. Jamilah adalah teman Elmir. Mereka bekerja pada Universitas yang sama di Merawi. Mohammad dan Jamilah tukaran cincin, dan saling menyuapi nasi dan telur ayam.
Aku terpesona. Beberapa suku di Borneo juga mempunyai ritus serupa, terutama orang Dayak. Alat peraga adatnya pun mirif. Misalnya daun sabang (Cordyline fruticosa) atau rinyuakng merah untuk acara adat. Malah dia menambahkan ikatan kucai (Allium tuberosum) dan selembar daun lain yang tak kukenal.
Lelaki itu bernama Timuay Bakil Gumandao. Salah seorang tetua adat Suku Subanon. Agak sukar mengingatnya, untung panitia mencatatnya di secarik kertas.
Timuay beraksi lagi tak peduli penonton. Ia tampak ahli. Aku teringat tukang nyangahatn di kalangan Dayak Kanayatn. Bahkan kain penutup kepalanya pun mirif, hanya motif dan warna warni saja yang bebeda.
Aku penasaran. Usai pertunjukan, ditemani seorang penterjemah aku menguntit Timuay pulang ke Kampung Limpapa. Jaraknya 40 kilometer dari kota Zamboanga. Limuay dan keluarganya tinggal di sebuah pantai laut yang bagus, di kaki bukit Paksuluan. Tapi banyak bukit di sekitar situ, termasuk Kamarangan. Lingayun, lipunuk, baga busai, dan lain sebagainya.
Agak sulit untuk mewawancarainya, karena Timuay tak bisa berbahasa Inggeris. Sedangkan aku tak mengerti bahasa Subanon dan Cabacano. Penterjemahku cuma faham Cabacano.
“Sekitar 1000 orang tinggal di bukit,” kata Timuay. Mereka hidup berdasarkan adat istiadat yang diturunkan nenek moyang. Melakukan upacara sepanjang hidupnya untuk menghormati sang khalik, alam dan roh-roh penjaga jagad raya seperti tradisi masyarakat Dayak. Jika Dayak Kanayatn menyebutnya Jubata, mereka menyebutnya Diwata, sementara roh-roh lain disebut apu-apu. Ketika aku memperdengarkan sebuah mantra penjinak lebah Dayak Kantuk Kapuas Hulu lewat HP, dia mencondongkan telinga dekat-dekat.
Karena Subanon juga memiliki mantra menjinakkan lebah, ketika akan mengambil madu. Mulai dari peraga adat, alat musik, gerak-gerik dan beberapa bahasa yang dipakai hampir mirip. Aku makin penasaran, mencoba mengorek beberapa mythology dan cerita lisan, dia bilang memerlukan waktu untuk menceritakannya. Selain itu juga harus memenuhi aturan-aturan tertentu secara adat.
Andai saja aku punya waktu cukup, niscaya aku akan semakin banyak yang aku ketahui tentang suku ini.
Aku pulang ke penginapan dengan perasaan tak karuan. Rasa penasaran yang tak terjawab lunas. Waktu terlalu pendek untuk sebuah keingintahuan, ternyata. Malamnya aku mencari Elmer lagi, dia bilang Suku ini dulunya terpecah menjadi dua. Yang tetap mempertahankan adat istiadat nenek moyangnya disebut Gumabon Gabon, kelompok yang menganut Islam disebut Kalibugan, Moro groups.
Mungkinkah mereka dan nenek moyangku dulu, sama-sama berasal dari suatu waktu, suatu tempat yang entah kapan dan dimana.

MEMBABTIS
Timuay memperagakan ritual pembatisan kepada James, salah seorang staff Silsilah yang menjadi relawan. Meski di Zamboanga berkembang pesat agama Kristen maupun Islam, tetapi adat istiadat mereka tetap dipegang, bahkan mirip dengan kebudayaan Dayang di pulau Borneo. FOTO A. Alexander Mering

Kutunggu Kamu di Santa Cruz

By: A. Alexander Mering

Suatu hari Januari silam, Markus Duan Allo, wartawan Kompas terbang ke Zamboanga. Dia mewawancarai orang-orang di Manila sebelum bertolak ke kota terpencil di ujung selatan Pulau Mindanao itu. Mereka memberinya peringatan, tak terkecuali Henry A Reveche, MNSA, kepala bagian urusan hubungan dan akreditasi media luar negeri, yang menangani kartu identifikasi wartawan asing di kantor sekretariat kepresidenan di Malacanang.
“Kawasan itu penuh dengan penduduk yang terdiri dari berbagai kelompok dan keadaannya sulit diprediksi. Hati-hati, apabila pergi ke sana,” kutipnya.
Tapi aku sudah disini, berdiri tegak di pasir basah pukul 12 tengah hari. Dan yang terpenting aku belum mati, belum diculik atau ditembaki sparatis, seperti yang kerap disiarkan di media Philipina maupun media luar negeri. Aku cuma kehausan!
Kuya, aku perlu air minum”.
Forgive me Bro, saya lupa membawa air dari kantor”.
Dia bicara bahasa Inggris, tapi logatnya seperti tokoh kartun dalam film Speedy Gonzales. Maklum pengaruh Spanyol kental di sini. Namanya Horonato Calugcugan, Kepala Sekolah Dasar yang didirikan oleh Silsilah di pulau ini, tahun1989 lalu. Tapi panggilan akrabnya Kuya Boy. Kuya berarti Abang dalam bahasa Tagalog.
“Pulau ini bagian dari Zamboanga, tapi tak ada sumber air bersih”.
Matilah aku! Teroris pertama yang kutemui di sini justru kemiskinan. Untuk minum saja, penduduk harus menyebrang ke Zamboanga membeli air. Satu galon penuh harganya 2 Peso, setara dengan Rp 450. Setiap keluarga rata-rata menghabiskan 4 galon sehari.
Namun aku masih berharap menemukan coca-cola, atau sprite di sini. Tapi rupanya memang apes, tak satu pun warung di sini menjual minuman. Anehnya cairan cuka berbungkus plastik bergantungan di sana-sini. Orang Philipina dikenal karena bumbu cukanya.
“Dasar orang Philipina, lebih perlu cuka dari pada air minum,” gerutuku dalam hati.
“Bro, kita singah ke rumah pemimpin di sini,” kata Kuya Boy. Dia merasa tak enak hati melihatku mulai mengap-mengap kekeringan. Apalagi angin bertiup cukup kencang membawa hawa panas bercampur amis laut ke daratan.
Kami naik ke salah satu rumah di sana. Sebenarnya cuma pondok yang depannya dicat biru tua. Tapi itulah rumah terbaik yang kulihat di situ.
Asallamualaikum warahmatullahi wabarkatuh,” seru Mohammad. Semua penduduk di pulau ini muslim.
Seorang pria paruh baya berkaus kutang bolong biru nongol di balik pintu. Tanganya ada bekas tato. Ia seorang pensiunan pegawai bank di Zamboanga dan menjadi Community Leader Great Santa Cruz Island. Istilahnya kedengaran keren. Padahal dalam bahasa lokal, disebut Porok. Hamid T Julhani namanya. Mirip nama kebanyakan orang Melayu Pontianak. Jadinya familiar sekali di telinga.
Karena itu aku tak segan-segan meminta segelas air minum. Karena jika ditunda lagi aku pasti semaput. Begitu juga Mohammad. Kami duduk di beranda.
Hanya perlu 25 menit dari dermaga Zamboanga ke pulau ini naik bangkak, yaitu sampan bercadar. Jika 30 menit lagi naik speedboat, niscaya akan sampai di Basilan, pulau tempat pengikut Abu Sayyap dan tentara kerap tembak-tembakkan. Sepulangnya kami dari sana Inquirer—salah satu koran terbesar Philipina—dan media-media setempat memberitakan 10 orang tewas dalam pertempuran antara pasukan pemerintah dengan pengikut Abu Sayyap. Aku mengurut dada.
Jika bom dijatuhkan di sana, anda tinggal berdiri untuk melihatnya. Sangat dekat. Bau mesiunya pun bisa tercium dari Santa Cruz Island.
Pulau ini cuma dihuni 53 keluarga, burung-burung pantai dan 2 ekor anjing tua.
“Anjing itu dulu milik seorang guru,” terang Boy. Meski pemiliknya sudah pergi, tapi penduduk setempat tetap menghormati jasa-jasanya. Karena itu anjing sang guru tetap dibiarkan hidup. Mereka tetap memberinya makan dengan cukup, walau tak menyentuhnya. Pekerjaan utama penduduk pulau ini adalah nelayan selain memanen rumput laut.
Bagian yang paling besar disebut Great Santa Cruz Island dan yang kecil Little Santa Cruz Island.
“Pulau kedua cuma dijadikan pemerintah Philipina sebagai navy resort,” kata Kuya Boy.
Yang tak terlupakan dari pulau ini adalah pasirnya yang selalu basah, berwarna pink muda. Senjanya memikat. Konon bisa membuat setiap orang merasa ingin jatuh cinta. Tentu saja ada kepak burung di kejauhan dan perahu nelayan yang perlahan-lahan tenggelam ke balik cakrawala. Selebihnya adalah hutan mangrove yang tumbuh liar di rawa-rawa.
Karena itu walau ditakut-takuti media, tetap saja ada turis yang nekad datang. Di atas rawa-rawa itulah Suku Badjao atau Samal mendirikan gubuk-gubuk bambunya dan berkeluarga. Prihatin akan keadaan ini, Silsilah lantas mendirikan sekolah bagi anak-anak nelayan di sana. Tiap akhir pekan Kuya Boy datang menjenguk dan mengajar murid-muridnya.
Pantaslah beberapa teman baruku di Kampung Senunuc, cemburu ketika mengetahui kami diberi izin pergi ke sana.
Hamid meyakinkan kalau setakat ini pulau Santa Cruz cukup aman. Masalah utama mereka justru bukan teroris, tapi sumber air bersih dan kemiskinan. Ia berharap ada yang membantu menemukan teknologi murah untuk mengubah air laut menjadi fresh water.
Saat akan pulang kami bertemu 3 warga yang bisa berbicara bahasa Malaysia. Walau terpatah-patah, lumayanlah untuk ukuran orang yang bertahun-tahun meninggalkan Malaysia. Ketiganya dulu pernah bekerja di Sabah. Mohammad tersenyum sumeringah, karena akhirnya ada yang diajak bicara. Sebab dari berangkat tadi dia diam saja. Apalagi President Silsilah Dialog Institute (SDI), Ms. Aminda E. Sano mengingatkan, agar berhati-hati dan tak memotret selama di pelabuhan Zamboanga.
“Demi keselamatan kalian, kami harus ekstra,” katanya, pagi sebelum kami berangkat.
Sehelai daun Sai-sai jatuh. Aku memungutnya sebelum pergi. Sepanjang malam aku berfikir tentang orang-orang di pulau itu dan undangan ke Basilan. Paginya kuterima SMS seorang teman baru dari pulau itu,”I W for U in Santa Cruz”.

LEGENDA
Keindahan pantai pulau Santa Cruz melengenda di seluruh Philipina, bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena letak georgrafisnya yang dekat dengan wilayah konflik, Basilan. A. Alexander Mering dan Horonato Calugcugan berfoto bersama nelayan setempat di pulau itu, beberapa hari sebelum kontak senjata di Basilan yang menewaskan 10 orang. FOTO Mohammad/Borneo Tribune.

Mother Earth dari Zamboaga

By: A. Alexander Mering

Di luar sana Pulau Borneo adalah legenda. Ketika aku mengenalkan diri berasal dari pulau ini, seorang wanita ubanan bersemir coklat menyala buru-buru menghampiri.
“Anda dari Malaysia?”
“Bukan, saya dari Kalimantan Barat, di Borneo juga.”
Dia mengangguk-angguk. Aku menjabat tangannya. Dalam sekejab kami langsung akrab. Saat makan siang dia bercerita tentang mimpinya tentang pulau Borneo. Menurutnya Borneo adalah sesuatu yang sangat menggoda, karena dikenal dengan flora maupun fauna yang endemik.
“Borneo adalah firdaus, dan sangat kaya.”
Wanita ini pasti terlalu banyak membaca buku. Dia tidak tahu kalau pulau ini sedang dihancurkan. Hutannya hampir ludes, ditukar dengan hamparan kelapa sawit dari ujung ke ujung. Siamang dan orangutan dan semua yang ia bayangkan tadi cuma tinggal potret di kalender Dinas Pariwisata.
Aku batuk-batuk kecil. Aroma bunga akasia yang dibawa angin dari laut membuat dadaku sesak, sedih sekaligus gembira. Sedih karena di luar sana, pulau Borneo lebih indah cerita dari pada rupa.
Vanessa, guide saya menjelaskan nenek ini adalah seorang dedengkot pertanian di Silsilah. Dia adalah salah seorang pakar biodynamic agriculture yang dimiliki Philipina. Namanya Mary Josephine. Di Zamboanga ia dijuluki Mather Earth, karena kecintaannya pada tanaman dan lingkungan. Tapi panggilan akrabnya Ate Jojo. Dalam bahasa Tagalog, Ate artinya kakak. Beberapa hari lalu, seluruh staff dan peserta intensive program Silsilah merayakan ulang tahunnya yang ke-51 tahun. Aku Cuma bisa menghadiahkan puisi berjudul Once Upon a Time in Zamboanga. Jojo senang luar biasa. Copy puisi itu kuserahkan pagi-pagi sebelum ia berangkat kerja.
“Saya akan menterjemahkannya dalam bahasa lokal di sini”.
Jojo menenteng puisi itu ke Balunok, kampung dampingan Silsilah. Disana Silsilah membangun sebuah sekolah pertanian yang disebut Escuela del Siembradores, artinya adalah sekolah pertanian. Sekolah ini didirikan untuk mengajari petani setempat menghasilkan produk pertanian organik, tanpa bahan kimia dan pestisida, sekaligus laboratorium Jojo. Sekarang lebih dari 200 petani bergabung dan bekerja sama lembaga itu.
“Kami meyakinkan petani, mulai dari sekolah ini,” kata wakil president of Silsilah Bayanihan Siembradores, Alberto Samson ketika aku mengunjunginya pekan lalu. Kawasan itu berada di atas bukit, dikelilingi ribuan pohon kelapa dan bongkahan batu alam. Mereka menam semua jenis tanaman lokal, termasuk apotik hidup dan Strawberry.
Para petani diajari mengolah produksi pertanian mereka, menjadi bernilai ekonomi tinggi. Mulai dari membuat sabun, obat, herbal, hingga gula-gula.
Suatu pagi kami ngoborol di pendopo dekat pembibitan beberapa tanaman, tak jauh dari bangunan utama Silsilah. Beberapa burung murai melintas di atas kepala.
“Misi utama kami adalah food security”.
Jojo benar. National Geographic edisi Juni 2009 menulis bahwa panen tertinggi sekali pun tidak cukup memenuhi kebutuhan 90 juta rakyat Philipina. Apalagi Indonesia yang memiliki penduduk lebih dari 238 juta jiwa? Aku teringat lagi essay on the Principle of Population yang ditulis Malthus pada 1798. Malthus bilang “Pertumbuhan populasi jauh lebih besar dari kemampuan Bumi menghasilkan makanan dari manusia”.
Tidak seperti para expert lainnya, kantor Jojo sangat sederhana. Tak lebih dari 4 x 6 meter di samping bangunan utama, gedung Oasis Harmony Village, markas Silsilah. Di dindingnya penuh dengan jadwal kegiatan, kalender penaman yang berdasarkan putaran bulan dan planet seperti yang terdapat di Kimberton Hill, Biodynamic Agriculture Calendar. Seperangkat komputer, puluhan file penelitian dan buku-buku tentang pertanian. Dua meja besar penuh dengan keranjang kertas kerja, dan koleksi Jojo. Ada jamur hutan, batu gunung dan kecubung. Tirai jendelanya terbuat dari jalinan cincin rotan menjutai.
Tiang dekat pintu keluar, ditempeli puisi berjudul Footprint yang dilaminanting dan dibingkai.
Kakeknya memang seorang petani di Kagayan Vali, Luzon, yaitu bagian utara Philipina. Tapi ayahnya seorang dosen di Santo Paul University di Kagayan. Karena itu Jojo bisa mengenyam pendidikan tinggi, dan memulai minatnya dengan belajar agriculture business, farm management and agriculture economic di universitas of Philippines. Lantas ia kemudian lebih tertarik pada Biodynamic and sustainable agriculture. Tak puas cuma belajar di Philipina, ia melanjutkan pendidikannya di New Zealand dan Australia.
Dia adalah pekerja NGO tulen, bahkan memutuskan tidak menikah dan bergabung dengan Misionaris in Tioang, Quiezon Provincie. Disanalah dia berkenalan dengan Suster Marion F. Chipeco, RGS yang kemudian memboyongnya ke Silsilah.
Pastor Sebastiano D’Ambera, PIME melihat kemampuan Jojo, dan memberikan fasilitas untuk mengembangkan keahliannya. Bahkan seluruh lahan Harmony Village seluas 14 hektar juga menjadi laboratoriumnya sekarang.
“Saya bergabung dengan Silsilah, karena mereka memiliki konsep harmoni,” katanya. Harmoni juga berarti keharmonisan dengan alam.
Jojo kini tengah meneliti hubungan pertanian dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Karena menurutnya kecenderungan orang sekarang cuma terpaku pada material science tanpa melihat aspek spiritual science.

SIEMBRADORES
Jojo membantu para petani belajar dan mempraktikan pengetahuannya. Saat kunjungan ke kawasan pertanian Escuela del Siembradores, aku dan Mohammad menyempatkan diri berfoto bersama Jojo dan wakil presiden Silsilah Bayanihan Siembradores di Baluno, Alberto. FOTO Bong/Borneo Tribune.