Kunang-kunang Terbang

By: Wisnu Pamungkas

Kunang-kunang takdirnya adalah terbang
Tak perlu kau ajari dia cara mengepakkan sayap

Meski tak pernah bicara tentang cahaya
Tapi ia tetap mengenal baik hakikat terang dan gelap

Liang Kunang-kunang, 9 Juni 2009

HARI JADI DAN SAJAK CINTA

by Wisnu Pamungkas

Mungkin dia tiada nama, tapi dia bahkan menguasai langit
Mungkin dia tanpa keluarga, tapi dia disayang setiap orang
Mungkin dia tak punya apa-apa, tapi semua orang datang meminta ke padanya
Mungkin dia tak dikenal sesiapa, tepi bahkan orang buta pun menyapanya
Mungkin dia tiada dada, tapi setiap orang merasakan jantungnya berdetak
Mungkin dia tak pernah diundang ke sebuah pesta,
tapi dia menjamu setiap orang dengan cinta
Dia memang tak ada waktu,
tepi dia selalu memberi peluang pada setiap orang
Dia hadir tanpa tanggal lahir,
tetapi setiap orang merayakan hari jadinya
Dia adalah cinta

Kuala Kapuas, 20 April 2009

Surat

by. Wisnu Pamungkas

Kamu tahu dari mana asal hujan mericik?
cuaca tanpa keluarga, tapi menguasai langit?
Kamu pasti tidak tahu,
sebab saat itu kamu sedang pesta
sementara aku gemetar, tersaruk-saruk dalam cuaca bersama Herodes pukimak itu
Ia terus saja memaki
setelah tahu Jesus orang nazaret itu mati di kayu salib

Jembatan Kuala Mandor B
11 April 2009

CINTA ILUSTRASI 1

by Wisnu Pamungkas

Pada suatu senja, yang entah kapan dan dimana. Orang-orang berjalan ke suatu tempat dan menemukan waktunya sendiri. Dunia masih sangat muda kala itu dan cuma terbungkus sehelai handuk hangat. Semua orang terpesona.
Tampa malu-malu mereka berbicara satu sama lain.
ā€œInilah cinta sesungguhnya.ā€

Pontianak Timur, 23 Maret 2009

Narasi Telinga

By Wisnu Pamungkas

Periksa satu telinga
maka akan kau temukan talas
mengeras
tradisi yang diwariskan lisan
meluruk menjadi hujan
dan kemenyan tanpa tawas

Periksa satu telinga
terngiang-ngiang dalam gantang
mencari sunyi,
sunyi, sebuah gambar hati di tumpukan kertas

Periksa saja satu telinga
ada keluh yang membunuh
ada doa yang menyembuhkan

Hotel Peony, 14 November 2008

SINGKAWANG

by Wisnu Pamungkas

seharusnya,
tak kukisahkan lagi padamu
tentang kubur terkukur,
toko kelontong dan vihara
yang terapung di antara delta,
bukit-bukit dan samudera raya

Seharusnya
aku tak memberitahukan padamu
tentang gemerisik pucuk-pucuk bambu,
kisah tapal dan tambat kuda
di pusat kota yang hinggar bingar

tak seharusnya
kukatakan lagi, tentang bandar yang sibuk itu
tempat penambang dan pedagang bertemu
menjelma kedai dan tirai-tirai

CARA PULANG

by Wisnu Pamungkas

Di terminal ini,
orang-orang seperti ziarah
sebuah musim yang timbul-tenggelam dalam pusaran
waktu mengapung seperti asap tanpa tudung

Di terminal ini
sesungguhnya identitas telah mati
hanya nomor dan kakulator
yang tak henti-hentinya membiak menjadi sebuah lorong

Di terminal ini
gelisah mereka telah dikubur
walau nisan-nisan baru terus tumbuh
mencari liang yang lama hilang

Pukul 9.45 AM
Terminal Batu Tiga, Kuching