Perkakas ‹ WISNU PAMUNGKAS — WordPress

Iklan

Bayangan

by A. Alexander Mering

Matahari sore yang menembus kaca nako jendela, memberi bayangan kotak-kotak di dinding. Seekor semut merayap mendekati screen computer yang sedang menyala, di samping kaca jendela itu. Bayangan semut terseret memanjang di dinding seperti seekor dinosaurus.
Saya tersentak kaget, bisakah ide kecil tentang sebuah koran lokal di Kalbar ini mengejawantah seperti bayangan?

Paris, April 2007

(Catatan baru ditemukan kemarin)

Dia yang Menjadi Sahabat

by A.Alexander Mering

Setiap kali datang, dia selalu membawa cerita kesuksesan. Minimal seulas senyum. Bahkan ketika perut keroncongan sekali pun! Ketika di PHK dari tempat kerja, Dia malah mentraktir teman-teman senasib. Seakan-akan, tak ada satu kekuatan pun di dunia yang bisa menghalanginya untuk selalu bahagia.
Kehadirannya tak ubahnya sebuah kincir angin yang menggerakan generator kehidupan. Sehingga setiap ada di antara kami yang semangatnya meredup, dia akan hadir sebagai charger yang energy-nya meletup-letup.
Karena itu, baginya tak ada yang salah dengan kehidupan. Tuhan sudah menciptakan segala sesuatunya dengan sempurna. Penderitaan dan rasa sakit adalah ciptaan manusia sendiri, dan bila harus mengalaminya, maka itu hanyalah sebuah proses mencapai moksa. Menjalani, melewati dan bergumul sungguh-sungguh dengan kehidupan adalah ibadah tertinggi seorang manusia.
Karena Itu, setiap kali datang ia selalu membawa cerita dan berulas-ulas senyuman penuh harapan nyaris kepada siapa saja.

Villa Ria Indah, 21 Juni 2006

Pesan Dhiman Abror untuk Borneo Tribune

Salam, Mas Andreas, sungguh saya terharu mendengar teman-teman eks Equatormendirikan Borneo Tribune dengan semangat yang menyala-nyala. Saya bisamerasakan perasaan teman-teman itu karena saya pernah mengalaminya.Saya hanya titip satu hal kepada Mas Andreas untuk disampaikan kepadateman-teman: idealisme yang menyala-nyala harus tetap dibarengi dengandisiplin manajemen yang ketat (terutama di sektor keuangan). Dalam banyakkasus, semangat ‘kebersamaan dan kekeluargaan’ yang sangat kental akanmembuat teman-teman kurang disiplin dalam manajemen.Saya kira Mas Andreas punya pengalaman dengan Pantau. Bagi teman-temanBorneo Tribune, disiplin manajemen adalah mutlak. Satu hal yang harusdiingat oleh teman-teman adalah doktrin Jawa Pos dalam persaingan yangbunyinya: …..(sensor)…..Ini pasti akan dialami oleh teman-teman Borneo Tribune.Saya ingin mengucapkan selamat berjuang kepada teman-teman BorneoTribune. Semoga sukses. (By the way, jangan memendekkan Borneo Tribune menjadi BT, karena bisa-bisa menjadi bete betulan…) Salam

TANIAH ATAS KELAHIRAN BORNEO TRIBUNE

Sdra,
Pertamanya saya ucapkan tahniah kepada pengurusan dan tenaga pengarangBorneo Tribune kerana telah berjaya melahirkan keluaran sulong akhbar ini. Sayaberharap akhbar ini berjaya memuatkan berita, analisis berita, rencana serta seluruhkendunganya yang memenuhi citarasa pembaca di Pontianak amnya dan seluruh Kalimantan amnya. Indonesia mendepani negara-negara Asean yang lain dalam soal kebebasanakhbar. Saya sangat cemburu dengan anda dalam hal ini. Tetapi kebebasan mesti diiringirapat dengan tanggungjawab. Sidang ridaksi Borneo Tribune tentu lebih arif dalam hal ini. Bagi saya peranan akhbar yang lebih penting menyebarkan maklumatsupaya masyarakat kita dapat maklumat yang baik dan menggunakan maklumat ini untuk membangundan memajukan diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara. Saya berharap Borneo Tribune dapat berperanan memupuk kerjasama lebiherat antara Kalimantan, Sarawak, Sabah dan Negara Brunei, supaya wujud kerhormanian dankerjasama yang lebih erat antara rakyat, golongan usahawan, kerajaan di keempat-empat wilayah Borneoini supaya pulau ini lebih aman dan makmur.

MAWI TAIP
*) Pensyarah di Jabatan KOmunikasi dan Media, Curtin University of Technology, Malaysia.
Kerja sebagai journalis selama 15 tahun termasuk di Pertubuhan BeritaNasional Malaysia (Bernama) (sama seperti ANTARA di Indonesia) selama 15 tahun sebelum menjadipensyarah.

KELAHIRAN BORNEO TRIBUNE

Oleh A.A Mering

Saat Launching koran Borneo Tribune, penat yang mencincang tubuh selama berbulan-bulan, untuk persiapan kelahiran koran ini seakan menguap diterbangkan angin. Kelaparan, stress dan letih, rasanya telah terbayar lunas oleh kelahirannya. Padahal pasca pengusiran kami dari Equator, Borneo Tribune hanyalah secercah mimpi, sebuah khayalan yang samar di benak kami. Rasanya seperti ingin berteriak keras-keras, ketika launching di geber di Pontianak Convention Center (PCC) 19 Mei 2007 kemarin.
Aku benar-benar tak bisaa menahan air mata, mana kala Pemimpin Redaksi kami, H Nur Iskandar berpelukan dengan H Halim Ramli di atas panggung. Halim Ramli adalah Wartwan Senior Kalimantan Barat, perupa dan juga mantan Pimpred Pontianak Post. Selain berpelukan dengan Halim Ramli, Nur Is juga memeluk seorang penulis senior Kalbar, di saksikan tak kurang dari 500 pasang mata para undangan. Mulai dari Pejabat daerah, Muspida, pebisnis di Kalbar hingga Puluhan wartawan dari berbagai media.
Aku tak mampu menatap drama itu lebih lama, sebelum ada yang melihat, buru-buru aku menurunkan Kamera SLR Olympus yang kupakai mengabadikan peristiwa tersebut dan lari ke toilet, mencari air untuk membasuh muka.
Meski lelaki, dalam hidup aku sudah puas menangis, tetapi menangis untuk sebuah mimpi baru kali inilah aku tak berusaha menahannya dengan sungguh-sungguh. Bagi aku, Halim Ramli adalah simbol generasi tua pers di Kalimantan Barat. Ia pernah memimpikan di Kalbar punya koran lokal berkualitas dan serius. Sedangkan Nur Is adalah simbol generasi muda Kalbar yang melanjutkan estafet mimpi yang belum sempat dilanjutkan Halim.
Kiranya cukuplah untuk hari ini. Mimpi dua generasi dipertemukan pada launching Borneo Tribune 19 Mei lalu. Babak pertama mimpi ini sudah sampai pada batas, kini kami membangun mimpi baru yang lebih besar lagi. Mimpi tentang Borneo Tribune yang di baca oleh setiap penduduk negeri. Kami lahir di Borneo, dari Borneo untuk Borneo dan juga untuk semua mahluk di planet ini.

KABAR KELAHIRAN BORNEO TRIBUNE

Salam Journalist
Kepada rakan-rakan anggota sindikasi dan alumni Pantau di seluruh dunia dan dimana pun anda berada.

Mewakili 6 Alumni Pantau di Pontianak mengabarkan bahwa akan dilakukan launching atawa perasmian terbitnya koran harian Borneo Tribune di Gedung PPC, Pontianak, Sabtu 19 Mei 2007 mendatang. Bagi rakan-rakan yang suka rela mahu datang, kami tentu akan sangat senang hati.

Harian kami ini didikan dengan Visi: Idealisme, Keberagaman dan Kebersamaan. Dengan semangat itulah koran ini dibangun.
Pendirinya adalah para Alumni Pantau yang ada di Pontianak, termasuk saya yang di PHK dari Harian Equator, salah satu koran group Jawa Post di Pontianak. Kami melakukan riset sekitar 6 bulan, dalam membidani koran ini. Nasihat dari Mas Andreas Harsono telah banyak membantu dan turut mematangkan mimpi kami untuk membangun koran Daerah yang Idealis dengan mengedepankan semangat di atas.

Headmaster kami menggunakan huruf atau font Old English Text MT, seperti yang dipakai oleh Harvard Courant atau Bisnis Indonesia. Kami memilih nama Borneo Tribune karena kata Borneo dalam pendekatan sejarah lebih dikenal ketimbang nama kalimantan. Dalam literatur dan kepustakaan dunia, kata Borneo juga lebih tua dari pada Kalimantan. Nah nama Tribune, lebih dimaksud pada pengertian pentas atau panggung. Selain itu kata Tribune juga sudah tidak asing lagi bagi masyarakt dunia tanpa maksud mengacu pada nama sejumlah koran yang selalu diakhiri dengan kata Tribune, seperti halnya Sarawak Tribune atawa tribune-nya group Kompas.

Jadi Borneo Tribune yang kami maksud adalah Pentas Kalimantan dalam penafsiran yang seluas-luasnya.
Di antara kata Tribune dan Borneo kami sisipkan logo burung Enggang Gading yang distilir (Buceros/rhinoplax vigil) yang kini sudah sangat langka . Burung tersebut khas pulau Borneo dan bahkan oleh Pemerintah Kalimantan Barat telah ditetapkan sebagai maskot Pemrpov Kalbar. Tetapi kami mendesign Enggang ini dengan unik, seperti harmoni garis yang melambangkan lekukan dan ukiran serta motif beberapa etnik di Kalimantan.
Bagi beberapa sub suku masyarakat Dayak, burung Enggang ini layaknya naga pada masyarakat Tionghoa. Orang iban menyebutnya kenyalang, mahluk mitologi yang berparuh kuat dan anggun serta sangat setia pada pasangannya. Itulah alasan kami memilihnya menjadi logo koran Borneo Tribune.

Rubrikasinya kami atur seapik dan seidial mungkin dan di-maping. Yang masuk dalam rumpun ekonomi dikelompokkan sendiri, yang sosial budaya demikian juga dan seterusnya. Persis ketika kita akan belanja ke Supermarket, langsung dipandu ke tempat yang diinginkan, mana lorong yang menjual pakaian dan mana yang menjual peralatan dapur.

Tahap awal kami terbit 24 halaman setiap hari. Salah satu debutan kami adalah rubrik yang menyajikan berita human inters berikut gerakan amal melalui tiap eksemplar koran yang terjual, Rp 25 akan kami sumbangkan untuk dana kemanusian. Namanya rubrik filantrofi. Selain itu ada Halaman Pandora yang khusus menyajikan hasil-hasil liputan dan penelitan dan tulisan tentang kearifan lokal masyarakat di bumi Borneo: kebudayaan, adat istiadat dan sebagainya.

Dari riset kami, lebih dari 60 persen responden minta adanya halaman pendidikan. Karena itu kami menyediakan 2 halaman khusus untuk pendidikan.
Sedangkan edisi minggu kami mengandalkan laporan khusus 8 halaman untuk satu tema.
Setakat ini kami bekerjasama dengan Antara, AFP, Reuters, Pustaka Putra Kenyalan Malaysia, dan tentu saja ingin menjalin kerja sama dengan seluruh anggota sindikasi Pantau dimana pun berada.

Kami juga berusaha semampu mungkin untuk menerapkan genree narative Reporting. Karena itu kami juga punya slogan : Menyajikan berita dengan gaya bercerita. Tahap awal kelahiran mungkin tak semudah keinginan, tapi kami akan terus berikthiar dan berusaha mewujudkan slogan tersebut. Kelak edisi print memang untuk berita dengan gaya cerita. Sebab kami tidak mengedepakan kecepatan, tetapi pada ketepatan dan akurasi. Sebab jika mengandalkan kecepatan koran tak bakal mampu melawan televisi atau media elektronik lainnya. Nah, bagi pembaca yang menginginkan berita terbaru setiap hari, ia bisa membaca di website Borneo Tribune : http://www.boneo-tribune.com. Boleh lewat PC kantor, PC rumah laptop maupun telepon bimbit alias HP. Namun situs ini baru dapat dibuka pada saat launching nanti.

Gerakan struktural kami mulai dirintis secara kecil-kecilan, melalui program
Diskusi Sabtu Pagi dan Borne Tribune Institute.

Nah untuk proses produksi kami mengandalkan mesin web merk Goss Comunity dengan kapasitas 15 ribu perjam yang dibeli sejak 3 bulan lalu.

Sekian informasi saya buat dan lewat diskripsi yang terbatas ini saya atas nama teman-teman mohon doa restu. Kami melakukannya karena kami yakin dan percaya bahwa kami bisa.

Salam
A. Alexander Mering